
Joki tertegun mendengar suara Azan memandakan bahwa ia sudah tidak boleh lagi untuk melanjutkan makan. Aziel menarik kurma yang dijepit dua jari Joki dan memasukannya kembali ke dalam kotak lalu menyimpannya ke dalam kulkas membiarkan Joki shock mematung sendirian.
Beberapa waktu kemudian, Aziel telah siap dengan pakaian muslimnya dan ternyata, Joki masih berdiri pada posisi dan gaya yang sama. Aziel menghembuskan napas berat menepuk pundak Joki.
"Solat oiy!" ucapnya tepat di depan wajah Joki.
Joki tersentak dan menggelengkan kepala. "U-udah beres aja sahurnya?" tanyanya lagi tampak tak percaya.
Aziel melirik jam. "Udah sejak lima menit yang lalu! Salat jemaah dulu ke mesjid!" Aziel berjalan keluar tanpa menunggu Joki yang masih termangu memaksa menerima keadaan.
Aziel berjalan menuju mesjid sendirian. Ia seakan memahami Joki yang masih shock melepaskan waktu sahurnya, membiarkan temannya itu tak ikut salat berjamaah.
Di dalam mesjid, anggota yang salat di mesjid tidak sebanyak hari pertama Ramadhan. Selain Baron dan beberapa anggota lain yang hengkang kemarin, ada beberapa lagi yang tidak ikut dengan alasan kelelahan termasuk Kano.
"Kasihan mereka, Tuan Muda. Mereka yang tidak terbiasa melaksanakan puasa mengalami penurunan kesehatan. Ditambah lagi usia yang tak lagi muda," ucap salah satu anggota memberi alasan.
__ADS_1
Aziel tidak menanggapi dan bergerak cepat menuju warung ayam, menjadi basedcamp mereka akhir-akhir ini. Aziel memdapati keadaan di sana dari jauh yang sangat ramai. Akan tetapi, saat ia semakin dekat, suasana malam terasa sunyi.
"Keluar! Saya tahu kalian baik-baik saja!" teriak Aziel dengan suara parau khas remaja.
Perlahan, terdengar gerakan beberapa orang yang tadinya bersembunyi sembari membersihkan mulut. Aziel menangkap hal demikian dan menggelengkan kepala.
"Hanya segitu usaha kalian?"
"Maaf, hanya saja kami tidak sanggup, Tuan Muda," ucap salah satu anggota yang menundukan kepala.
Aziel menuju ke arah dapur, mengambil pematik api berbentuk pist0l. Ia menarik pelatuk pada benda itu, hingga mengeluarkan api pada ujungnya. Tanpa pikir panjang, ia mengarahkan kepada anggota yang tertangkap basah tadi, termasuk Kano.
"Kenapa kalian takut? Bahkan, kalian sudah berani menantang diri untuk masuk ke neraka!"
Kano mengangkat wajahnya. "Maaf, Tuan Muda. Tentu saja kami takut, karena api itu terasa sangat panas."
__ADS_1
"Apa kalian tidak tahu, panas api yang ada di dunia ini tak seberapa dibanding panasnya api neraka? Kenapa kalian takut? Bukan kah kalian sudah bersiap untuk menghadapi mahadahsyatnya panas api neraka?" cecar Aziel.
"Kami tak berani, Tuan Muda. Bagaimana alam setelah kematian itu pun, kami tak sempat membayangkannya."
"Apa kalian mau mencoba bagaimana rasanya m4ti? Namun, aku tak bisa menjamin tempat terbaik untuk kalian di sana. Sedangkan api kecil begini kalian sudah sangat ketakutan!"
"Kalian tahu, penyesalan paling utama yang tak bisa diubah adalah waktu. Setidaknya kalian lebih beruntung dibanding seorang pria yang bernama Arsenio Wijaya! Dia m4ti dalam keadaan hin4 dengan lumuran dosa memastikan dirinya adalah orang yang akan ditempati pada kerak neraka. Apa kalian ingin seperti itu juga?"
Semua orang yang ada di sana tak bergeming. Segala dosa masa lalu yang mereka lakukan terlintas dengan cepat dalam ingatan.
"Saya, tak ingin kalian seperti itu juga. Bahkan anak semata wayangmu tidak Bagaimanamengetahui kematian kamu? perasaanmu?"
"Saya belum menikah, Tuan Muda."
"Istri saya jauh di kampung halaman."
__ADS_1
"Istri saya belum hamil juga."
Kericuhan saling sahutan membuat Aziel murka. "SAYA TIDAK MENANYAKAN KEBERADAAN ANAK KALIAN!!"