
Pesawat terbang mengangkasa meningalkan kota Jakarta, Steve beserta adiknya duduk di kursi VIP, dia tidak inggin adiknya berdesakan di bangku ekonomi class
Hana dan lara berbincang dan tertawa gembira, hati Steve senang melihat kondisi mereka walau jauh direlung hatinya ada sedikit perasaan terluka meningalkan Tiara, tapi biarlah demi kebahagian adik adiknya.
Mata Steve mulai terpejam antara mengantuk dan sadar, perjalanan kali ini cukup panjang sekitar delapan jam menuju Beijing, pesawat yang semula tenang mengalami turbulensi, pesawat memasuki awan comulus.
Teriakan para penumpang dan suara pramugari yang berusah menenangkan tumpang tindih jadi satu, setelah dua puluh menit keadaan kembali normal, tapi di bagian depan ruangan VIP seorang gadis cantik mengeluh dan sambi meremas dadanya jatuh tak sadarkan diri.
Asisten si gadis cantik kelihatan panik dan meminta pertolongan pada pramugari, tetapi pramugari juga bingung dengan kondisi gadis tersebut, mungkin jika sakit kepala atau flu biasa pramugari bisa mengatasiny dan merawatnya, tapi jika penyakit seperti sudah di luar pengetahuan pramugari.
Wajah gadis cantik semakin pucat dan tubuhnya mulai dingin, asisten menjerit dengan pilu, dia takut terjadi hal yang tidak diiginkan, bagaimana nanti dia harus bertanggung jawab pada keluarga nonanya ini.
Dengan cepat pramugari mengumumkan kepada penumpang agar yang berprofesi sebagai dokter bisa tolong membantu ke ruang VIP.
Seorang pria sudah berumur mendatangi ruang VIP dan segera memperkenalkan diri sebagai seorang dokter ahli.
" Kebetulan saya seorang dokter, saya bisa membantu anda menangani pasien " ujar si dokter tanpa membuang waktu lagi, dia bisa menilai keadaan nona muda ini sudah masuk gejala tanda kegagalan jantung.
Pramugari dan asisten segera memberikan tempat agar si dokter bisa mengobati, dokter memeriksa denyut tangan si nona muda dan memperhatikan pada bagian jantung, dia berkata pada pramugari kita harus segera mengoperasinya kalau tidak nona muda tidak bisa diselamatkan.
Asisten nona muda menangis dan memohon kepada dokter agar bisa melakukan pencegahan dini sampai mereka landing di bandara
" Maafkan saya kondisinya sudah sangat kritis, kita hanya bisa berdoa semoga dia bisa bertahan " pun jika dilakukan operasi di pesawar mereka tidak memiliki alat untuk operasi.
Steve yang mulai sadar dari kantuknya dan melihat peristiwa yang terjadi dia berdiri dan mendekati nona muda dan dokter.
" Mohon maaf, saya rasa bisa mengatasi keadaan pasien" dia melihat dengan iba kondisi pasien yang sudah tidak berdaya dan menungu maut datang menjemput
__ADS_1
" Apakah anda seorang dokter " tanya si dokter heran bagaimana tanpa peralatan bisa mengobati sigadis, dia saja termasuk dokter ternama di Beijing dan internasional tidak mampu dan berdaya apalagi pemuda ini
" Saya bukan seorang dokter, tapi saya termasuk ahli pengobatan tradisional, jika anda tidak mampu dan tidak punya cara mengobati pasien bukan berarti saya sama dengan anda " tatap Steve dengan tajam ke arah sidokter, dia tahu dokter ini meremehkan dan dan merendahkannya
Dokter dan pramugari akhirnya berdiri dan memberi tempat kepada Steve, toh tak ada salahnya dicoba pasien juga sudah memasuki tanda kematian.
Steve melakukan diagnosis dan melihat pembengkakan pada jantung nona muda, dengan segera dia mengeluarkan jarum perak dengan menusuk bagian jantung, kaki dan kepala, setelah dirasa cukup dia melepaskan jarum dari tubuh pasien
" Ahhh, kenapa aku.." desah nona muda yang kembali berangsur angsur pulih dan sadar kembali
Dokter, pramugari serta penumpang memandang takjub apa yang sudah dilakukan oleh Steve mereka memuji dan bertepuk tangan, sementara Steve menunduk dan tersenyum ramah.
" Nona anda mengalami sesak nafas dan sempat tidak sadarkan diri " ujar si asisten yang sudah merasa tenang
" Pemuda itu menolong anda, kami sempat frustasi saat anda tidak bergerak dan tubuh anda terasa dingin, dia mengobati anda dengan jarum perak" pramugari juga ikut menjelaskan kronologisnya
" Terima kasih atas pertolongan tuan, saya Shu qian " dia mengulurkan tanganya
" Sama sama nona, cuma kebetulan saja, saya Steve, nona mengalami pembengkakan jantung yang dipicu oleb turbulenci serta tekanan udara di pesawat, seharusnya untuk kondisi nona tidak bisa melakukan perjalanan jauh " papar Steve menerangkan kondisi Shu qian.
Shu qian takjub dengan analisis dari Steve memang dia mengalami penyakit jantung bawaan, dia baru saja pulang dari Bali dan mau balik ke Beijing, dia takjub dengan cara pengobatan yang dilakukan oleh pemuda tsb.
" Apapun itu saya berterima kasih kepada tuan, bagaimana saya harus membalas tuan "
" Tidak apa apa, lupakan saja " ujar Steve sambil kembali ke kursinya dan melihat kedua adiknya yang masih tertidur, sambil membetulkan selimut mereka Steve berusaha tidur kembali.
Pesawat mendarat dengan sukses di bandara Beijing, Jennet sudah menungu kedatangan mereka, Hana dan lara berlarian memeluk Jannet mereka rindu setelah hampir satu bulan berpisah, Steve tersenyum melihat tingkah mereka seperti anak anak.
__ADS_1
" Selamat datang di Beijing bos, semoga perjalanan anda menyenangkan, semua sudah diatur disini " terang Jannet sambil membawa koper Steve.
" Kerja yang bagus Jannet" suasana hari Steve sangat senang, tidak salah dia menjadikan Jannet sebagai sekretarisnya, Jannet sangat cekatan dan bisa diandalkan
Mereka segera masuk ke mobil yang sudah disediakan dan meluncur pulang ke rumah yang sudah dibeli oleh jannet.
Di dalam mobil Jannet sudah menyelaskan semua yang sudah dilakukan termasuk mendaftarkan Hana dan lara ke sekolah dan kampus elit di Beijing, Jannet memilih kampus dan sekolah internasional yang mengunakan bahasa inggris sebagai bahasa utama belajar dan mengajar.
Akhirnya mereka sampai, mereka memasuki kawasan elit, dan berhenti disebuah vila yang luas dan megah
" Kakak jannet apakah ini rumah kita " tanya Hana dan lara serempak, mereka sangat senang melihat kondisi vila bagaikan istana yang terdapat dalam novel romance
Jannet tersenyum dan membelai rambut Hana dan lara, dia mengangukan kepalanya, sejak tinggal di Jakarta Jannet sudah mengangap Hana dan lara seperti adiknya sendiri, demikian juga sebaliknya, tak ada perlakuan berbeda mereka seperti tiga saudari perempuan bagi Steve.
Turun dari mobil tiga anak gadis berlarian ke halaman yang penuh dengan bunga yang cantik, mereka berputar putar bagai seorang putri.
Dalam hati Steve pun takjub dengan pemandangan dan vil ini dia tidak menyangka Jannet bisa membeli villa yang kelihatannya terawat dengan baik.
" Ayo masuk dulu ke dalam tuan putri yang cantik " canda Steve kepada mereka bertiga.
Villa ini cukup luas, terdiri dari lima kamar tidur, ruangan kerja, ruangan pustaka, ruang pertemuan, dan ruangan penyimpanan, Hana dan lara mendapatkan kamar yang sudah di hias oleh Jannet sesuai selera mereka
Pelukan dan ciuman tak henti mereka berikan pada Jannet, Steve terbahak bahak melihat Jannet cemberut karena wajahnya ternoda oleh lipstik, tapi sebenarnya Jannet sangat bahagia
Belum cukup kejutan dengan kondisi kamar yang luar biasa, Jannet membawa mereka ke garasi mobil, di dalam garasi mobil empat mobil sport terpampang dengan megah dan angkuh
Hana dan lara menjerit kecil dan menutup mulut mereka, kejutan dari Jannet diluar ekspatasi pikiran mereka, dua bocah ini kembali menodai wajah Jannet dengan ciuman lipstik mereka...
__ADS_1