Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
35. Sultan Dadakan


__ADS_3

Teriakan itu terdengar sampai keluar oleh seorang siswa yang menggunakan gips pada tangannya hingga membuat dia tertarik untuk mengintip orang yang dimaksud. Dan benar, ternyata dia adalah anak yang selalu membuatnya merasa risih dan jijik.


"Namun, kenapa kali ini penampilannya berbeda?" gumamnya didengar oleh kawan-kawan yang mengelilinginya.


Tiba-tiba, Aziel keluar dari perpustakaan. Dandy menanggapi dengan wajah heran melongo tapi tak tau harus seperti apa. Sementara itu, kawan-kawannya yang lain seakan bersembunyi di balik Dandy.


"Hajar, Bro! Masa lu kagak inget kalau dia yang bikin tangan lu patah? Kalau gue jadi elu, udah gue panggil tukang pukul buat dia menyesal."


Aziel menatap orang-orang di sekitar Dandy satu per satu. Ia paham, alasan wajah bingung yang dipasang oleh Dandy. Apalagi kalau bukan hipno yang baru dilakukannya kemarin. Tanpa ada niat untuk menakut-nakuti Dandy dan kawan-kawannya, kebetulan sekali di tangannya masih menggenggam uang, Aziel membagi-bagikan uang tersebut kepada anak-anak ini.


Meski pun uang itu mereka terima, kawanan Dandy terlihat saling sikut dan menggerakan alis naik turun. Setelah semua dibagi, Aziel berjalan menjauh dan membagikan uang yang ia miliki terhadap siapa pun yang lewat.


"Kenapa tu anak tiba-tiba jadi Sultan dadakan?" salah satunya mulai menghitung lembaran uang merah yang didapatkan. "Eiiyy, gue dapat lim lembar."


"Lah? Kok bisa? Gue cuma dua lembar?"


"Gue dong, sepuluh lembar," sorak yang lain.


Sementara itu, Dandy masih mematung memegang selembar uang yang diberi Aziel. Uang itu diremuk dalam genggaman dan Dandy melemparnya ke lantai dengan kasar.


"Loh? Kok dibuang?" Lalu, kawannya yang mendapat dua lembar tadi memungutnya dan merapikan uang itu kembali. "Buat gue aja kalau gitu, mayaan jadi tiga kembar."


Dandy menatap tajam pada semua anggotanya yang terlihat sumringah berkipaskan uang pemberian Aziel. "Lu pada ya? Bener-bener gak tau diri! Baru duit segitu aja udah lupa pada misi kita untuk hancurin tu anak."


Para anak buah melirik Dandy dengan wajah remeh. "Eh ya, soalnya lu kagak pernah kasih kamu duit tunai kayak gini. Beraninya pamerin rubicoon doang. Apaan tu, gak bisa kami jilat."

__ADS_1


Semua anggotanya menganggukan kepala setuju. Lalu saling kode dan menganggukan kepala.


"Yuk aah, nanti bisa buat pasang knalpot racing buat motor gue," celetuk kawannya balik kanan.


"Gue mau pasang chip menang game online."


"Gue buat makan-makan sampai puas."


Para kawanan tadi mulai bubar meninggalkan Dandy. Raut wajah Dandy mengerut, rahangnya pun mengeras, dan napasnya memburu. "Awas kau sultan dadakan! Kita lihat, duit siapa lagi yang kali ini lu curi?"


Tiba-tiba, sekolah heboh mendapat pembagian uang oleh Aziel. Meskipun jumlah yang mereka dapat tidak sama, ini sungguh menjadi fenomena aneh bagi mereka. Namun, mereka memilih tidak ambil pusing dan mengelukan Aziel yang kini dianggap begitu menawan dan kaya layaknya sultan


"Azieel, boleh minta nomor hapenya?"


"Azieeell, gue mau jadi temen deket lu!"


Aziel berjalan di antara sorakan dan wajah kagum. Tak sedikit yang memgikutinya di belakang tanpa ia sadari. Namun, ia memilih masuk ke dalam kelas.


Ketika pulang sekolah, Dandy berjalan beriringan dengan kekasihnya Gisel. Namun, tatapan Gisel tak lagi untuknya. Gisel melirik seorang siswa yang berjalan berdua dengan temannya, tetapi di belakang mereka begitu ramai diikuti oleh siswa lain.


"Walaupun dia maling duit aku beberapa hari lalu, tetapi kai ini pesona Aziel begitu berbeda."


Dandy tersentak mendengar pernyataan Gisel yang terus menatap Aziel dengan rasa kagum. "Bisa nggak fokus sama aku aja? Dia habis maling duitmu? Kapan?"


Gisel memutar wajahnya kembali. "Lah? Kok kamu lupa? Bukannya beberapa hari lalu kamu dan kawan-kawanmu baru saja menghajarnya?"

__ADS_1


Wajah Dandy semakin gusar dan terlihat penuh amarah. "Atau jangan-jangan, dia lah yang menyebabkan tanganku ini patah seperti kata anak-anak penhil1anat itu?"


Gisel melirik Dandy dengan wajah herannya. "Masa kamu lupa? Waktu itu kamu nangis-nangis cerita tanganmu patah dan harus digips gara-gara si maling Aziel."


Tangan Dandy yang sehat mengepal dan bergetar. "Awas kau anak anjeeng! Gw akan membalas dengan cara yang lebih k3ji!"


Di luar sekolah Aziel melirik satu pria yang terus memanjangkan leher seakan mencari-cari dirinya. Aziel sangat mengenal wajah itu. "Kano?"


"Bro, ayo kita pulang!" Joki memberi kode agar mengambil motornya.


"Kau pulang duluan saja! Saya ada urusan!"


"Dih? Lagak?" sindir Joki menuju motornya.


Sementara Aziel berjalan mendekati Kano. "Ada apa?" tanyanya.


"Tuan Muda, kami kebingungan tidak memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan. Biasanya, tiap hari saat bersama papamu, kami selalu bekerja. Tiba-tiba, setelah papamu meninggal, kami benar-benar merasakan banyak kehilangan."


Aziel menatap Kano dengan tenang. "Baik lah, kau akan saya beri tugas untuk menjadi Om, saya. Ayo kita mulai bisnis!"


Kano ternganga mendengar ucapan Aziel barusan. Aura seorang Arsen begitu kental dirasakannya. "Bisnis? Jangan bilang kamu tahu apa bisnis papamu dulu."


"Ekhemmm, bukan itu! Ayo mari menuju jalan hidup yang lebih baik. Kalian semua harus bertaubat! Kemarin kita semua bisnis organ manusia, kali ini ayo kita bisnis ayam goreng!"


Kano kembali tersentak. Ia tak menyangka bocah yang menghilang belasan tahun di saat masih kecil mengetahui pekerjaan sang ayah di masa dahulu. "Ayam goreng?"

__ADS_1


Aziel mengangguk mantap. "Ayo kita bisnis halalan toyiban. Kita bisnis ayam goreng gratisan buat semua orang!"


__ADS_2