
"Bah? Murah? Macam yang banyak duit saja kau! Kalau memang sanggup, malam ini juga warung ayam goreng ini akan jadi milik Om kau itu jika segera menyerahkan uangnya."
Aziel tertawa sumringah mendengar ucapan sang penanggung jawab ini. "Oke, nanti malam saya akan membawa Om untuk menyerahkan uangnya. Sekarang saya mau melaksanakan kewajiban sebagai pria sejati dulu." Aziel mengangkat sapu lidi dan pengki yang sedari ia bawa.
"Jangan lupa menyiapkan surat-surat penting kepemilikan warung ini!" ucap Aziel lagi.
Dalam benaknya, telah terbayang bisnis yang akan ia lakukan demi memenuhi cuan ketika meninggalkan anaknya sendirian di dunia nanti. Ia menyapu semua bagian dengan penuh semangat, hingga tak menyadari bahwa rekannya Joki telah menghilang semenjak tadi.
Aziel melirik ke kiri dan ke kanan. "Bukan kah tadinya dia ada di sana?" Menunjuk seberang jalan.
[ Biarkan saja anak itu. Anggap saja dia jaelangkung yang datang tak diundang, dan pergi tak diantar. ]
Aziel hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan pekerjaannya. Kebetulan sekali ia bertemu dengan gadis berkerudung tengah menuju mesjid. Pada tangan kanannya tengah memeluk sebuah kitab suci Al Quran.
"Aziel?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"Hmmmm ...." Aziel merasa bingung harus memanggil sepaan bagaimana. Karena tidak mungkin ia bertanya, "Apa kau mengenalku?" Rasanya itu akan menjadi pertanyaan klise. Jelas gadis itu adalah yang kemarin menghardiknya. Dan gadis yang sama dengan yang tadi pagi berjejer di pintu gerbang.
"Kata Bapak, kamu kena hukuman ya?" tanya gadis itu kembali.
Aziel menaruh pengki yang sudah menumpuk sampah plastik dan daun secara bercampur. Ia menatap gadis itu dari atas ke bawah beberapa kali.
Cara Aziel menatapnya dengan aneh, membuat sang gadis merasa tidak nyaman. "Apa yang kau lihat?" Nada suaranya terdengar sedikit meninggi.
"Mau mengaji?" tanya Aziel basa basi dari pada tidak ada pertanyaan.
Aziel tidak mengambil pusing, melanjutkan pekerjaannya membersihkan halaman mesjid. Seluruh halaman pekarangan mesjid pun jadi bebas dari sampah.
[ Apa kau sengaja melakukan ini, Bung? ]
Tiba-tiba, terdengar suara yang menggema di dalam pikirannya. "Maksudnya?"
__ADS_1
[ Padahal ini adalah sebuah hukuman, tetapi tetap saja kau telah mengumpulkan dana untuk saldomu itu. ]
"Benar kah? Bagus lah!" ucap Aziel melanjutkan pekerjaannya memasukan seluruh sampah ke dalam kantong yang lebih besar.
[ Ding Ding ]
[ Bonus yang diberikan sebagai hadiah telah bekerja dengan ikhlas dan penuh semangat, maka kamu berhak atas bonus tak terduga sebesar setelah dari saldo yang kamu miliki. ]
"Waaaw! Nambah dengan bonusnya tinggal dikali dua aja?" celetuk Aziel tampak sumringah dan bahagia.
[ Saldomu saat ini ialah sebesar 632 juta rupiah! Jangan lupa terus berbuat baik. Semakin Soleh kamu, makan akan semakin kaya! ]
Aziel tertawa lebar di beranda mesjid. Ia baru sadar, ada sesuatu yang harus ia lakukan. Aziel memasukan tangannya ke dalam kantong celana. Ketika tangan itu ditarik kembali, mata sang pengurus mesjid yang memperhatikannya semenjak tadi dalam diam tampak terbelalak.
Begitu banyak uang berada dalam telapak tangannya. Ia segera mencari kotak amal untuk memasukan semua uang yang sudah tidak terhitung lagi. Mata Aziel menangkap satu sosok pria berjenggot yang terus memperhatikannya.
__ADS_1
"Halo, Pak Ustadz ... Tatapan Anda membuatku merasa menjadi seorang tersangka."