
*Halooo, maaf ya kakak dan abang semua. Aku absen update gara-gara lagi pulang kampung. Jadi rada susah gitu nyari waktu berhalusinasi tingkat dewa jika lagi di kampung. Hari ini kita up lagi yaaah*
...****************...
Joki sudah bersiap untuk kabur karena teringat kejadian beberapa waktu lalu. Warga menangkap dan menyidang Aziel usai salat subuh berjamaah. Namun, ketika ia akan melarikan diri, semua jemaah yang mendekat
"Maafkan kami, wahai anak muda. Kami memang terlalu gelap mata untuk terus menuduh karena terpengaruh pada masa lalumu. Kami mendengar kamu memberikan dana besar untuk mesjid kita ini. Mulai hari ini kami berjanji akan berpositif thingking kepadamu," ucap salah satu jemaah.
"Semoga uang itu memang bukan hasil rampok rumah warga!" gumam yang lain.
"Sssttt! Prasangka baik!" cegah yang lain lagi.
Aziel hanya menundukan kepala. Dia bingung harus berbuat apa. Ekspresi yang akan dia berikan pun tak tahu harus seperti apa. Aziel hanya menganggukan kepala dengan wajah datar.
"Ya, tidak apa. Kita semua hanya manusia biasa yang tak akan lepas dari khilaf. Saya juga mohon maaf atas segala masa lalu yang pernah saya perbuat, semoga ke depannya Allah memberikan hidayah bagi kita semua," ucapnya dengan datar, akan tetapi hatinya begitu tulus dalam memgucapkannya.
[ ding ding ]
[ Wuluuuh, ucapanmu sungguh menggambarkan kesalehan tanpa permintaan. Jadi aku kasih bonus tambahan dengan membulatkan saldo dalam akunmu menjadi sebesar Rp500.000.000,- ]
__ADS_1
Aziel refleks melongo dan ia menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. "Alhamdulillahirabbil'alamin."
Joki menyikut Aziel mendengar lafas hamdalah yang baru saja diucapkan di mulut rekannya ini. "Segitu terharunya lu ya? Semua orang mendekat?"
Aziel memutar kepala, dan melirik bocah ABG yang ada di sampingnya. "Setelah ini, ayo kita beli semua benda yang kamu inginkan!"
Joki terkejut dan matanya terbuka lebar. "Beneran?"
Aziel menganggukan kepalanya. Ia kembali memasukan tangan ke dalam kantongnya. Ia berjalan mendekat menuju Ustadz Syahrul, menariknya pada lokasi yang tidak bisa dilihat orang lain. Lalu, ia menyerahkan kembali segenggam uang yang baru saja ia tari.
"Tolong rahasiakan ini, ya Pak. Saya harap Bapak mau memberikan sedikit dari apa yang saya miliki ini kepada anak yatim dan fakir miskin yang ada di sekitar sini. Saya percayakan kepada Bapak dan Allah Maha Mengetahui segalanya."
"Saya yakin, semua yang diberikan dalam rezeki halal, akan berkah dan bermanfaat bagi yang menerima."
"Pak Ustadz jangan khawatir, insya Allah berkah dan tidak akan ada yang saya rugikan dengan rezeki tak terduga yang saya dapatkan."
Ustadz Syahrul menepuk pelan lengan Aziel dan mengangguk bersahaja.
[ Selamat! Sekarang saldomu bertambah dua kali lipat, menjadi Rp1 Miliar rupiah! ]
__ADS_1
Aziel tersentak dan tanpa ia sadari tubuhnya melorot bersujud. "Subhaanallohi walhamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohuakbar, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim."
Ustadz Syahrul terheran. "Kenapa kamu malah sujud syukur?"
*
*
*
Keesokan hari, dua motor sport berdiri bergandengan pada sebuah gubuk reot. Usai mendapat limpahan rezeki, Aziel mengajak Joki menuju showroom motor dan membelikan motor sport untuk rekan satu rumahnya itu.
Mereka telah siap dengan seragam sekolah dan penampilan Joki tampak lebih rapi dan bersih, dengan seragam baru yang dibelikan Aziel juga. Peralatan sekolah yang digunakan pun semuanya serba baru.
"Meskipun motor gue gak sekeren punya elu, tapi begini saja gue udah bersyukur banget." Joki menyalakan motor barunya itu. "Thanx, Bro. Gue gak tau apa yang terjadi, tapi gue suka sama lu yang sekarang yang bagai ATM berjalan. Sat set sat set, eeeh muncul aja duitnya."
Joki mulai melaju keluar dari pekarangan rumah yang mereka sebut dengan kandang, disusul oleh Aziel di belakang menggunakan motornya sendiri.
Tanpa mereka sadari, ada beberpa orang dalam sebuah kelompok yang memperhatikan mereka. "Jadi, selama beberapa hari ini mereka tidak nyetor karena dibelikan motor mahal? Sialan mereka! Tidak tahu main-main sama siapa?"
__ADS_1