
"Gratisan? Mana bisa untung, Tuan Muda?"
Aziel mengusap lengan Kano. "Apa kamu tidak tahu, Allah Maha Pengasih? Bahkan, Dia tidak pernah berjual beli, tetapi tetap kaya? Kenapa tidak memercayai segala rezeki kepada-Nya?"
Kano menggaruk pelipisnya. "Tapi bukan kayak gitu juga konsepnya, Tuan Muda."
Aziel menepuk lengan Kano. "Ayo, ikut saya. Mari kita beli warung ayam itu. Mungkin untuk beberapa bulan ini, kita akan kasih gratisan. Namun, suatu saat nanti saya akan memberi kode padamu, sebagai orang kepercayaan papa saya, untuk menjual ayam-ayam itu dengan harga sesuai standar dalam perdagangan. Supaya, lawan bisnis kita tidak bersedih."
"Kenapa mesti memikirkan lawan bisnis, Tuan Muda? Kalau bisa kita monopoli aja semuanya. Jadi semua orang hanya akan datang ke warung ki—"
Refleks tangan Aziel memukul Kano, persis sama seperti yang biasa dilakukan Arsen. "Diam! Dan turuti!"
Kano tergidik dan menelan salivanya. 'Entah kenapa, vibes intimidasi mereka sama persis kayak gini?'
"Tunggu sebentar!" Aziel berputar memasuki arah motornya terparkir. Ia mengendarai dan segera mendekati Kano. "Naik lah! Kita akan melakukan transaksi pembelian warung ayam itu dulu!"
"Hmmm, bagaimana kalau saya saja yang membawa motor itu?"
__ADS_1
"Naik saja!" ucap Aziel kembali.
Kano mengangguk cepat dan segera berboncengan di belakang. Aziel melesat menuju warung ayam yang sudah disepakatinya kemarin. Di sana, ia disambut oleh penanggung jawab yang sama seperti beberapa waktu lalu.
"Bah, ternyata ini Om kaya raya yang kau bilang?" Sang Penanggung Jawab melirik Kano dari atas hingga ke bawah.
Kano memasang mata sangarnya membuat pria itu tergidik oleh mata Kano yang sangat mengerikan.
"Kau punya uang dua ratus juta itu?" tanyanya sedikit ragu.
Aziel membuka tas ranselnya. Di dalam sana telah berisi penuh oleh uang diminta oleh pria itu. "Ambil lah semuanya! Siapakan semua surat kepemilikan yang sah. Saya sudah mengatakannya bukan?" ucap Aziel dengan penuh wibawa.
"Bah, sebenarnya yang mau bisnis siapa? Kau?" Menunjuk Kano. "Atau, Kau?" Menunjuk Aziel.
"Jangan banyak tanya! Cepat serahkan surat tersebut dan segera enyah dari tempat ini!" ucap Kano dengan nada ancaman.
"I-iya, Om. Ini!" Pria itu menyerahkan surat-surat tersebut kepada Kano.
__ADS_1
Aziel menyerahkan tas yang berisi penuh dengan uang setelah mengambil beberapa benda sekolahnya.
"Selamat menjadi owner yang baru! Semoga betah dan banyak pembelinya!" Sang penanggung jawab yang merasa ngeri-ngeri sedap oleh tatapan Kano yang membun*h, membuatnya ingin cepat-cepat beranjak dari sana.
Aziel menepuk lengan Kano. "Jangan takut-takuti dia terus!"
Kano gelagapan dan terkekeh. "Maaf, Tuan Muda."
"Sekarang panggil semua anggota kita yang masih tersisa. Ajak mereka semua untuk membersihkan tempat ini! Saya mau pulang dulu dan melaksanakan kewajiban kerja sosial yang diembankan kepada saya hingga satu bulan ke depan."
Kano mengerutkan kening. "Tuan Muda mendapatkan hukuman?" Kano menyingsingkan lengan bajunya ke atas. "Siapa yang berani memberikan Tuan Muda kami hukuman? Langkahi dulu m4yat Kano!"
Mata coklat milik Aziel terbelalak besar. Dengan kasar ia kembali memukul lengan Kano. "Udah! Jangan banyak gaya! Sekarang tugasmu adalah membawa semua anggota yang ada, lalu membersihkan tempat ini! Saya pergi dulu!" Aziel menyerahkan kunci motornya kepada Kano.
"Pakai ini! Saya jalan kaki aja! Deket kok." Aziel beranjak pulang meninggalkan Kano dalam kebingungan sendirian.
[ ding ding ]
__ADS_1
[ Hari ini kau sengaja buang-buang duit ya? ]
[ Biar anakmu nanti hidupnya aman saat kau telah masuk antrean ke neraka lagi? ]