
"Kenapa lu nangis, Jang?" tanya pemilik warung yang memperhatikan tingkah remaja yang telah diperhatikannya semenjak tadi.
Pemuda berseragam itu dengan cepat menyeka air matanya. "Ah, tidak." Ia melirik ke arah piringnya yang sudah kosong.
Kruuucuuuk
Suara perut Aziel kembali bernyanyi. Ia melirik pada pemilik warung hendak melayangkan rencana bujukan kedua. "A—"
[ ding ding ] Suara notifikasi dari Sistem kembali masuk.
[ Kamu mengalami penambahan saldo sebesar Rp500.000,- karena kamu sudah melakukan kebaikan tanpa diminta. ]
Meski notifikasi ini cukup membuat ia terkejut, Aziel masih tampak tenang tanpa komentar.
[ Mana ucapan terima kasihnya? Sudah dikasih uang nih. ]
"Diam kau!" Aziel masih merasa kesal karena uang yang ada di tangan saja, bisa lenyap dengan mudah bagai udara.
Wanita pemilik warung mengerutkan keningnya mendapat umpataan seperti itu. "Oh, begitu caramu membalas kebaikan orang lain?" Wanita itu menyingsingkan lengan bajunya bersiap menarik kerah baju Aziel.
"Padahal gue udah sempat terharu karena tingkah lu barusan." Tangan wanita itu mulai memegang kerah seragam Aziel bagian belakang.
__ADS_1
"Tadi udah niat nambahin nasi buat elu, tapi kagak usah!" Wanita itu mulai menarik kerah seragam bewarna putih tadi.
Aziel yang tergagap mendapat perlakuan demikian, belum sempat memamerkan amarahnya. "Eh, eh, tunggu, tunggu!" ucapnya berusaha melepaskan diri.
"Saya tidak bicara dengan kamu!"
Wanita itu terus menarik kerah Aziel, membuat remaja laki-laki itu berjalan mundur. "Lu emang kagak bisa bicara dengan sopan sama orang tua ye?" Aziel didorong ke arah pintu keluar.
"Sekarang lu pergi dari sini!" bentaknya.
Kruuucuuukk
"Tapi saya masih lapar," ucapnya memegang perut yang sudah tak kuasa menahan rasa lapar yang luar biasa.
Aziel menatap mata pemilik warung, tak menurunkan sedikit pun pandangannya. Sang pemilik warung terlihat salah tingkah dibuat olehnya. "Lu .. Lu lihat apaan?"
"Saya mohon, kali ini akan saya bayar." Aziel mulai memikirkan jumlah uang yang akan dibayarkan untuk makanan tersebut. Ia mengeluarkan selembar seratus ribu dan menyerahkannya pada pemilik warung.
"Apakah segini cukup untuk membayar makanan yang tadi dan yang akan saya makan?"
Pemilik warung pun melongo dibuatnya. "Jadi elu berbohong tidak punya uang?"
__ADS_1
"Beberapa menit yang lalu, saya memang tidak memiliki uang. Ini baru saja masuk."
*
*
*
Setelah selesai makan, Aziel berjalan tidak tahu arah. Ia tidak tahu harus tidur di mana. Ia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Allahuakbar Allahuakbar!" Gema Azan terdengar dengan lantang dari sebuah mesjid. Bayangan tubuhnya tergambar telah sesuai tinggi badannya.
[ ding ding ] Notifikasi berikutnya diiringi gema suara Azan.
[ Apa kah sudah pernah mengerjakan ibadah Sholat? ]
Arsen teringat akan dirinya yang dulu muda. Dia datang dari keluarga berada yang cukup taat. Untuk sekedar salat, ia tak pernah melewatkannya sedikit pun. Namun, ia mulai membenci semenjak merasa segala upaya dan doanya tak pernah didengar oleh Yang Maha Kuasa.
Ia mulai sibuk akan dunia, mencari manusia-manusia yang akan dikorbankan demi memenuhi biaya perawatan istrinya yang sangat besar. Semakin hari, hati Arsen semakin gelap dan jauh dari perintah Agama. Ya, dia telah terombang ambing oleh nikmat dunia yang menghapus segala amalan semasa hidupnya.
"Entah lah!"
__ADS_1
[ Misimu kali ini adalah berwudhu dengan sebaiknya, dan laksanakan salat dengan khusyuk! ]
[ Dana sebesar satu juta rupiah akan menjadi milikmu! ]