
Suasana sekolah, kali ini sungguh terasa sangat berbeda. Di mana, semua siswi di sekolah yang tidak sekelas dengan Aziel, menumpuk berjejer di depan kelas cowok kelas sebelas yang kata mereka semakin hari terlihat semakin tampan.
Beberapa waktu kemudian, terdengar bel yang dibunyikan sebanyak lima kali pertanda bahwa semua siswa wajib berkumpul di lapangan yang ada di tengah sekolah. Para siswi pun memastikan duduk pada posisi terdekat dengan Aziel.
Aziel hanya menggelengkan kepala, melihat tingkat remaja ini. Sebagai pria dewasa yang terperangkap dalam tubuh remaja, ia seakan memahami perasaan dan gejolak jiwa yang terjadi dalam diri gadis-gadis ini. Namun, ia memilih untuk menundukan pandangan. Karena ia tahu, jika mata bertemu mata, maka akan ada pihak ketiga yang akan mengambil bagian, yaitu syaitan.
Sikapnya yang demikian membuat para remaja putri ini semakin kerajingan dan berbisik. Mereka tertawa kecil tiada henti melirik ke arah cowo yang tiba-tiba menjadi populer di sekolah mereka
Hari ini adalah hari terakhir sekolah, jelang menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Di mana semua siswa dan guru mendengarkan tausiah yang diberikan oleh guru agama, di lapangan basket, demi menyambut bulan suci yang sangat istimewa nanti.
Semua civitas akademika di sekolah yang beragam muslim, menyimak tausiah tersebut dengan tenang dan tertib. Tausiah yang meminta semua siswa dan guru di sekolah ini untuk saling bermaafan.
"Malaikat Jibril berdoa kepada Allah atas tiga perkara yang diaminkan oleh Rasulullah saw, yakni; “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut, Pertama. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada). Kedua. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri. Dan yang terakhir, tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”
"Ini jelas mengartikan bahwa puasa umat muslim tidak akan diterima jika masih saling mendendam dan membenci. Oleh sebab itu, mari lah kita saling bermaafan. Jangan sungkan untuk meminta maaf, dan jangan berat memberi maaf. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba yang yang memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama."
Semua yang mendengar ceramah yang diberikan guru agama mereka, seakan tertampar oleh kenyataan. Wajah mereka mulai terlihat sendu dan acara pagi itu ditutup dengan doa.
Usai acara penyambutan tersebut, satu per satu terlihat siswa mulai saling berjabat tangan dan bermaafan. Dan, tak sedikit yang mengejar Aziel untuk menjabat tangannya.
__ADS_1
"Maaf, kita bukan muhrim." Aziel menangkupkan kedua tangannya tak menerima jabatan tangan tersebut.
Beberapa gadis tampak sedih ketika Aziel tidak mau menjabat tangan mereka. Namun, gadis-gadis itu melihat cara Aziel dan Kirana saling menangkupkan tangan tepat di depan wajah.
"Maaf ya, Ziel. Kemarin-kemarin aku telah berprasangka padamu. Selamat menyambut dan menjalankan ibadah puasa di bulan suci ini," ucap Kirana.
"Mohon maaf lahir batin juga, atas kesalahan dulu hingga hari ini." Aziel berusaha mengulas senyuman di bibirnya.
Kirana tersentak dan menganggukan kepala lalu memutar tubuhnya. Jantungnya terasa tak karuan melihat senyuman itu untuk kedua kalinya dan memilih untuk beranjak.
"Oh, jadi kayak gitu tuh salamannya?!" Para gadis itu kembali mendekat. Kali ini mereka menangkupkan kedua tangan masing-masing.
"Aku juga ya, Ziel?"
"Aku juga. Met puasa."
Aziel menganggukan wajah masih menjaga jarak menangkupkan kedua tangannya.
Sepulang sekolah, Aziel tak menyadari bibirnya tiada berhenti menyiratkan senyuman. Hal ini membuat Joki tampak bingung dengan kelakuan Aziel ini.
__ADS_1
"Lu kesambet setan pohon jengkol di belakang sekolah kayaknya?" ucap sang rekan serumah.
Aziel tersentak dan senyuman itu langsung hilang berganti wajah datar. "Apa kau tak tahu, saya ini sedang belajar cara tersenyum dengan tulus?"
Joki menepuk pundak Aziel. Reflek tangan Aziel menepuk pipi Joki.
"Aaauw! Kenapa tangan lu selalu kayak gini ke gue?" sungut Joki.
Aziel mengedikan bahu. "Saya juga tak tahu, kenapa kamu suka memukul saya?"
"Ayo minta maaf!" ucap Joki mengulurkan tangan.
Aziel memilih melanjutkan langkah mengabaikan tangan Joki. Rekannya itu terlihat kesal dan mendahului Aziel, berdiri tepat di hadapan pemuda tampan itu.
"Tidak diterima puasanya jika sesama saudara tidak saling bermaafan!"
Aziel kembali mengabaikan berbelok langkah menaiki motornya. "Saya tak merasa bersalah tuh!"
Aziel menyalakan motor dan ternyata, kedua roda pada motor itu kempes.
__ADS_1
"Lu tahu? Ini bagai hukuman dari Allah karena tidak mau meminta maaf pada gue!"