Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
23. Menghadap


__ADS_3

Aziel sudah tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Sistem. Kali ini ia memilih beberapa roti, ditambah satu kotak UHT yang sangat ia butuhkan. Tubuhnya sedikit mulai gemetar duduk di kantin memaksa masuk semua makanan tersebut sebelum bel berbunyi.


Teeet


Teeet


Teeet


Suara bel berulang tiga kali itu menandakan bahwa sudah waktunya untuk masuk kelas. Usai semua makanan itu berpindah posisi ke dalam lambungnya, ia pun beranjak menuju kelas. Sepanjang menyusuri koridor kelas, sepanjang itu pula ratusan pasang mata memandanginya. Baik siswa laki-laki, mau pun siswa perempuan.


Berita tentang kawanan Dandy dikalahkan oleh Aziel begitu cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Kawanan Dandy yang tadinya dipimpin Yuda tak berani menampakan diri setelah dikejar oleh Aziel. Sekementara kaum putri menatap Aziel dengan tatapan penuh kagum.


"Aaah, dia ganteng banget. Kalau tau dia sebenarnya seganteng itu, gue udah buang malu sejak kemarin. Gue embat aja meski dia maling," celetuk salah satu siswi.


"Ah, gue duluan. Dia teman sekelas waktu kelas sepuluh dulu!" seloroh gadis yang lain.


Namun, Aziel dengan santai berjalan di antara tatapan-tatapan orang lain. Jiwa yang bersemayam dalam tubuh itu sudah terbiasa menghadapi tatapan itu. Dulunya, Arsen adalah seorang dokter bedah, yang selalu diharapkan oleh keluarga pasien kaya raya.

__ADS_1


[ Bagaiamana, Bung? Enak jadi tontonan berasa artis? ]


'Berisik!'


Tiba-tiba, dari arah belakang muncul seseorang yang langsung merangkul Aziel. "Nah, ternyata aman aja kan?" Joki telah merangkul pundak Aziel mengikuti langkah kaki temannya itu.


Aziel melirik tangan yang bersandar pada pundaknya, dengan santai disentil oleh jemari Aziel, tetapi membuat bocah itu oleng hampir terjatuh. Semua orang memperhatikan tingkah mereka dan yang searah berjalan mengiringi Aziel dan Joki di belakang.


Joki menyadari banyak siswi yang terus memandangi Aziel. Hal ini tentu membuat Joki merasa heran. "Hei, kenapa liat-liat? Gue ini emang ganteng banget semenjak dari orok."


Aziel pun sudah lebih dahulu masuk ke dalam kelas. Dan benar, suasana semakin riuh saat memasuki kelas. Kali ini, tampak guru pria bernama Santoso mambaca salam berdiri di pintu. Ia mengajar mata pelajaran Matematika, dan sekaligus menjadi perangkat sekolah, wakil kepala sekolah. Ia masih teringat akan pesan kepala sekolah untuk menyuruh Aziel menemui beliau. Karena, Bu Intan tidak berhasil membawa Aziel menghadap.


Setelah berdoa seperti biasa di awal pelajaran, tanpa basa basi, Pak Santoso meminta Aziel untuk menemui kepala sekolah. Aziel tersentak dengan panggilan tiba-tiba itu. Akan tetapi, ia memilih untuk tidak berontak dan patuh pada perintah sang guru berwibawa itu.


Setelah dipersilakan, Aziel menuju ruang kepala sekolah, dan mengetuk pintu tersebut. "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam," jawab seseorang yang berada di dalam. "Masuk!"

__ADS_1


Aziel membuka pintu tersebut, ternyata di sana ada satu orang yang masih diingatnya. Remaja yang ingin menggilasnya dengan sengaja, dan setelah itu menyerangnya tiba-tiba. Anak bernama Dandy itu, sedang duduk di sebelah pria dewasa berusia berkisar lima puluh tahunan. Tangan Dandy, sedang terikat pada arm sling yang tergantung di lehernya.


"Silakan duduk!" ucap kepala sekolah yang biasa dipanggil dengan Pak Zal.


Aziel memilih bangku yang tidak bergabung dengan siapa pun. Beberapa waktu suasana ruangan itu menjadi sunyi.


"Ekhemm ...." Pak Zal akan memulai pembicaraan. "Kamu yang bernama Aziel kan?" Aziel tidak menjawah, tetapi bahasa tubuhnya mengakuinya tanpa bicara.


"Kamu lihat sendiri, keadaan anak saya kan?" ucap pria paruh baya di samping Dandy.


Aziel melirik ke arah Dandy, tetapi Dandy menatapnya dengan senyuman sinis.


[ Kamu tatap saja bola mata mereka satu per satu, maka urusan akan beres! ]


Aziel mengikuti perintah Sistem. Yang pertama kali ia lakukan adalah menatap Pak Zal, sang kepala sekolah. "Kalau begitu, kenapa saya dipanggil, Pak? Ada apa?"


Saat akan menjawab pertanyaan Aziel, Pak Zal menatap bola mata Aziel secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2