
[ Coba dulu! ]
"Tapi aku benar-benar tidak ingat!"
[ Cepat lakukan! ]
Mau tak mau Aziel mulai membacakan surat yang pertama pada Juz 30 ini. "Amma Yatasaa-aluun. Anin-nabaa-il aziim ...."
Mata Aziel terbuka dengan sangat lebar. Ia sendiri tidak menyangka semuanya begitu lancar keluar dari lidahnya. Tanpa terasa, ayat demi ayat, berganti surat pun terus mengalun dari mulut Aziel. Seseorang yang semalam suntuk tak bisa tidur karena mau tak mau membuat ia ikut mendengar lantunan hafalan itu
Joki menggaruk kepalanya kasar. "Tu anak ngapain? Ganggu orang tidur aja." Joki menyembunyikan kepalanya di bawah bantal, kesal.
Hingga akhirnya, Aziel menyelesaikan setoran surat terakhir pada Juz 30 ini. "Qul a'uzu birabbin naas. Malikin naas ...." Air mata Aziel terus berjatuhan mengiringi pelafalan ayat terakhir kitab suci Alquran ini.
"Shadaqallahul 'adzim ...." Aziel menangkupkan kedua telapak tangannya. Ia tak menyangka berhasil menghafal juz 30 itu dengan sempurna.
[ Selamat! Kau berhasil menyelesaikan 1 juz dari 30 juz yang harus kamu tamatkan. Tiap malam usai tarawih, aku akan memintamu untuk menyetornya. ]
[ Dan, di saat malam takbiran, jelang idul fitri, kamu harus mengulang semua dari awal hingga akhir! ]
"Apa? Aku harus menyetor 30 juz sekaligus?"
__ADS_1
[ Benar sekali! ]
"Sist, apakah anakku Aziel benar-benar menghafalnya? Bagaimana jika setelah aku tidak di sini lagi? Apakah masih bisa ia mengingat semua?"
[ Itu rahasia Illahi ]
Aziel menghela napas beratnya. Entah kenapa, ia ingin Aziel benar-benar bisa menghafal semua untuknya. Niscaya, ia bisa dijauhkan dari siksa api neraka.
[ Apa yang kau takutkan? Bukan kah kau sendiri bisa menghafalnya? Ini bisa untuk menyelamatkan dirimua sendiri. ]
Aziel menunduk sendu. "Karena aku yakin, jika tidak ada kamu, aku tidak akan bisa menghafalnya sendirian. Ini sungguh mustahil. Baca sekali bisa langsung melekat dalam ingatan?"
Aziel mengusap wajahnya kembali. Ia menatap pantulan dirinya pada bayangan cermin pada lemari yang ada di kamar tersebut. Ia menatapi setiap jengkal pada diri putranya. "Ah, anakku. Kenapa semakin tampan saja. Sayang sekali Papa tak bisa melihatmu tumbuh dan dewasa."
"Baik lah, aku harus tidur sejenak. Sebentar lagi adalah waktu untuk sahur." Aziel menyeting alarm untuk sahur bulan ramadhan hari pertama.
zzzzttt
Zzzzttt
Zzzzttt
__ADS_1
Aziel dikejutkan oleh getaran pada ponselnya. Ia memelas membuka mata. "Aaah, rasanya baru lima menit yang lalu aku tidur," ucap Aziel mematikan alarmnya.
Tanpa sadar, ia ketiduran kembali. Sesuatu yang menyengat, membangunkan tidurnya kembali.
[ Bangun! Udah waktunya sahur! ]
Aziel meringis kejang mendapat sengatan listrik ringan. "Kau mengganggu orang tidur saja!" Aziel mengucek mata beberapa kali.
[ Cepat lah! Apa kau pikir tidak akan berpuasa seperti waktu-waktu yang kau lewati selama hidup di dunia sebagai Arsenio Wijaya? ]
[ Apa kau ingin dikembalikan ke neraka? ]
[ Ingat, puasa itu masuk ke dalam rukun islam! Jadi kau wajib melaksanakannya! ]
[ Begitu besarnya dosa bagi orang yang sengaja meninggalkan puasa tanpa ada uzur, Rasulullah SAW mengancam orang-orang tersebut dengan ancaman berat, yaitu tidak dapat mengganti satu hari puasa yang ditinggalkannya walaupun ia berusaha membayarnya seumur hidup. ]
[ Jika kau tidak bersahur, maka kau tetap wajib untuk berpuasa! Ingat, anakmu Aziel, itu sudah baliq. Ia sudah dikenakan kewajiban dalam ibadah puasa ini. ]
Aziel melirik jam pada dinding. Ia mengucek beberapa kali. Ia masih cukup malas untuk bangkit dari ranjang emput yang diberikan oleg Sistem ini.
[ Sampai kapan kau malas-malasan begini? Waktu sahur akan habis dalam lima menit lagi! ]
__ADS_1
"Hah? Sepuluh menit lagi."