Sistem Kekayaan Pria Soleh

Sistem Kekayaan Pria Soleh
20. Sekolah Aziel


__ADS_3

[ Harusnya kau beli dengan uang yang sudah terkumpul di dalam akunmu itu! ]


"Rumah aja bisa? Kenapa itu tidak bisa?"


[ Karena melibatkan banyak hal. ]


[ Lebih baik, kau bangun semuanya dari awal. Tentunya harus mengumpulkan modal terlebih dahulu! ]


Aziel kembali memasang muka datar. Dalam benaknya telah melayang pikiran hendak membuat perusahaan seperti apa. Kakinya melangkah menuju rumah reot yang tampak dari luar. Dengan santai, ia membuka pintu.


"Oh ya, Assalamualaikum," ucapnya.


Dari dalam tak ada jawaban. Aziel mendorong pintu itu dengan kuat, ia langsung disambut dengan rumah yang nyaman. Dari dalam kamar Joki, rekannya itu muncul dengan wajah bingungnya.


"Loh? Kok kandang kita berubah lagi?"


Aziel memasang wajah herannya. "Maksudnya?"


"Tadi ini, semuanya kembali jadi seperti sebelumnya! Lusuh! Saat elu muncul, kok jadi bagus lagi?" Joki membuka matanya dengan lebar.


"Jangan-jangan lu ini punya ilmu-ilmu perdukunan ya?" Joki berlari kecil masuk ke dalam kamarnya yang kembali tampak megah. Ia mencari tumpukan daun yang tadinya mau ia buang. Joki terperangah lagi. Daun-daun itu sudah menjadi uang kembali.


"Aziel? Lu ini beneran dukun ya? Tadi semuanya jadi daun lho?" Joki menyerobot Aziel dengan wajah herannya.


"Apaan? Dukun, dukun? Emangnya saya seperti dukun?" Aziel berlalu menuju kamarnya dan segera membersihkan diri masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia membuka lemari. Ia membayangkan di sana sudah terdapat seragam rapi yang telah bergantung. Dan benar, ia menemukan seragam bewarna putih abu-abu rapi dan bersih, segera memakainya.


Joki muncul masuk ke kamar Aziel dalam posisi terlilit handung. Wajahnya melongo melihat pakaian Aziel kali ini sungguh tampak sangat rapi. "Lu beli baju baru? Mana buat gue?"


Aziel mendorong Joki keluar dari kamar ini. Bagi seorang Arsen, kamar adalah privasi yang tidak boleh diganggu dan dimasuki oleh orang lain. Joki masih ingin mencoba mengelak dan masuk.


"Pergi!" ucap Aziel dengan nada dinginnya.


Joki tersentak mendengar Aziel yang seolah tampak berbeda dibanding biasa. Setelah keluar dari kamarnya, pintu itu ditutup membuak Joki memasang wajah dongkolnya. "Untung aja banyak duit. Kalo enggak, gue udah cekek lu sejak kemarin!"


Aziel melanjutkan persiapan menuju ke sekolahnya. Ia tak menemukan apa pun mengenai perangkat sekolah anaknya. Pemuda bermata coklat itu sekedar menggelengkan kepala. Secara ajaib, tas dan peralatan lain muncul begitu saja.


"Thanx!" ucapnya pada sesuatu yang membuat benda-benda itu muncul.


Aziel sudah siap dan rapi menuju ke sekolah, mendapati Joki yang masih acak-acakan mengenakan seragam dengan lapisan dalam bewarna hitam. "Ganti!" titah Aziel singkat.


"Ah, masa gue ganti? Udah keren ini!" tolak Joki memgernyitkan dahi memperhatikan penampilan Aziel sungguh berbeda dibanding biasanya.


Ia sungguh terlihat sangat rapi, dengan rambut disisir tak seperti biasa, baju masuk ke dalam, dan dasi terpasang laksana murid teladan. Joki menaruh punggung tangannya pada kening rekannya ini.


"Nggak panas," desisnya. Tangan itu pindah ke jidatnya sendiri. "Apa gue yang lagi sakit?"


Aziel tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi pada Joki. Ia melaju keluar dari rumah. Joki mengikuti di belakang tanpa mengenakan tas. Namun, Aziel tidak mempedulikan itu. Ia terus melangkah menuju sekolah mengikuti Joki, agar bocah itu tidak semakin curiga.


"Aah, buruan! Perut gue lapar! Kita sarapan di kantin sekolah!" Joki mempercepat langkah, dan terhenti ketika melihat seorang siswi berkerudung sedang patroli di gerbang.

__ADS_1


"Ayo cuiy! Keburu sekolah ditutup!" teriak Joki.


Aziel setengah berlari melewati siswi berkerudung tadi. Wajah siswi tadi terbelalak terus memandangi Aziel. "Itu Aziel? Beneran dia bukan sih?" Ia teringat pada Aziel yang hanya terlihat bengong memandangi pria buta di pinggir jalan.


Semua siswi di sekolah memandangi Aziel. Mereka saling bertanya, apa benar itu Aziel, yang baru saja ketahuan mencuri dompet Gisel, pacar Dandy, si anak kepala yayasan di sekolah ini.


"Sejak kapan Aziel se ganteng itu?" bisik salah satu siswi.


"Dan, tumben sekali dia berjalan dengan percaya diri. Biasanya dia kayak selalu ketakutan mulu." tambah yang lain.


"Entah lah, pokonya dia hari ini terlihat tampan." seloroh yang lain.


Kabar kedatangan Aziel yang tampak berbeda menggemparkan seluruh sekolah. Hal ini langsung terdengar oleh sang pemilik yayasan, orang tua Dandy. Anaknya melaporkan bahwa tangannya dipatahkan oleh Aziel, sang pencuri yang bersekolah di sini.


"Panggil dia dengan segera menghadap saya!" titahnya pada kepala sekolah, orang yang dipekerjakannya.


Dengan rasa hormat, sang kepala sekolah yang biasa dipanggil Pak Zal, kini memerintahkan wali kelas Aziel untuk segera memanggil anak itu, berbicara dengannya langsung. Bu Intan, sang wali kelas menghela napas memijit keningnya.


"Seperti biasa, dia selalu membuatku pusing."


Setelah menaruh tas di dalam kelas, Aziel tidak melirik apa pun di sana. Ia langsung menuju kantin, seperti ajakan Joki.


"Lihat ini! Si pencuri akan menggunakan hasil curiannya untuk makanannya hari ini!" Seorang berjalan mendekat. Dia adalah Rainold, kaki tangan Dandy. Tubuhnya besar dan tegap, ia bagai bodyguard yang begitu patuh pada Dandy. Tanpa aba-aba, lengan besar milik Rainold menarik pakaian Aziel.


Aziel membesarkan mata mendapat perlakuan tak terduga dari seseorang yang tidak ia kenal. Dengan tenang, jiwa mafia yang bersarang dalam tubuh itu ******* belulang Rainold hingga terdengar suara gemeletuk dari tulang siswa bertubuh besar itu, lalu membantingnya. Sialnya tubuh Rainold malah jatuh pada area penjual bakso.

__ADS_1


__ADS_2