
[ Lima ... Empat ... Tiga ... Dua ... Satu! ]
Semua uang yang ada di tangan Aziel sudah habis. Namun, ia tidak tahu bagaimana uang-uang yang disebarkan menggunakan jasa anak buahnya itu.
[ Selamat! Misi yang kamu lakukan selesai dengan sempurna! ]
[ Dana sebesar Rp58.000.000,- berhasil dibagikan untuk hal yang bermanfaat dalam waktu tiga puluh menit. ]
[ Seperti yang aku janjikan, pertama kali aku akan memberikan bonus motor yang hanya ada 120 unit di dunia ini. ]
Mata Aziel terbelalak melihat benda itu muncul dengan ajaibnya. Beberapa anak buahnya mulai muncul satu per satu dengan wajah lelah mereka.
"Kenapa dibagi-bagikan uangnya, Tuan Muda? Kami ini juga kelaparan. Kami juga butuh makan." gumam salah satu dari mereka.
[ Seperti yang sudah aku janjikan. Dana kamu yang sebelumnya Rp58.000.000,- akan dikalikan sepulu. Dana Rp580.000.000,- sudah berada dalam akunmu. ]
__ADS_1
Aziel menangkupkan kedua tangan di wajahnya. "Alhamdulillah ...." gumamnya.
Hal ini membuat semua anak buah Arsen terheran. Saling bertanya apakah benar dia adalah putra boss besar mereka.
"Aku dengar, kalian kelaparan? Kenapa kalian bisa kelaparan? Bukankah kalian memiliki banyak uang?"
Kano menggelengkan kepalanya. "Ceritanya panjang, Tuan Muda." Kano mengerutkan keningnya. Mencermati Aziel sekali lagi. "Apa benar kamu ini Aziel, anak Boss Arsen?"
"Kenapa kau meragukan itu?" tanya Aziel dengan nada datarnya.
Aziel tersenyum tipis. Namun, ia tak mengatakan bahwa dirinya memanglah Arsen. Ia mengeluarkan setumpuk uang, lalu diserahkan kepada Kano.
"Beli lah semua yang kalian butuhkan."
"Ah, kenapa Tuan Muda memiliki banyak uang? Ke mana saja selama ini?" tanya Kano tak percaya melihat setumpuk uang yang memenuhi dua tangannya.
"Aku pun tak tahu. Yang jelas, saat ini aku harus pergi." Aziel mulai menaiki kendaraannya.
__ADS_1
Kano mencegatnya. "Tuan Muda, bawalah kami ikut bersamamu?!" pinta sang kaki tangan.
"Maaf, aku tidak memiliki tempat yang luas untuk menampung kalian sekaligus. Tapi, gunakan lah uang yang aku berikan untuk mencari rumah sederhana untuk disewa yang bisa menampung kalian semua. Setelah ini, ayo kita membangun sebuah usaha yang lebih berkah." ucap Aziel mulai memutar kunci motor yang sudah ia tumpangi ini. Deru mesin yang halus, mulai terdengar oleh telinga semua orang yang ada di sana.
Kano merasakan pria muda yang bicara dengannya ini sama sekali tak berbeda dengan Boss Arsen yang selalu ia sanjung. "Baik lah, Tuan Muda. Setelah ini, ayo kita mulai semua dari awal."
Aziel mengacungkan jempolnya. "Nanti, jika kalian membutuhkankku, salah satu dari kalian bisa cari aku di sekolah. Jika aku sudah memiliki apa yang bisa membuat keuangan kita semakin bertambah, aku akan menggunakan jasa kalian semua."
Kano mengangguk mantap. Sang Tuan Muda telah melaju meninggalkan tempat itu karena ia teringat, ada tugas pengabdian masyarakat yang telah menunggu. Ia harus cepat-cepat pulang bergati seragam.
Joki sedang berada di dalam gubuk kecil dan sempit hanya cukup untuk dua orang saja. Ia merenung menatap setiap bagian rumah itu sudah kembali buruk. "Ini rumah kok aneh banget ya? Tiap gue sendirian aja, bentuknya sangat jelek. Apakah karena gue keseringan nonton anime fantasi ya? Berasa itu semua terjadi langsung di dalam hidup gue," Joki bersungut mulai terbiasa dengan keadaan.
Tiba-tiba, ia mendengar suara motor memasuki pekarangan rumah reot ini. Karena suara mesinnya sudah berasa keren, membuat Joki melonjak keluar rumah ingin melihat siapa yang membawa motor tersebut. Saat ia membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang sedang duduk di atas sana.
"Elu, Bro? Ini motor siapa yang lu bawa kabur? Kenapa nggak ngajak-ngajak gue kalau ternyata lu mau patroli?" Joki mengusap motor yang membuat matanya terbelalak.
"Saya mau ganti baju dulu buat pengabdian masyarakat." Aziel membiarkan Joki yang masih terpesona menatap motor itu. Ketika Azie sudah berada di dalam rumah, motor yang disentuh oleh Joki berubah menjadi sepeda butut.
__ADS_1