
*Sengaja kasih label t*m*t, soalnya level karya ini anjlok. Jadi, jika dapat label tamat, noveltoon akan bantu promosikan karya ini bisa membuat viewnya jadi lebih banyak. Gara-gara lebaran kemarin, banyak bolong update membuat level authornya anjlok 🙏😭*
...****************...
Suara parau Aziel, mampu membuyarkan suasana riuh redam yang dibuat para pria berwajah sangar tersebut. Kini di sana terasa sunyi karena tak ada lagi yang berani protes.
"Saya hanya bermaksud untuk menyampaikan kepada kalian, betapa sedihnya di saat kita meninggal tetapi tak satu pun keluargamu yang masih tersisa mengetahuinya. Setidaknya kalian masih memiliki kesempatan untuk bertaubat! Selama jantung masih bisa berdetak, dan menikmati oksigen yang bisa kalian raup sesuka hati, selama itu pula pintu taubat untuk kalian bisa terbuka."
Aziel menghembuskan napas kasar. "Jadi, atas nama Arsenio Wijaya, meski tubuh muda ini yang berbicara, dengan sungguh-sungguh aku berharap, agar nasib kalian tidak sama dengannya. Jadi lah lebih baik. Setidaknya Allah menyayangi orang yang pernah kufur, tetapi m4ti dalam keadaan beriman."
"Dari pada, sepanjang waktunya beribadah, tetapi meninggal dalam keadaan kufur."
Tak sedikit para mantan mafia itu sesegukan karena tamparan yang diberikan pria muda yang akhir-akhir ini memimpin mereka. Kano menarik lengan bajunya mengusap ingus yang mengalir karena diam-diam, hatinya tertohok oleh kek3jaman masa lalu yang telah ia perbuat.
"Tuan Muda, tolong bimbing kami. Kami tak ingin masuk neraka. Setidaknya jika kami masuk neraka, jangan masuk di jahanam."
Semua yang ada di sana mengangguk setuju. "Ngomong-ngomong, neraka yang berada di tingkat paling ringan neraka apa sih? Kalau surga tidak mau menerima gue, gak apa lah gue masuk sana."
__ADS_1
"Tunggu, gue tanya mbah gugel dulu." Pria itu langsung seraching menggunakan ponselnya. "Nah, ini. Neraka paling ringan namanya neraka Hawiyah. Diperuntukan bagi orang-orang yang timbangan amalnya ringan. Yakni mengerjakan perintah-Nya sekaligus larangan-Nya."
"Waaah, ternyata ada neraka yang cocok untuk kita?" sorak kawannya yang ikut membaca.
Lalu kericuhan pun terjadi kembali. "Syukur lah, ada neraka yang seperti itu."
Aziel menepuk keningnya menggelengkan kepala merasa pusing karena tingkah para anak buah. "Kenapa kalian tidak berharap masuk surga? Kenapa harus neraka?"
"Begini Tuan Muda. Kami sangat tahu diri dengan segala dosa yang telah kami lakukan. Kami rasa, berapa pun usaha untuk memperbaiki diri, sepertinya timbangan amal kebaikan kami tidak akan lebih berat dibanding amal buruk yang kami perbuat selama di dunia."
"Benar Tuan Muda, setidaknya di neraka yang itu, siksaan yang akan kami dapat tidak separah jahanam."
*
*
*
__ADS_1
Menjelang siang, Aziel ditemani oleh beberapa anggota mafia taubatnya, mengenakan pakaian serba hitam ditutupi jubah. Saat ini mereka sedang berusaha menuju lokasi tempat tubuh Arsen dimakamkan.
Ia mendapat informasi, tubuh Arsen dimakamkan pada pemakaman khusus bagi musuh negara yang tidak memiliki keluarga untuk pulang. Dan, lokasi itu terlihat sangat tidak terawat.
Wajah semua orang yang mengikuti Aziel tampak waspada. Tak dipungkiri, mereka semua adalah buronan yang kabur dari pengejaran saat pen3mbakan Arsen dulu. Setelah berkeliling lokasi beberapa waktu, saat matahari bersinar dengan teriknya, akhirnya mereka menemukan makan Arsen.
Makam itu terlihat sangat tidak terawat dan dipenuhi oleh dedaunan kering, tanpa ada yang datang untuk membersihkannya.
Aziel terlihat tertegun menatap nisan yang bertulis nama Dr. Arsenio Wijaya. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat membuat napasnya tersengat karena sesak.
Aziel ambruk tepat di atas pusara itu. Sejenak ia terlihat kehilangan kesadaran.
"Tuan Muda? Tuan Muda? Kau baik-baik saja?"
Para anggota cukup panik mendapati keadaan Aziel yang seperti itu. Ketika mereka mencoba mengangkat tubuh Aziel, mata pria muda itu terbuka dengan lebar. Ia melepaskan diri mundur dari dekapan pria-pria berwajah sangar itu.
"Si-siapa kalian?"
__ADS_1
Para pria yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Aziel, terpana dan saling bertatapan.
"Tuan Muda? Lagi latihan drama?"