Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
38. Joki Belum Pulang?


__ADS_3

"Iya, senyum memang ibadah. Tapi bukan senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Senyum itu di hadapan sesama manusia lah, baru bisa menjadi ibadah."


Aziel sedikit berdehem. Lalu mencoba tersenyum tepat di hadapan Kirana, sang gadis berkerudung, putri bungsu Ustadz Syahrul.


"Apakah seperti ini?" Aziel memasang wajah senyum lebarnya, tetapi matanya kembali melotot. Bola mata coklat itu seakan menyembur ingin keluar.


"Iih, senyum apaan tuh? Matanya jangan dibesarkan kayak gitu! Yang ada orang akan takut!" protes Kirana.


Aziel mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kalau begitu, bagaimana jika begini?" Aziel mengendorkan mata, dan senyum kali ini tak dipaksa lagi.


Kirana yang memperhatikan senyuman laki-laki tampan sebaya dengannya ini, tiba-tiba merasakan panas dingin melihat senyuman itu. Kirana menundukan wajah, merasa jantungnya tak bekerja norma seperti biasa, dan kedua pipinya terasa panas.


"Bagaimana? Benar kayak ini?" tanya Aziel yang membutuhkan penguatan.



Kirana melirik senyuman itu kembali. Melihat senyuman itu, refleks menundukan wajahnya lagi. "I-iya kayak gitu." Suara Kirana terdengar bergetar

__ADS_1


Aziel membuka menutup bibir dan menekan kedua pipinya. "Ternyata, senyum itu susah ya?"


Kirana membelakangi Aziel. "E-enggak susah kok. Kudu dibiasakan aja!" Kirana melanjutkan rencananya masuk ke dalam mesjid. Tangannya sudah memegang Quran dan memang begitu lah setiap hari.


Aziel kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu bagian terakhir, halaman mesjid. Dari dalam mesjid, semenjak tadi ada sosok yang terus memperhatikannya. Namun, ia lebih memilih untuk diam memperhatikan sedari jauh.


Beberapa waktu kemudian, Aziel telah menyelesaikan pekerjaannya. Azan Ashar terdengar berkumandang, ia begitu mengenal si pemilik suara ini yang tak lain adalah milik Ustadz Syahrul.


Kedua tangannya terasa begitu kotor. Peralatan kerjanya ditaruh di pojok bagian halaman, dan ia segera menuju tempat berwudhu. Sejenak Aziel mengendus pakaiannya yang telah banjir oleh keringat.


"Apakah aku masih dibolehkan salat meskipun menggunakan pakaian penuh keringat ini?"


Aziel menganggukan kepala. Ia merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya ini. Ia berencana untuk kembali saja ke rumah mengganti pakaian.


"Aziel!" Ustadz Syahrul sudah selesai mengumandangkan azan.


Melihat Aziel berlari seperti akan meninggalkan mesjid ini. Lelaki muda itu telah menghentikan langkah menoleh ke arahnya. Aziel berlari kecil mendekat dan menundukan kepala.

__ADS_1


"Mau ke mana? Bukan kah kamu sudah mendengar panggilan untuk salat?"


Aziel menjepit pakaian yang terpasang pada tubuhnya. "Pakaian saya sudah basah oleh keringat, Pak Ustadz. Jadi, saya ingin mengganti pakaian dulu di rumah."


Ustadz Syahrul terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ia menarik lengan Aziel mengajak menuju tempat berwudhu.


"Kamu perlu tahu lebih dalam lagi mengenai ilmu fiqih. Jika pakaian kotor karena terkena keringat, maka kamu masih dapat memakainya untuk salat dan tentu akan sah salatnya. Akan tetapi, jika baju kamu bersih walaupun belum dipakai namun telah terkena najis, lalu dipakai shalat, maka shalatnya tidak sah."


Aziel mengangguk paham. "Baik, Pak Ustadz. Terima kasih untuk ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah selalu memberkahi Anda," doa Aziel tulus.


Ustadz Syahrul kembali terkekeh menepuk lengan lelaki muda itu. Mereka pun berwudhu dan langsung melanjutkan pelaksanaan salat berjamaah. Usainya, Aziel tak berlama-lama pamit untuk pulang.


Sementara itu, dari kejauhan, seorang gadis remaja terus memperhatikannya dalam diam. Senyuman manis terukir di bibirnya. Hal ini kembali diperhatikan oleh sang ayah.


"Ekhem ...."


Kirana langsung menundukan wajah memasang wajah kaku.

__ADS_1


Aziel membawa peralatan kerjanya kembali ke rumahnya. Kendaraan Joki masih belum terlihat. "Anak itu masih belum pulang juga? Apa dia keluyuran, karena memiliki motor baru?"


[ Dia sedang dalam sekapan Baron, sindikat pencuri yang menjadikan anakmu pencuri! ]


__ADS_2