Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
19. Terhipnotis


__ADS_3

Semua orang menatap pemuda itu yang terlihat murung. Beberapa jemaah terlihat saling berkomentar dan menganggukan kepala.


"Apakah seorang pendosa boleh mengumandangkan azan Pak Ustadz?"


Ustadz Syahrul kembali mengusap jenggot yang telah memutih di dagunya. "Manusia, tidak berhak menjatuhkan fatwa bahwa manusia lain sebagai seorang pendosa. Hanya Allah yang berhak memberikan nilai atas itu semua."


"Sebelumnya harus kita ketahui beberapa syarat sah azan. Pertama, tentu saja seorang muslim. Kedua, bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Ketiga, tertib ( kalimat Azan tidak boleh acak). Keempat, seorang laki-laki. Kelima, berturut-turut ( mengumandangkannya tanpa jeda yang lama). Keenam, dikumandangkan dengan suara keras ( bantu dengan mikrofon ). Ketujuh, dikumandangkan saat masuk waktu salat."


Jemaah yang mendengarkan terlihat menganggukan kepala. Namun, Pak Rudi masih terlihat kukuh dengan kemarahannya.


"Tapi, dia itu mencampuradukan mana yang baik dan mana yang buruk, Pak Ustadz."


Ustadz Syahrul menghela napas panjang. "Nak Aziel, berdiri lah!"


Namun, Aziel masih menundukan wajah, sendu. Arsen yang berada dalam tubuh itu, masih menyesali diri mengapa hanya membiarkan putranya menghilang begitu saja, tanpa berniat mencari lebih dalam lagi.


puk


Aziel tersentak dari lamunan karena sendal jepit mendarat di kepalanya. Mata coklat sedikit sipit itu melihat sendal tersebut jatuh ke atas lantai pelataran parkir.


"Dasar kau pencuri! Masih kecil saja kau sudah bisa menyusahkan orang lain! Apalagi kalau sudah besar nanti?" teriak jemaah yang tak terlihat.


"Saya tidak mencuri!" ucap Aziel bangkit membuka peci putih yang terpasang di kepalanya. Ia membersihkan kotoran yang melekat akibat sendal jepit tadi. Setelah dirasa cukup bersih, ia memasangnya kembali di kepalanya. Wajahnya tak diangkat sama sekali.


"Mana ada maling teriak maling?" sorak salah satu warga.


"Mulai hari ini kami peringatkan! Kau jangan lagi azan di mesjid kami. Tiba-tiba berubah sok alim, tau-taunya nanti kotak infak mesjid malah hilang?" Kali ini ada suara yang tak tahu dari arah mana.

__ADS_1


"Sudah! Cukup! Apa kalian tidak kasihan kepada Aziel yang terlalu muda untuk mendapatkan cecaran seperti itu?" cegah Ustadz Syahrul.


Aziel masih menundukan kepalanya. Perlahan ia menghela napas panjang. "Maaf ... Jika saya telah merugikan Bapak dan Ibu. Katakan saja berapa biaya kerugian yang kalian alami, maka saya akan segera ganti."


Pak Rudi tampak terkekeh mendengar tawaran dari Aziel. "Ganti? Dengan uang curian lagi? Maaf! Saya tak butuh!"


"Sudah! Sudah! Tak baik kalau kalian menghakimi dia yang sendirian secara ramai-ramai begini!" Ustadz Syahrul mencoba menenangkan suasana.


Suasana yang tadinya memanas, perlahan ditenangkan oleh Ustadz Syahrul. Tidak hanya Beberapa waktu mereka berembuk akhirnya diputuskan bahwa Aziel harus melakukan pengabdian masyarakat.


[ Hukuman yang sangat bagus! ]


[ Setidaknya ini bisa membuat kesombongan dan jiwa antisosialmu itu sedikit luluh. ]


'Apakah saya akan mendapat reward ketika melaksanakan hukuman itu?'


Meski Aziel tampak cukup kecewa, akhirnya ia memilih tenang tanpa berkomentar.


Setelah semua setuju, warga akhirnya membubarkan diri satu per satu. Tak sedikit yang menatap Aziel dengan tajam, merasa ingin segera mencoelnya dengan sedikit tampolan menggunakan sendal jepit.


Namun, wajah Aziel yang terlihat tanpa dosa, akhirnya membuat mereka luluh. Saat berhadapan langsung menatap wajah Aziel, mereka seakan kikuk dengan mata mengawang.


"Kenapa gue di sini?" Setelah melihat mesjid. "Oh, habis salat Subuh?" Mereka beranjak dan merasa heran. "Tumben sekali gue salat di mesjid.


Hal itu bukan hanya terjadi pada satu atau dua orang saja. Bagi yang menantang mata Aziel, mereka terhipnotis dengan seketika melupakan kejadian yang terjadi. Mereka pulang begitu saja dengan wajah bingung.


Ustadz Syahrul menepuk pundak Aziel dengan pelan beberapa kali. "Kamu yang sabar ya. Setidaknya saya lihat kamu sudah mulai mencoba untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya."

__ADS_1


Aziel kembali menundukan kepalanya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Untuk membela diri pun ia tak bisa. Dosa yang dibuatnya jauh lebih besar dibandingkan anaknya.


"Terima kasih, Pak Ustadz. Saya mau pulang dulu, karena harus ke sekolah."


Ustadz Syahrul menganggukan kepala menepuk pundak Aziel. "Belajar yang rajin demi meraih cita-cita!"


Aziel mengangguk pelan dan pergi.


"Assalamualaikum," ucap Ustadz Syahrul.


Aziel berhenti sejenak menepuk keningnya. "Wa-walaikumsalam." Aziel melanjutkan langkahnya menuju rumah.


Sepanjang perjalanan, Aziel melirik kiri kanan, di mana orang-orang itu adalah para jemaah yang tadi melayangkan cecaran pada Aziel. Namun, mereka seolah cuek seperti tak mengenal Aziel.


'Kenapa dengan mereka?'


[ Berterima kasih lah padaku! Mereka telah melupakan kejadian hari ini karena telah aku hipnotis. ]


'Lalu, apakah mereka melupakan hukuman pengabdian masyarakat yang dijatuhkan padaku?'


[ Tentu saja tidak. Karena tidak semua orang yang berhasil aku hipnotis. Ada beberapa orang lain yang masih mengingat semua, dan kau harus tetap menjalani hukuman ini! ]


Aziel mengernyit sejenak terus berjalan. Aziel melirik kiri kanan jalanan menuju gubuk derita mereka. Tampak sebuah toko bekas franchise jual ayam goreng yang hampir bangkrut. "Kasih aku misi lagi dong, Sist?"


[ Kenapa tiba-tiba minta misi? ]


"Bisa kasih misi dengan reward mendapatkan toko itu nggak? Aku mau memutar dana yang kau beri agar nanti, setelah seratus hari, anakku tidak memusingkan biaya lagi."

__ADS_1


[ Tidak semudah itu Ferguso! ]


__ADS_2