Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
43. Misi Hafal Alquran


__ADS_3

Aziel menatap Baron dengan wajah datarnya. Dia tak menanggapi, tetapi hanya berbalik mengatur anggota yang lain membongkar bagian-bagian yang dirasa sudah tidak diperlukan lagi.


Sementara itu, Baron yang diperlakukan demikian, merasa malu karena tidak dianggap oleh lelaki kecil, tiba-tiba naik pangkat menjadi boss besar.


"Bocah? Kau permalukanku?" rutuknya.


Aziel menatap Baron dengan tajam. Membuat pria yang memiliki tato di sepanjang tubuhnya tergidik takut. Ia membuang muka memukul pelan anak buahnya dulu. "Yang itu, buka!" titahnya sembari melirik waswas ke arah Aziel.


Joki memperhatikan tingkah kedua orang ini. Dia tersenyum penuh arti menatap Aziel yang telah sibuk memimpin para pria berwajah sangar itu. "Gue bangga sama lu, Ziel. Beruntung kita bertumbuh bersama, dan gue melihat sendiri perubahan lu yang sangat pesat."


Tiba-tiba, ada yang mendorongnya. "Lu kalau cuma berdiri kayak raja mending jauh-jauh sanah!" ucap pria berwajah sangar.


"Eh, eh, enggak Bang. Gue juga mau beres-beres kok."


*


*


*


Keesokan pagi, Aziel telah sibuk dengan brangkas besi mini yang ia pesan kepada Kano. Sistem yang memandunya untuk menjadi soleh, tidak mengabulkan permintaannya supaya menyimpankan emas tersebut secara gaib saja. Sehingga, usai membenahi warung ayam gorengnya, Aziel meminta Kano untuk mencarikannya brangkas besi dengan ukuran yang tidak terlalu besar.



Aziel telah menyimpan emas yang diberikan Sistem untuknya, sebanyak sepuluh batang emas masing-masing ukuran satu kilogram. "Moga kau bisa memanfaatkan semua ini dengan baik, di masa depan nanti Aziel. Meskipun Papa tidak lagi bersamamu, setidaknya Papa sudah menyiapkan segalanya untukmu agar kamu tak lagi menderita menjalani hidup yang buruk."


Aziel bergumam, menyembunyikan brangkas kecil itu ke dalam lemarinya. Ia telah siap dengan seragam putih abu-abu, yang telah rapi melekat di tubuhnya. Ia memandangi wajah yang terpantul dalam cermin.

__ADS_1


"Kamu sangat mirip dengan mamamu. Setelah ini, kamu harus rajin mendoakan kami. Jadi lah anak soleh. Hadiah kan kami, mahkota bercahaya terang, dengan menjadi penghapal Alquran. Kelak, kamu akan membantu papamu terbebas dari siksaan neraka yang maha dahsyat p4nasnya."


[ ding ding ]


[ Sepertinya harapanmu terlalu tinggi untuk dirimu sendiri. Bagaimana kalau kamu menerima tantangan misi yang cukup besar? ]


Aziel memutar bola matanya. "Kali ini hadiahnya apa?"


[ Jika kamu berhasil melakukannya, maka, rumah sakit milikmu yang disita negara, akan kembali ke tanganmu. Nama Arsenio Wijaya akan bersih, dan mansion dulu yang kau tinggali akan kembali ke tanganmu. ]


Aziel membesarkan bola matanya tampak takjub. Wajahnya yang biasa terlihat datar, kali ini terlihat tertarik. Tentu saja dia akan sangat senang, semua yang pernah menjadi miliknya, kembali ke tangannya.


"Apa benar semua yang kau katakan, Sist?"


[ Tentu, sejak kapan aku berbohong? Aku bukan manusia yang pintar berbohong. Aku adalah Sistem yang memandumu untuk memilih jalan benar hingga seratus hari untuk memperbaiki segala kesalahan masa lalumu! ]


[ Kau sudah melihat sendiri bentuk senyuman mengerikanmu itu? ]


Aziel tidak menjawab, ia mencoba kembali mencoba untuk tersenyum sebaik dan setulus mungkin.


[ Bagaimana? Tertarik menerima misi yang berkah langit dan bumi yang akan diaminkan oleh para malaikat? ]


"Misi apa itu?"


[ Menghapal seluruh ayat yang ada dalam Alquran, selama bulan Ramadhan ini! ]


[ Jika berhasil, maka semua yang aku katakan akan kau dapatkan. ]

__ADS_1


[ Jika tidak berhasil, maka, kau harus bersedia kehilangan semua emas yang baru saja kau dapatkan ini. ]


*


*


*


Aziel dan Joki baru saja turun dari motornya. Mereka baru saja sampai di sekolah, dan tampak puluhan mata menatap ke arah mereka, tepatnya ke arah Aziel yang baru saja melepaskan helm fullface yang tadi menutup wajahnya.


Dari bagian lain, Dandy, sudah tidak mengenakan gips lagi di tangannya berdecak kesal melihat pemandangan yang membuatnya iri. Bahkan, kekasihnya Gisel sudah tidak tertarik lagi berdiri di sampingnya.


Dandy melihat kawanannya, menatap Aziel dengan mata berbinar. Dandy melemparkan botol air mineral yang ia pungut, ke arah kawanannya itu.


"Wooi, pengkh1anat! Kenapa lu pada malah seneng melihat kedatangannya? Lu pade pengen duit lagi?" Dandy merogoh kantongnya. Namun, uang yang ia temukan saat ini hanya beberapa lembar uang lima ribuan.


Salah satu kawannya tadi melihat apa yang terjadi pun tertawa. "Itu beda dia sama elu, Dan. Dia nggak pernah koar-koar bapaknya kaya, tapi ngasih kita-kita yang sering ngerjain dia duit cuma-cuma. Nah, elu? Ngasih kami apa coba?"


Kawan yang lain mengangguk. Karena mereka memang takhluk dengan Dandy karena alasan ayahnya adalah ketua yayasan sekolah ini. Setidaknya, jika dekat dengan Dandy, nilai mereka turut menjadi aman karena jaminan sebagai orang yang dekat dengan anak ketua yayasan.


"Dah. Ayo kita bubar," ajak kawanannya itu.


Dandy menghalangi. "Woi, masa bubar? Gue mau traktir kalian baso di kantin. Gue utangin dulu, nanti bokap yang bayarin itu semua."


"Huuuu!" sorak semuanya serempak. Semua kawanan geng Dandy, meninggalkan anak laki-laki berwajah bingung itu.


Dandy berusaha menahan, tetapi malah didorong kasar oleh mereka. Lalu, tatapannya beralih pada dua siswa yang diiringi tatapan kagum hampir semua siswi sekolah ini.

__ADS_1


Dandy memukuul angin berdecak pergi. "Kita lihat saja nanti, sampai kapan dia akan disanjung seperti itu?"


__ADS_2