Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
48. Saldo Lima Miliar


__ADS_3

Kirana mengajarkan cara memasak ayam goreng sesuai ilmu perdapuran yang ia dapatkan dari sang ibu. Setelah memberikan contoh satu kali, semua seakan terekam dengan baik dalam memorinya.


"Udah bisa kan?" tanya Kirana.


Aziel mengangguk tanpa memberikan jawaban dari mulutnya. Ia pun memegang memegang saringan deep fryer telah berisi potongan ayam yang akan dicemplungkan pada minyak panasa berbentuk kotak yang cukup dalam.


Dengan sedikit memejamkan mata, lelaki muda itu merendamkan benda tersebut sedikit dengan rasa was-was kecipratan minyak panas.


"Jangan takut, ayam ini tidak akan memuncratkan minya panas keluar wajan!" ucap Kirana kembali.


Di ujung dapur itu, Ustadz Syahrul tersenyum menatap keseriusan lelaki muda ini. Ia menggelengkan kepala melihat para pria yang menonton lewat jendela dengan wajah yang tampak harap-harap cemas. Beberapa waktu kemudian, ayam yang telah tergoreng cukup lama diperiksa kematangannya.


"Dikit lagi! Ayam ini bisa diangkat setelah bewarna golden brown," ucap Kirana.


Aziel kembali mengangguk. Ia memasukan kembali gagang saringan ayam goreng tersebut ke dalam wajannya. Setelah selesai, ia menarik gagang itu dan meniriskan pada wadah yang telah disiapkan berganti memasukan gagang saringan yang berisi ayam yang baru.


Kirana memberikan tepukan tangan. "Nah, gampang banget kan? Kamu sudah mengingat semuanya kan?" tanya Kirana memastikan. Aziel membalas dengan anggukan.


"Nah, kalau udah, kami pulang dulu. Kasihan Abi udah capek berdiri semenjak tadi."


Aziel baru menyadari Uztadz Syahru berdiri semenjak tadi melongo. "Loh? Kenapa Pak Ustadz tidak diberikan kursi?" Aziel membelalakan matanya kepada para anak buah yang sedari tadi menonton mereka.


"Sudah ... Sudah! Tidak apa-apa!" ucap Ustadz Syahrul menenangkan. "Saya turut senang jika bisa memastikan kamu bisa memasak untuk usaha dan daganganmu ini. Semoga sukses dan penuh berkah." ucap Ustadz Syahrul kembali.


"Aaamiin," ucap semua orang yang menyaksikan semuanya.


Aziel telah memindahkan ayam goreng matang tadi pada wadah yang cukup besar, lalu mengisinya dengan ayam baru untuk mengganti ayam yang hampir matang.


"Waaah, kerja kamu cepet banget. Semoga laris ya? Kami pergi dulu." Kirana mulai bergerak memutar badan keluar dari dapur merangkul lengan ayahnya.


"Tunggu!" Aziel dengan gerakan cepatnya memasukan semua hasil gorengan tadi ke dalam kotak dan kantong.


Kirana memutar badannya. Ia terperangah melihat kantong yang penuh diisi oleh kotak yang berisi ayam goreng tadi. Ia beralih memandang ayam yang baru dipindahkan tadi, ternyata udah kosong.


"Looh? Ini semua ayam goreng barusan? Kapan kamu pindahkan?"

__ADS_1


Aziel hanya memasang muka datar menyeka keringat yang menetes di dahi. "Ambil lah!"


"Ini kebanyakan?" sorak Kirana bergantian melirik kantong yang sangat besar dan sang ayah.


"Kami tidak akan bisa menghabiskan semua ini!" tambahnya lagi.


"Jangan dimakan sendirian, bagikan pada yang lain juga," ucap Aziel.


Kirana tercekat dengan apa yang diucapkan oleh teman sekolahnya itu. Wajahnya terasa panas karena malu, ia sudah salah duga. "Oh, begitu. Baik lah!" Kirana menundukan kepala dan ia merasa bingung tak tahu harus menyembunyikan wajahnya ke mana.


"Waah, kita bagikan kepada jemaah yang salat di mesjid. Mereka pasti bahagia, mendapat rezeki usai salat nanti," ucap Ustadz Syahrul.


Kirana masih menundukan kepala. Rasa malunya masih belum hilang. Sejenak ia melirik Aziel yang telah menukar menggoreng ayam yang baru.


'Waaah, dia sunggu cekatan. Apa dia memang seperti ini ya?' batin Kirana mencuri pandang pada Aziel yang tampak sibuk dengan pekerjaannya.


"Ekhem ...."


Dehemab Ustadz Syahrul membuat Kirana terkejut. Ia menyerahkan kantong besar yang diberikan Aziel tadi kepada sang ayah.


"Kami pergi dulu, assalamualaikum," ucap Kirana.


"Walaikumsalam," ucap Aziel yang sibuk dengan ayam yang ditepungkan.


Setelah Kirana pergi, ia bekerja dengan kekuatan yang terpendamnya, hingga menyelesaikan semuanya dengan cepat. Ayam-ayak itu menumpuk dan menggunung di atas wadah yang ada di sekitar Aziel.


"Cepat masukan ayam-ayam ini ke dalam kotak! Masing-masing kotak isi sepuluh potong. Langsung dibagikan!" titah Aziel mengomandoi para anak buah.


Gino bertugas memasukan ayam-ayam tersebut ke dalam kotak. Kano bekerja menutup kotak dan memasukannya ke dalam kantong. Lalu, pria-pria bertato tersebut antri untuk menunggu kantong penuh lalu segera keluar membagikannnya.


Aziel bergerak cepat menggoreng ayam-ayam tersebut, tanpa sadar ternyata udah berada pada kloter terakhir. Ia melirik ke kiri kanan dan semua bagian dapur. Ternyata, yang berada dalam wajan deep fryer saat ini adalah sesi terakhirnya.


"Tuan muda, untuk kami mana?" tanya para anak buah menyadari tak ada lagi ayam mentah yang belum digoreng.


"Kalian tenang saja. Saya pastikan semuanya akan cukup buat kita semua."

__ADS_1


Tak lama kemudian, pria-pria bertubuh bongsor yang membagikan ayam-ayam itu telah kembali. Wajah mereka sumringah dan cerah.


"Subhanallah, mereka semua terlihat bahagia. Saat melihat mereka bahagia, hati saya ikut tentram, Tuan Muda," ceritanya.


"Bener banget, ternyata berbuat kebaikan sungguh menyenangkan. Tidak seperti dulu yang selalu merasa waswas."


Aziel tersenyum tipis mendengar cerita para anak buah. Lalu, ayam terakhir telah selesai digoreng. Akan tetapi, raut wajah para anak buah tampak kecewa.


"Tuan Muda, saya rasa ini semua tidak akan cukup untuk kita semua yang ada di sini," ucap Kano.


Karena, anak buah Baron juga turut ikut serta dalam aksi ini. Hingga, tanpa ada pembeli yang datang pun, warung itu terlihat sudah sangat ramai.


"Kalian tenang saja! Berapa pun akan kalian ambil, ayam goreng ini tidak akan habis." ucap Aziel.


"Masa sih?" tanya mereka tak percaya.


"Silakan dicoba! Selamat menikmati!"


Dengan wajah ragu, pria-pria bertubuh bongsor itu mengambil wadah yang terbuat dari karton sebagai pengganti piring. Satu orang saja, mengambil potongan ayam itu hingga memenuhi wadah yang bisa jadi masing-masing mengambil lima sampai enam potong.


Namun, ayam-ayam tersebut terlihat tak berkurang sedikit pun hingga semua yang ada sudah mendapatkan jatah mereka masing-masing.


[ ding ding ding ]


[ Masya Allah ... Perubahanmu sungguh pesat Arsen ]


[ Bahkan, kau bisa memanfaatkan kemampuanmu tanpa aku bimbing lagi ]


[ Selamat! Kamu mendapatkan bonus sebesar Rp5.000.000.000! ]


[ Performamu 100% ]


[ Ketampananmu 1000% ]


[ Kemuliaan hatimu sudah muncul 20% ]

__ADS_1


[ Saldo kekayaanmu saat ini ialah sebesar Rp5.800.000.000 ]


Aziel langsung sujud syukur. Membuat semua pria yang asik menyantap ayam goreng tercengang.


__ADS_2