
"Emang kenapa? Semua orang memang akan m4ti. Bisa saja satu menit kemudian, tiga puluh menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun kemudian, atau beberapa waktu yang tidak bisa kita perhitungkan. M4ti adalah rahasia Allah yang tak bisa ditebak. Kamu tahu, ketika kamu m4ti di saat belum sempat bertaubat, kau akan menyesal. Di saat meminta satu kesempatan lagi, tapi semua telah tertutup, hanya ada satu tempat yang mau menerima bagaimana pun dosa yang kamu miliki."
Wajah Joki menatap Aziel dengan serius. "Di mana itu?"
"Neraka!" ucap Aziel langsung merasuki netra pemuda yang masih labil itu.
"Buseeet! Lu ini kesambet setan di mana?" Joki tersentak mendengar ucapan neraka itu. Joki melirik pada kedua tangannya. "Gilak! Lu bikin gue merinding, tau nggak?" Joki mengusap tangannya berharap rambut-rambut halus yang berdiri itu, mereda.
"Saya serius! Makanya, selagi kamu masih muda, selagi kamu masih ada kesempatan, lebih baik kamu jangan melakukan sesuatu yang sia-sia!" Netra coklat milik Aziel tak berkedip sama sekali ketika mengatakan hal-hal demikian.
Tiba-tiba, ia menekan dadanya. Debaran jantungnya terasa cepat. 'Barusan saya ngomong apa?'
Aziel mengusap wajah dengan kedua tangannya. Lalu ia menarik Joki menuju deretan keran yang ada di bagian khusus wudhu. Joki terlihat kikuk, tetapi dengan sabar ia mengiringi gerakan Aziel.
Usai wudhu, Aziel berdoa kembali, diikuti oleh Joki. Joki menarik Aziel sejenak membisikkan sesuatu.
"Habis salat, kita dinas dulu yuk? Tabungan kita mulai menipis. Kemarin kita nggak dinas gara-gara lu bilang lagi kurang sehat. Mana setoran kudu wajib kita kasih ke Bang Baron meskipun kita nggak dinas."
Aziel menganggukan kepalanya. "Baik lah, setelah ini kita akan melakukannya. Emang dinas apa?"
"Biasa! Dinas malam!"
Aziel menganggukan kepala. Dia menunggu waktu iqomah dikumandangkan, mencoba mengikuti jemaah lain dengan melaksanakan salat sunah.
Tak lama kemudian, Aziel, Joki, dan jemaah lainnya melaksanakan salat Magrib berjamaah.
__ADS_1
[ ding ding ]
[ Subhanallah .... ]
[ Perkembanganmu sungguh sangat pesat ]
[ Meskipun aku cukup kesal denganmu, tapi aku tidak akan melupakan hak mu yang telah melaksanakan misi sebagai manusia soleh ]
[ Kamu sudah sukses melaksanakan wudhu dengan baik, salat tepat waktu, bahkan kamu melaksanakan salat sunah, dan satu lagi hal terpenting, kamu mengajak temanmu yang tidak pernah salat, melaksanakan salat berjamaah ]
[ Reward yang kamu dapatkan ialah sebesar Rp10.000.000.- Saldo dalam akun bank gaibmu saat ini sebesar Rp13.000.000,- ]
[ Performamu semakin meningkat menjadi dua puluh persen! ]
[ Kecerahan dan ketampananmu naik menjadi lima puluh lima persen! ]
[ Namun, kamu jangan salah! Sistem memperingatkan jika kamu melakukan kesalahan, skala pengurangannya pun akan semakin meningkat juga. ]
[ Pahala yang kamu kumpulkan kali ini sebanyak tiga puluh kebaikan ]
[ HEBAT! Belum sampai 24 jam, kamu sudah mengumpulkan dana yang cukup besar, dan pahala yang banyak! ]
[ Tingkatkan terus agar menjadi pria soleh, dan bisa masuk surga! ]
[ Setelah seratus hari, kamu akan ditarik kembali menuju alam barzah, menunggu waktu kamu benar-benar dihisab sesuai amalan tobat memperbaiki hidup, sebagai anakmu yang telah lama menghilang ]
__ADS_1
Aziel mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ada rasa haru, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya.
"Alhamdulillah ...." Entah kenapa ia bisa mengatakan hal demikian tanpa sempat ia berpikir harus mengatakan apa lagi.
Joki yang sedari tadi duduk di sampingnya, mencolek Aziel. "Ayo, buruan! Kita mesti dinas malam dulu!"
Aziel yang belum memahami makna 'dinas malam' hanya menganggukan kepala. Ia segera bangkit dan keluar dari mushala yang baru saja menjadi tempatnya melaksanakan ibadah.
"Ayo! Kita mau ke mana?" tanya Aziel lagi.
Joki menatap Aziel dengan perangkat salat dari atas sampai ke bawah. "Kita pulang dulu!" Joki berjalan duluan.
"Ke mana?" Aziel mengikuti Joki di belakang sambil memegangi sarungnya.
"Ke kandang lah!" Joki terus berjalan dan Aziel tergopoh mengikuti di belakang.
Mereka sampai pada sebuah gubuk reot yang berada di bawah jembatan. Wajah Aziel mengerut memandangi gubuk yang dimasuki Joki tersebut.
"Ini tempat siapa?"
"Kandang kita berdua lah! Buruan ganti baju lu!" ucap Joki menyerahkan pakaian serba hitam.
Aziel masih membeku menatapi gubuk yang ditempati oleh putranya selama ini. Jantungnya kembali berdebar, tak memercayai hal ini.
'Ma-maafkan Papa, Ziel ....' tangisnya dalam hati.
__ADS_1