Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
21. Ganti Rugi


__ADS_3

Etalase berisi bahan-bahan untuk campuran bakso itu ambruk menimpa Rainold. Melihat kejadian ini, membuat Joki yang bersemangat datang untuk makan bersamanya perlahan mundur menghilang. Ia mencari jajanan yang ada di warung belakang sekolah, melompati pagar. Ia tidak mau ikut berurusan dengan anggota-anggota Dandy Cs.


"Aaaaggghhhh!" Rainold berteriak kesakitan karena kuah bakso yang pan4s tumpah menimpa tubuhnya. Bahan-bahan untuk meracik makanan merakyat itu berantakan karena etalase tersebut berhamburan ke mana-mana.


Sungguh sial Rainold pagi ini. Di saat Dandy sedang tidak masuk sekolah, pergelangan tangannya telah r*muk oleh tangan Aziel. Siswa yang ia yakini kemarin tak bergerak sama sekali usai dik3r0yok bersama-sama kawannya yang lain. Ia tak percaya Aziel yang kemarin masih memiliki tubuh tidak begitu proporsional, bisa mengangkatnya hingga membantingnya seperti tadi.


Tubuh Aziel pagi ini sungguh tampak berbeda dari biasanya. Kini Aziel tampak lebih tegak, tinggu dan entah posturnya sungguh sangat proporsional. Tidak seperti sebelumnya, ceking dan sangat kurus.


Semua siswa yang sedang berada di dalam kantin yang tadinya memilih menu untuk sarapan tampak shock. Pedagang pemilik stand bakso mulai panik karena dagangannya sudah habis terbuang tanpa menghasilkan uang sama sekali. Ia terduduk pasrah meratapi nasib.


Belulangnya sudah terasa layu duluan karena perkiraan kerugiannya hari ini mencapai angka seratus persen, membuatnya tak saggup memyelamatkan Rainold. Di antara semua yang ada di sana, tak satu pun yang bisa membantu Rainold di sana.


"Nah, itu dia!" ucap salah satu siswa pada seorang guru wanita.


"Aziel? Itu beneran kamu?" Ucapan itu lah yang keluar dari mulut sang wali kelas yang bernama Intan. Ia tak menyangka, si berandalan pencuri anak didiknya ini berpenampilan jauh berbeda dibanding hari kemarin.

__ADS_1


Orang yang ditanya tidak menjawab. Aziel masih memandangi anak yang tidak dikenalnya merintih kesakitan. Aziel berjalan menuju pria dewasa yang terlihat duduk dengan layu. Pada tangannya kini sudah berada di kantong celana, tengah menggenggam segenggam uang yang ia ambil dari akun gaib miliknya.


Aziel duduk berjongkok menyamaratakan posisinya dengan sang pedagang yang tampak sedih merugi di pagi hari. "Pak, maafkan saya. Saya tidak bermaksud menghancurkan dagangan Anda." Aziel mengucapkannya dengan menggunakan bahasa formal tingkat atas.


Hal ini membuat sang pedagang menengok Aziel memasang wajah herannya. Namun, ia tidak menjawab apa-apa. Hatinya masih terasa letih dengan keadaan.


Aziel mengeluarkan uang yang sudah ada dalam genggamannya. "Semoga ini cukup membayar semua kerusakan yang saya lakukan pagi ini."


Pedagang bakso tadi tampak terkejut melihat tumpukan uang di tangannya. "A-apa ini? Kenapa kamu punya uang sebanyak ini?"


Intan, guru yang memperhatikan tindak tan duknya sedari tadi terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja ditontonnya. Dengan cepat ia berjalan mendekati Aziel lalu menarik kuping siswanya itu.


"Aaagghh!" Refleks Aziel mendorong tangan gurunya itu membuat wanita berusia tiga puluh tahun tersebut tumbang. Aziel menarik kerah bagian belakang dari pakaian sang guru hingga membuat tubuh gurunya tertahan tak jadi tumbang.


Setelah memastikan sang guru baik-baik saja, Aziel menarik tangannya dengan cepat. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.

__ADS_1


Sang guru mendengar sapaan itu seketika naik darah. "Apa katamu? Coba ulangi?" ucapnya dengan penuh amarah.


"Kau baik-baik saja?" Aziel benar-benar mengulangi dengan bunyi yang persis sama.


Mendengar bahasa Aziel yang terasa tidak s0pan itu membuat gurunya murka. "Kamu, ikuti saya ke ruang guru!" Intan berjalan dengan raut kesal menuju ruang guru.


Akan tetapi, ia tidak menyadari siswanya itu tidak mengikuti langkahnya sama sekali. Aziel memilih kembali ke kantin, karena perutnya memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Ditambah lagi, saat malam tadi Aziel diberi tugas menjadi kuli. Sungguh tak tertahankan lagi rasa lapar itu.


Ternyata, Rainold sudah dikelilingi oleh kawan-kawannya yang lain. Mereka tampak memasang wajah tajam kepada Aziel. Sebagian lain memapah siswa yang tadi tersir4m air p4nas keluar menuju suatu tempat.


"Elu yang membuat kawan kami seperti ini?" teriak salah satu yang lain, memiliki postur tinggi, dan tubuhnya tampak atletis.


"Bener Yud, dia yang buat Rainold kesiram air pan4s," jawab saksi mata yang masih dari anggota gengnya.


Yuda, siswa yang tampak cukup disegani oleh kawan-kawannya memberi kode agar semuanya menarik Aziel agar ikut dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2