Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
8. Imam Mesjid


__ADS_3

'Sist, mana reward usai mengerjakan misi saya?' ucapnya dalam hati.


[ .... ]


Namun, ternyata tidak ada jawaban dari Sistem.


'Ck!' Aziel berdecak, tetapi ia kembali membisu. Ia memandangi semua orang menunggu iqomah berkumandang sembari melaksanakan sholat sunah. Namun, Aziel kali ini memilih untuk duduk menunggu.


Tak lama kemudian, iqomah berkumandang membuat semua jemaah yang ingin melaksanakan sholat berjamaah, bangkit dari posisinya. Aziel juga bangkit dan menoleh semua orang berdiri dengan jarak yang sangat rapat.


Aziel yang tidak ingin terjepit di tengah keramaian, memilih posisi sendirian di belakang. Namun, tubuhnya bergerak dengan sendirinya kembali ke posisi depan. Ia menyadari tubuhnya tengah dikendalikan oleh Sistem.


Ia mencoba melawan, tetapi kekuatan yang entah datang dari mana, dengan leluasa mengendalikan tubuhnya untuk berdiri dalam shaff yang rapat.


"Shaff diluruskan dan dirapatkan!" ucap Imam yang memimpin sholat jemaah Ashar kali ini.


Mendengar hal itu, akhirnya Aziel memasrahkan dirinya untuk berdampingan dengan jemaah yang lainnya. Ketika Imam mulai melaksanankan salat ditandai dengan takbiratul ihram.


"Allahuakbar!"


Semua jemaah mengangkat kedua tangannya dekat telinga. Aziel melirik ke kiri dan kanan lalu melakukan hal yang sama. Namun, ia heran. Kenapa Imam hanya hening dan tidak membunyikan bacaan sholat dengan nyaring. Aziel masih tampak kebingungan melirik ke kiri dan kanan. Semua orang terlihat khusuk dengan salat mereka masing-masing. Aziel pun memutuskan untuk khusuk dan melakukannya tanpa protes.


Namun, ternyata ... setiap perubahan gerakan salat, masih ditandai dengan suara takbir. Hal ini membuat Arsen yang berada di dalam tubuh Aziel seakan de javu pada masa dahulu, di saat ia masih kecil. Di masa ia mengaji bersama guru ngaji yang sengaja dipanggil oleh ayahnya. Akan tetapi, itu tidak lama. Keburu orang tuanya berpindah dari satu negara ke negara lain, dan kembali lagi menetap di negara ini setelah mendirikan sebuah rumah sakit.


Degh


Ia teringat akan masa ia memb*nuh ayahnya sendiri untuk mengambil alih kepemimpinan rumah sakit itu. Salat yang ia lakukan mulai tidak khusyuk. Debaran jantungnya terasa begitu cepat hingga napasnya terasa sesak. Air matanya mulai jatuh tanpa sempat terbendung di pelupuknya.


Ketika semua orang sudah salam, menyelesaikan salat, pemuda yang berseragam sekolah itu masih berdiri dengan tangan bersidekap, sebagaimana posisi salat. Semua jemaah memandangi remaja itu yang menangis di dalam salatnya.


Imam yang tadinya memimpin salat, kini turut memperhatikan remaja laki-laki yang terlihat tampan, tampak sesegukan tanpa menyadari telah ketinggalan jauh.


Sang imam bergerak mendekat dan menepuk pundak pemuda itu. Tiba-tiba ia terkesiap dan tangannya turun. Ia melirik ke arah kiri dan kanan baru menyadari bahwa tak ada lagi jemaah dalam posisi berdiri.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Nak? Apa yang kamu pikirkan dalam salatmu?" tanya pria berjenggot putih itu.


"Ah, saya ...." Aziel mengusap air matanya dengan lengan seragam putihnya yang telah berganti warna kecoklatan.


"Ayo ikut saya sejenak!" ucap sang Imam mesjid.


Aziel mengikuti orang tua itu menuju pojokan mesjid yang terasa cumup sepi.


"Silakan duduk!"


Aziel melirik semua orang yang tampak mulai meninggalkan mesjid. "Tapi, saya belum salat, Pak," desisnya.


"Iya, saya tahu. Hanya saja saya ingin tahu alasanmu, kenapa bisa tidak fokus di saat melaksanakan salat berjemaah tadi?"


Aziel menundukkan wajahnya. Tak mungkin rasanya ia mengatakan bahwa teringat akan kejah4tannya di masa lalu. Ia memilih untuk diam membisu.


"Sepertinya itu adalah sesuatu yang berat ya?" tanya Imam itu kembali.


Aziel masih tak bergeming tanpa memberikan respon kepada pria berjenggot bewarna putih itu.


"Saya Arsen, Pak. Umur sudah lima puluh tahun." Aziel terdiam sejenak. Ia menyadari baru saja melakukan kesalahan.


"Arsen? Lima puluh tahun? Seusia saya?" Pria itu mengelus jenggotnya tertawa mengira pemuda di hadapannya ini tengah bercanda.


"Ma-maksudnya itu ayah saya. Namanya Arsen, udah lima puluh tahun. Tapi, ayah saya tidak terlihat setua Bapak," ucapnya lagi.


"Hahahah, begitu ya? Jadi nama kamu siapa? Kenapa rentan usia kalian begitu jauh? Di usia saya saat ini, saya telah memiliki banyak cucu." ucap Imam tadi.


"Oh–oh, ayah dan ibu saya terlambat cukup lama mendapatkan anak. Setelah delapan tahun, baru lah mereka punya saya," ucap Aziel sedikit terbata.


"Oh iya, nama saya Aziel, Pak Ustadz."


"Oh, Aziel ... ternyata begitu." Pria berjenggot itu kembali menganggukan kepala. "Tapi, sepertinya kamu seusia dengan putri saya Kirana. Ia masih sekolah kelas sebelas."

__ADS_1


Aziel tidak merespon nama itu, karena ia merasa tidak kenal. Namun, perlahan ia mulai memperhatikan lawan bicaranya. Ia menilai, sebenarnya dirinya yang asli harusnya seusia dengan pria ini. Akan tetapi, keburan dan keadaan dirinya semasa hidup tampak jauh lebih muda. Hal ini karena dulunya ia sering olah raga dan latihan bela diri. Sehingganya membuat dirinya selalu tampak bugar.


"Lalu, apakah kamu mau menceritakan alasan kenapa kamu bisa tertinggal sendirian saat salat tadi?"


Aziel menggelengkan kepala. "Hanya teringat pada masa dulu saya yang sangat menyedihkan, Pak Ustadz."


"Sepertinya kamu mengalami masa-masa sulit dalam usiamu yang masih sangat belia." Pria berjenggot putih itu menganggukan kepala kembali.


"Apakah kamu sudah berwudhu?"


"Sudah, Pak," ucap Aziel.


"Apakah wudhumu sudah bebar?" tanya pria yang bertugas sebagai Imam mesjid ini.


Aziel menggelengkan kepala dengan ragu. "Sa-saya tidak tahu cara berwudhu dan salat yang benar. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama saya kembali berwudhu dan salat."


Pria berjenggot itu mengangguk kembali. "Masya Allah ... Saya begitu bangga mendengar jika seseorang mulai bertobat seperti ini." Beliau menganggukan kepala.


"Baik lah, saya akan mengajarkanmu tata cara berwudhu yang benar. Semakin benar wudhumu, maka akan semakin benar juga salatmu. Maka, kuncinya memang diawali dengan cara bersuci dengan benar!" Imam mesjid itu memperhatikan keadaan Aziel. Wajah tampan bermata coklat itu, terlihat mengenakan pakaian yang sangat kotor.


"Kamu tunggu di sini sejenak!" Ia bangkit dan menuju sebuah ruangan di dalam mesjid itu. Tak lama kemudian, ia menyerahkan baju koko, sarung, san kopiah bewarna putih kepada remaja sekolah itu.


"Sekarang kamu mandi dulu, lalu ganti pakaianmu dengan ini."


Aziel memandangi beberapa benda yang ada di tangan imam mesjid itu. "Untuk apa Pak Ustadz?"


"Agar kamu benar-benar bersih saat bertemu dengan Allah."


Aziel menganggukan kepala. Tanpa pikir panjang ia menuju kamar mandi mesjid dan membersihkan diri menggunakan sabun yang ada di sana. Untuk pertama kali dalam hidupnya, mandi di tempat umum seperti ini. Namun, semua telah terbolak balik, di saat ia masuk dan menjalani hari-hari menjadi sang putra. Yang nyatanya hidup penuh derita.


Setelah menyelesaikan mandi, ia segera memakai pakaian bersih yang baru saja diberikan imam saat salat tadi. Saat pintu kamar mandi dibuka, ternyata sang imam telah berdiri tepat di depan pintu.


"Cepat baca dulu doa setelah keluar dari kamar mandi!" ucap pria berjenggot itu.

__ADS_1


"A-apa?"


__ADS_2