
Aziel telah berganti pakaian. Pakaian yang diberikan oleh Joki memiliki warna hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Memang benar adanya, warna ini adalah warna kesukaannya. Akan tetapi, ia tampak sedikit kebingungan. Kenapa mesti memakai jubah juga?
"Kamu yakin, ini pakaian dinas kita?" Joki juga sudah memakai pakaian yang sama.
"Lah? Ini kan memang pakaian kita tiap malam!" Joki menyerahkan sebuah tas yang isinya sangat berat. Membuat Aziel hampir ikut ambruk karena beban dari tas itu.
"Ini apa?" tanya Aziel kembali.
"Lah? Ini alat dinas kita!" Ucap Joki menarik Aziel keluar dari gubuk yang mereka tempati itu.
Joki menuju pojok gubuk dan di sana tampak sebuah motor butut yang hanya tinggal rangka saja. Aziel menatap Joki menaiki kendaraan itu dan mengengkol motor butut tersebut.
"Emangnya kita mau kerjain apa malam-malam gini?"
Joki tidak menanggapi pertanyaan Aziel. Dia fokus pada motor butut yang ia kendarai. Joki mengengkol mendorong tuas khusus engkol motornya. Beberapa kali mengengkol, baru lah kendaraan tersebut menyala.
Deru kasar dan nyaring terdengar dari mesin kendaraan yang dinyalakan oleh Joki ini. Beberapa kali Joki menarik gas membuat raungan mesin motor butut itu terdengar semakin keras. Beberapa waktu kemudian, Joki terlihat memberi mode agar Aziel segera naik.
__ADS_1
Ketika kaki Aziel hendak melangkah, ternyata langkahnya tidak mau bergerak sedikit pun. Aziel berusaha mengangkat kakinya, tetapi alat gerak bagian bawahnya itu seolah menempel dengan tanah.
"Apa yang terjadi?" Aziel menatap Joki dengan kebingungan yang jelas terpancar pada wajah. Namun, pertanyaannya tak terdengar sama sekali oleh Aziel, karena suaranya dikalahkan oleh mesin motor yang dinaiki Joki.
"Buruan!" bentak Joki kembali.
"Tunggu! Aku nggak bisa gerak," gumam Aziel kembali.
Joki mengerutkan mening. "Eh, sekarang bukannya waktu buat main-main!"
[ Kau dilarang ikut dengannya! ]
"Kenapa?"
[ Bukan kah kau ingin mengubah takdirmu dan anakmu? ]
Akan tetapi, Joki yang terlihat penasaran, turun dari motor dan mencoba menarik Aziel. Tubuh temannya itu terasa kokoh di tempat yang sama, dan menunjukkan bahwa ia tidak bisa berpindah pada posisi yang baru pada saat ini.
__ADS_1
[ Lebih baik kamu bersiap menunggu waktu Isya yang tidak akan lama lagi. ]
Aziel mengangguk tanpa menjawab perintah Sistem tersebut. Ia melirik pada bangunan reot yang ternyata menjadi tempat ia dan temannya Joki tinggal. Tanpa mengatakan apa-apa, Aziel memutar badan dan kembali masuk ke dalam bangunan reot tersebut.
Hal ini membuat Joki murka dan ia kembali menarik rekan kerjanya itu. Namun, tubuh Aziel seolah memiliki bobot yang beratnya melebihi dirinya berkali lipat. Aziel tak bergerak sama sekali.
"Ayo lah! Kita ini sudah jadi friends dalam suka dan duka semenjak kecil. Kalau lu nggak ikut, gue nggak akan bisa bekerja dengan maksimal!" sungut Joki setengah memohon, masih mencoba menarik Aziel.
"Apa yang kau maksud dengan dinas malam?" tanya Aziel dengan nada dinginnya.
"Lah? Elu ini kenapa sih? Jangan-jangan sedang mengalami amnesia? Tadi, Bang Baron emang sempat pingsan gara-gara elu. Tapi, dia udah bangun lagi."
Joki mengusap dagunya beberapa waktu, matanya liar melirik ke kiri dan kanan. "Sebaiknya lu ikut gue! Kita harus cari uang yang banyak biar kita nggak diteror terus sama dia! Meskipun kita gak dinas, dia akan tetap nagih setoran harian sebesar lima ratus ribu."
Aziel mendengar sejenak. "Ayo, kita melepaskan diri dari orang bernama Baron itu!"
"Gimana caranya?"
__ADS_1