
*Assalamualaikum ... Selamat siang Kakak dan Abang Readers semua ... Mohon maaf lahir dan batin yah semuanya. Selamat menyambut Bulan Suci Ramadhan 1444H 🙏🙏*
...****************...
Uztadz Syahrul tergelak mendengar ucapan laki-laki muda ini. "Kenapa merasa begitu?"
"Anda menatapku dengan wajah penuh kecurigaan?" ucap Aziel.
Ustadz Syahrul kembali terkekeh mengusap jenggotnya menggelengkan kepala. "Hanya saja, wajar jika saya merasa takjub. Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan, hingga saat ini saya sendiri tidak pernah memegang uang sebanyak yang kamu pegang." Ustadz Syahrul menggeleng kepala masih terkekeh dengan pemandangan yang ia lihat.
"Ooh, begitu, Pak Ustadz? Apakah Anda kekurangan uang?"
__ADS_1
"Bukan. Alhamdulillah dengan pekerjaan yang saya miliki, keluarga kami tak kekuarangan satu apa pun." Ustadz Syahrul memberi aba-aba kepada pria muda itu untuk menunggu dalam beberapa waktu.
Ia menuju sebuah ruangan dan beberapa waktu kembali lagi. Setelah kembali, tangannya telah memegang sekumpulan kunci yang saling terikat satu sama lainnya. Ustadz Syahrul membuka kunci gembok kotak amal yang akan diisi uang-uang yang ada di tangan Aziel. Kotak itu terlihat kosong tanpa isi.
"Kamu mau memasukan uang-uang itu ke dalam ini?"
Aziel tak menjawab, tak pula memberikan reaksi tertentu, ia hanya sekedar memberikan tanggapan datar yang mengartikan bahwa ia memang ingin memasukan ke dalam sana.
"Pak Ustadz, saya rasa uang yang akan diinfakan itu, harus kita selidiki dulu asal muasalnya." Tiba-tiba, seorang yang sedari tadi memantau, akhirnya membuka suara. Pria itu berjalan semakin mendekat.
Pak Rudi, orang yang sedari awal terus menaruh curiga kepada pemuda ini, tiada henti menatap tajam kepada Aziel. "Ini uang siapa lagi kau curi?"
__ADS_1
"Ini bukan hasil curian! Ini adalah rezeki tak terduga yang diberikan oleh Allah swt," ucap Aziel menantang langsung Pak Rudi yang terus menatap curiga padanya.
Pak Rudi menatap pada Ustadz Syahrul. "Saya rasa dia berbohong Pak Ustadz. Mustahil sekali jika seorang siswa, yang biasa mencuri milik orang lain, tiba-tiba memiliki uang sabanyak ini dengan alasan diberikan oleh Allah. Emangnya ada ya, uang jatuh begitu saja dari langit?"
Aziel menghela napas panjang dan menatap uang yang ada di tangannya. "Apa Anda mau juga?" Aziel menyodorkan uang tersebut ke hadapan Pak Rudi.
Aziel membagi dua uang yang ada di dalam genggamannya. "Nah, ambil lah! Siapa tau Bapak jadi kesusuhan setelah saya curi dulu. Ini ganti rugi dari semua yang telah berlalu. Katakan jika ini masih kurang, saya tak akan ragu membayarnya."
Pak Rudi terbelalak melihat uang yang disodorkan kepadanya ini. Beberapa saat ia merenung dan tangannya mulai bergerak ingin mengambil uang yang disodorkan Aziel. Setelah itu, gerakannya berganti pada gelengan cepat pada kepala. "Ini uang haram! Enak sekali kau mengganti uang yang sudah susah payah kukumpulkan dengan hasil curian lainnya."
Aziel menyatukan uang itu kembali. Ia memilih tidak ambil pusing dengan yang terjadi. "Baik lah! Kalau begitu, saya akan memasukannya ke dalam kotak infak saja." Tangan Aziel bergerak begitu saja memasukannya ke dalam kotak infak yang tadinya dibuka oleh Ustadz Syahrul. Aziel merasa urusannya sudah beres, bergerak ingin beranjak dari cecaran Pak Rudi.
__ADS_1
"Tunggu! Kamu sendiri lihat kotak ini sudah kosong, kenapa tidak menyerahkan kepada saya secara langsung?" tanya Ustadz Syahrul.
Aziel menundukan kepala, lalu kepalanya melereng pada sosok yang berdiri bagai m4ta-m4ta kepolisian. "Sebenarnya saya sedang tidak ingin berlaku riya, Pak Ustadz. Namun, ternyata malah menjadi praduga yang buruk terhadap diri saya. Jadi, apakah dalam memberikan sesuatu itu mesti terang-terangan?"