
Tentu saja Aziel memberontak tidak terima saat dirinya dipeakukan seperti itu. Dengan mudah, tangan yang tadinya menarik dirinya didorong oleh Aziel.
"Saya tidak mengenal kalian, dan pergi lah! Jangan membuat saya murka!" Suara dingin Aziel membuat Yuda dan seluruh gerombolannya tertawa sinis.
"Sepertinya dia mengalami gegar otak setelah kejadian kemarin." Yuda memberi aba-aba menarik Aziel dan mereka segera mengikuti apa yang diperintahkan tanpa vokal secara langsung oleh mulut siswa bertubuh tinggi itu.
Aziel kali ini memilih diam tak melawan, mengikuti arah orang-orang itu menariknya. Ia mulai menebak siapa siswa-siswa berandalan ini. Dan, perlahan ia tahu, bahwa anak-anak ini lah yang membuat putranya terluka. Aziel masih memilih diam dan akhirnya sampai pada tempat yang sama, seorang Arsen bangun di dalam tubuh putranya, yang penuh dengan luka dan lebam hingga membuat sekujur tubuhnya kesakitan.
"Ternyata, makin ke sini lu makin berani ya? Kemarin, lu mencuri dompet Gisel, sorenya matahin tangan Dandy, hingga membuat dia harus mendapatkan perawatan intensif, lalu pagi ini giliran Rainold yang lu sentuh." Yuda mengusap pakaian Aziel yang masih tampak baru dan begitu rapi.
Sedikit senyum sinis, tubuh tinggi itu melompat dan melayangkan sikut kepada Aziel. Aziel menangkap serangan Yuda itu dengan muda, menarik lengan laki-laki yang lebih tinggi darinya itu ke atas.
Krek
"Aaagghhh!" Kali ini belulang Yuda yang seakan lepas dari sendinya.
Tidak hanya itu, Aziel tak memberikan kesempatan sedikit pun untuk Yuda, ia langsung melayangkan pukulan pada dagu Yuda.
"Aaagghh!" rintihan memilukan diiringi tumbangnya tubuh itu di atas rumput pojok sekolah.
'Ini untuk pembalasan atas perbuatan kalian yang menyakiti anakku!'
Aziel kembali melayangkan tinju pada tubuh yang tengkurap di atas rumput itu. Kembali teriakan Yuda terdengar sangat memilukan membuat anggotanya yang lain mundur saling sikut.
"Ternyata, kalian lah yang menyiksa seorang anak bernama Aziel Arsenio Wijaya. Apa kalian tahu dia anak siapa?" Aziel menyeringai.
__ADS_1
Para siswa berpakaian putih abu-abu itu saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak tahu sama sekali nama panjang Aziel seperti itu. Karena, yang mereka tahu nama Aziel, hanya sebatas itu.
"Asal kalian tahu! Aziel yang sekarang ini berdiri di hadapan kalian bukan lagi Aziel yang dulu. Bersiap lah menuai apa yang kalian lakukan kepada Aziel!"
Dengan seringai di wajahnya, Aziel mulai bergerak mendekati siswa berseragam yang masih berdiri cukup jauh darinya. Hal ini membuat, kawanan siswa berandal tersebut bergerak mundur dan kocar kacir kabur dari sana. Seringai Aziel tampak semakin mengerikan.
"Kalian hanyalah seujung kuku yang tak berguna! Berani sekali menyakiti Aziel, anakku!" gumam Aziel tampak terus mengejar mereka yang sudan berpencar lari tungganga langgang.
"Nah, kamu!?"
Langkah Aziel tertahan. Ada seseorang yang menarik kerah bagian belakangnya. Aziel memutar kepalanya menatap dingin pada sosok wanita berpakaian guru di belakangnya.
"Kenapa tidak menuruti perintah saya?" bentak Intan, guru wali kelas Aziel. Namun, ketika menatap lurus pada bola mata Aziel yang bewarna coklat itu, amarah yang tadinya membuncah, seketika hilang begitu saja. Tangan yang memegangi kerah baju itu terlepas begitu saja.
Intan menggaruk pelipis dan tengkuknya. Ia bagai orang bingung melirik ke kiri dan ke kanan. Lalu menatap Aziel kembali.
Aziel menganggukan kepala. Setelah itu, ia menuju kantin kembali. Ia seakan lupa pada amarah yang tadi meledak karena ulah Yuda dan kawan-kawannya. Perutnya masih belum diisi, dan kali ini sudah tidak bisa ditunda. Saat di kantin, kepala Aziel liar mencari sosok Joki yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
[ Dia itu menunjukan tanda-tanda pengkh1an4t. Sebaiknya kau tak usah terus bersamanya. ]
*
*
*
__ADS_1
Perkenalkan Visual yang dalam Pikiran Author. Kakak dan Abang Semua bisa memikirkan sesuai dengan Fantasi masing-masing kok.
Nama: Aziel Arsenio Wijaya ( 17 tahun ) putra dari Arsenio Wijaya ( meninggal dalam usia 50 tahun dan bertransmigrasi ke dalam tubuh anaknya ini )
Misalnya seringainya kayak di bawah ... Boleh dikhayalkan dengan yang lain kok.* ðŸ¤ðŸ˜‹ Author mengkhayalkan wajah Alwi Assegaf. Tapi Kakak/Abang readers lainnya boleh ngayalin suka-suka aja.
Soleh Mode:
Joki Leonard ( rekan yang akan selalu ada dan selalu hilang begitu saja )
Arsenio Wijaya ( Tidak usah aja kali ya? )
__ADS_1