Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
46. Dendam pada Dandy


__ADS_3

"Lepas! Kau membuat konsentrasi saya buyar!"


Joki mengernyit kesal, menepuk pundak Aziel. Namun, kali ini kepala Aziel terhentak ke belakang hingga helm full face yang ia kenakan membentur helm Joki.


"Buju buset? Untung gue pakai helm. Kalau tidak, hidung gue udah penyok lu tabok pake kepala!" rutuk Joki beringsut kesal.


"Jangan kau ulangi lagi!" ucap Aziel terus fokus menarik gas menuju arah yang ditunjuk oleh Joki.


Namun, mereka kehilangan jejak. Tak ada bayangan Dandy sama sekali. Aziel mulai berbicara lewat pikiran dengan Sistem.


'Sist, tolong tunjukan arah mereka!'


[ Putar balik! ]


Aziel segera berputar balik membuat Joki melongo.


"Kenapa malah balik lagi?" protesnya.


"Diam dan perhatikan saja!" ucap Aziel masih berkonsentrasi dengan kendaraannya.


[ Belok kiri! ]


Aziel membelokan motor sporty itu memasuki persimpangan yang mulai sedikit sepi. Di sana merupakan area yang mengikuti jalur sungai yang tak begitu ramai dilewati oleh orang awam.


"Ziel, lu yakin kita mesti lewat sini?" Joki melirik ke arah kiri dan kanan dengan wajah ragu. Baginya tidak mungkin sebuah rubicoon melewati jalur sepi yang terkesan sedikit angker.


Namun, pemuda yang mengendarai motor tersebut memilih diam dan terus melaju. Dari ujung jalan, tampak rubicoon yang biasa mereka lihat di sekolah. Joki kembali menepuk pundak Aziel, membuat pria muda itu melirik Joki dengan kesal.


"Itu! Itu! Itu mobil Dandy! Apa kata gue? Bener kan dia di sini?"

__ADS_1


"Ck!" Aziel berdecak tanpa komentar. Ia segera menuju kendaraan terparkir tersebut dan menghentikan motornya tepat di belakang mobil yang berhenti itu. Tak jauh dari sana, motor Joki yang dibawa kabur oleh anak buah Arsen, berdiri tanpa siapa pun di sekitarnya.


"Mana mereka?" tanya Aziel.


Joki mengedikan bahu. "Lu lihat sendiri, gue juga baru sampai bareng elu. Jadi mana gue tahu mereka di mana?"


[ Cepat turun ke sisi sungai! Mereka ada di sana! ]


Aziel berjalan cepat setengah berlari menuju sisi sungai. Di sana, tampak dua pria sedang sibuk memukul Dandy. Dandy terkulai tak berdaya di tangan anak buah Arsen itu. Salah satu dari mereka memegang sebilah belati yang teramat tajam. Benda yang menjadi andalan kala beraksi seperti beberapa waktu lalu sebagai anak buah Arsen dalam mencari mangsa.


"Hoi! Apa yang kalian lakukan?" teriak Aziel berlari mendekat.


Menyadari kehadiran Aziel, Dandy didorong jatuh di atas beton yang menyangga sungai.


"Tu-Tuan Muda, kenapa ke sini?" tanya mereka gugup.


"Kenapa kau membawa itu? Kau mau apa padanya?"


"Kami hanya ingin membalas kelakuannya karena sudah berbuat semena-mena kepada Joki, teman baik Tuan Muda," terangnya.


Aziel menarik belati yang ada di tangan salah satu pria itu dan melemparkannya masuk ke dalam sungai. Ia melirik Dandy. Tubuhnya ingin bergerak untuk menolong Dandy, tetapi kakinya tak mau bergerak sama sekali.


Aziel mencoba menggangi sisi kaki yang akan dibawa maju, tetapi ternyata masih sama. Kakinya bagai diberi perekat membuatnya tidak bisa bergerak untuk menolong pemuda yang telah lemas dan wajahnya kuyu karena menjadi sasaran bogem mentah para anak buah.


"Jok, coba kau bantu dia!" ucap Aziel.


"Ogah!" ucap Joki cuek.


"Nanti kalau kau mau membantu dia, akan saya kasih uang," tawar Aziel.

__ADS_1


Joki melengos tak tertarik. "Apa lu lupa, bagaimana sikap dia kepada kita selama ini? Gue malah setuju dia dihajar om-om keren ini. Kalau gue jadi elu, udah gue hanyutin dia masuk ke sungai! Tadi aja gue hampir meninggoi gara-gara dia pepet terus!"


Aziel melirik dua pria yang tertunduk takut menatap pemuda bermata coklat itu. Aziel melangkah menepuk lengan salah satu dari mereka. "Cepat bantu dia!"


"Lu nyuruh-nyuruh mereka udah macam boss yang berkuasa aja? Sebenarnya lu siapa, Cung? Kenapa lu dipanggil Tuan Muda sama mereka?"


Aziel menatap tajam kepada Joki. Namun, lawan bicaranya hanya membuang muka bersikeras tidak mau membantu Dandy.


"Mungkin buat lu gampang memaafkan dia. Tapi buat gue kagak! Hati gue sudah terlanjur sakit gara-gara dia!" ucap Joki lagi.


"Ingat Jok, sebentar lagi bulan suci Ramadhan. Kita mesti saling memaafkan. Allah aja Maha Pemaaf, kenapa kamu begitu keras hati?"


[ Wuuuiihh, kereeen ... Kau mendapat bonus kebijakan sebesar Rp10.000.000,- ]


[ Saldomu saat ini bertambah menjadi delapan ratus juta rupiah ditambah sepuluh kilogram emas 24 karat ]


Mendengar itu, Aziel terkekeh begitu saja. Suasana tegang karena amarah Aziel tadi berubah seketika membuat dua pria yang terus menunduk turut tertawa. Sementara itu, Joki mendengkus kesal memasang telunjuk miring pada keningnya.


"Lu jangan bercanda dalam situasi seperti ini, Bung!"


Aziel mencoba melangkah kan kakinya menuju Dandy yang terlihat antara sadar dan tak sadar. Akan tetapi, ternyata kakinya tak mau bergerak kembali.


"Ck!" Aziel mulai bingung dengan dirinya.


"Kalian berdua, cepat bawa dia ke rumah sakit!" Aziel lebih dulu meninggalkan lokasi, diiringi Joki.


Mereka, menunggu dua pria tadi mengangkat Dandy, lalu mengendarai rubicoon membawa Dandy ke rumah sakit.


Setelah keluarga Dandy dipanggil, kedua orang tuanya datang tak sendiri. Mereka diikuti para pria berseragam coklat yang berlabel POLRI.

__ADS_1


__ADS_2