Sistem Mata Dewa

Sistem Mata Dewa
Bab 43 Aku ikhlas Melepaskan Dirimu


__ADS_3

Detak jantung Tiara betul betul sudah tidak berdenyut lagi, badan itu dingin dengan sempurna seperti keadaan mayat biasanya.


Ada senyuman tipis dan airmata disudut matanya sementara tanganya masih mencengkram tangan Steve.


" Tuhannnnn arghhh " jerit Steve dengan histeris, dia betul betul dalam keadaan kondisi yang kacau, bahkan seorang jendral Handoko pun merasa bulu kuduknya merinding mendengar jeritan Steve yang menyayat hati.


Pikiran memenuhi benaknya, kalimat seandainya dengan bebas mempengaruhi pikiranya, seandainya dia tidak putus dengan Tiara, seadainya dia membawa pil ketahanan tubuh...tak mampu berpikir lagi dia muntah darah


Jendral Handoko terkejut dengan kondisi Steve, setelah mencium kening mayat anaknya dan menutupi kedua matanya, Handoko memapah Steve yang lemah ke atas sofa tamu.


Dia iba melihat keadaan Steve, pandangan mata yang kosong dan mulut yang masih ternoda muntahan darahnya, Handoko menyesal tidak membela Steve habis habisan waktu itu yang menyebabkan Steve terpisah dengan Tiara..tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur.


Jendral Handoko memerintahkan agar pengawal mengantarkan Steve kembali ke hotel untuk menenangkan diri dan beristirahat. Dia sendiri pasti akan sibuk menyelengarakan pemakaman putrinya.


Steve yang sudah lingkung menurut saja apa yang diperintahkan, mungkin jiwanya lagi kosong sehinga kelihatan seperti robot.


Dari jauh jendral Handoko memandang kepergian Steve dengan pandangan yang rumit dan iba.


Steve yang dibawa oleh pengawal kembali ke hotel hanya bisa termenung di dalam mobil, melihat keluar air matanya kembali menetes teringat kembali pertemuan pertama dengan Tiara.


Pengawal yang melirik dari cermin mobil matanya juga berkaca kaca, melihat seorang pemuda yang luar biasa dalam keadaan hancur, mungkin Steve lupa dengan dirinya yang pernah ditolong oleh Steve ketika dalam mengawal ilmuwan ke laboratorium, dia tahu betul siapa pemuda ini.


Mobil berhenti di depan hotel, tanpa bersuara Steve membuka pintu mobil dan masuk ke dalam dengan kuyu dan tertatih, setelah melihat pemuda itu ke dalam hotel pengawal pergi membawa mobil menujun kediaman jendral dengan hati yang resah.


Steve masuk ke dalam kamarnya, duduk di atas kasur dan tengelam dalam lamunan, dia mencubit tanganya meyakinkan dirinya bahwa apakah dia sedang bermimpi atau tidak, rasa sakit menampar batinnya bahwa ini semua nyata.


Membersihkan diri, dia menganti pakaian dengan pakaian hitam berkabung, menyewa taksi menuju ke rumah sang jendral.


Rumah itu terlihat ramai dengan kedatangan pelayat, baik dari pengusaha maupun penguasa, Steve berdiri sedikit jauh dari pintu masuk, dia berdiri dengan diam, banyak wanita yang memandang dirinya karena tertarik dengan ketampanannya.


Pengawal yang membawa mobil tadi melihat Steve dari kejauhan dia mendatangi dan mengajak Steve masuk ke dalam rumah menemani jenazah Tiara dan menemani sang jendral.

__ADS_1


Dengan menunduk Steve mengikuti pengawal masuk ke dalam rumah, jendral Handoko yang melihat kedatangan Steve menarik dan memeluk dirinya, seakan akan memberi kekuatan kepada Steve.


Dia menyerah buku diary Tiara kepada Steve yang menerima dan menyimpan ke dalam sakunya.


Jenazah segera dimakamkan di taman makam keluarga pahlawan, Steve menaburkan bunga dan memeluk nisan Tiara " istirahatlah dengan tenang, jika ada kehidupan lain aku berdoa kepada Tuhan agar kita bisa bersatu " bisiknya pelan yang masih terdengar samar di telinga Handoko.


Jendral Handoko menahan Steve yang sudah akan pergi kembali ke hotel, dia menyuruh Steve balik ke Jakarta bersama kedua adiknya, jendral Handoko bersumpah dia akan mengangap Steve dan kedua adiknya sebagai anak, bahkan jika perlu dia akan mengadopsi secara resmi.


Steve yang belum bisa berpikir rasional hanya mangut mangut pelan dan kemudian melangkah ke jalan tanpa melihat lagi ke belakang, dia menungu taksi yang daritadi menungu.


Keesokan harinya dia sudah berada di bandara, dia menghubungi Rinaldi pamit melalui telpon.


Untuk Angel dia tak akan menghubunginya, takut Angel akan mengalami masalah dengan orang tuanya, Steve sadar tidak semua keinginanya bisa di gapai meskipun ada sistem yang kuat menemani perjalanan hidupnya.


Mungkin keberadaan sistem hanya sekitar 30% membantu dirinya sisanya bergantung pada tekat dan niat serta keja keras dari diri Steve sendiri.


Pangilan terakhir penerbangan ke Beijing terdengar di ruang tungu, menyuruh penumpang segera masuk ke dalam pesawat.


23 Desember...


" Untuk Steve yang tersayang ,


entah mengapa beberapa hari ini dia terlihat berbeda dengan hari biasa


dingin dan tidak sehangat sebelumnya.


Apakah aku memiliki kesalahan?


my love Steve, hatiku sakit ketika engkau memberikan perusahaan dan pergi begitu saja,


Separah itukah kesalahan yang ku buat

__ADS_1


Aku berusaha mencari dan mengoreksi diri tapi aku tak menemukan kesalahan yang kubuat untuknya.


Apakah disana dia baik baik, apakah disana dia merindukan ku seperti aku merindukan dirinya.


Hari ini Santoso mendatangiku dan mengatakan dia tahu informasi tentang Steve


Aku mengikuti Santoso ke sebuah bar dimana dia mengatakan dia membuat janji dengan Steve di sana


Tak pernah kuduga Santoso melakukan hal keji kepada ku, tapi seseorang menolong diriku


Sosok itu seperti Steve, ada persamaan antara keduanya yaiti hangat dan rasa nyaman.


Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga kita bisa bertemu dan bersatu kembali


dari Tiara wanita malang yang menungu kehadiranmu...


Mata Steve terlihat sembab begitu dia membaca diary Tiara, tak pernah dia akan begini, dia memang kurang dewasa dalam mengambil keputusan waktu itu.


Steve terisak sambil menutup kedua matanya, dibagian depan pramugari memberi isyarat kepada temannya untuk melihat seorang pemuda tampan sedang bersedih dan bersusah hati.


Tapi temannya tidak mengubris seakan dia bisa merasakan rasa sakit di hati Steve yang terisak sambil memegang diary Tiara.


" Dear sayangku Tiara, Tuhan tahu aku bersalah kepadamu, maafkan aku yang tidak bisa menyelami dan menilai hatimu, aku ikhlaskan kepergianmu menuju keabadian jika bertemu kembali jadilah pasangan hidup dan berjalanlah di sampingku selamanya " bisik Steve dalam hatinya, tak sadar dia tertidur sambil mengengam diary Tiara.


Entah dia tertidur karena batin yang lelah atau memang terlalu letih, yang pasti mungkin saja dia lagi bermimpi merajut hangatnya cinta bersama Tiara.


Dia terbangun ketika pramugari menawarkan makanan dan minuman, pramugari yang daritadi melihat keadaanya merasa kasihan dan iba, dia sengaja membangunkan Steve dan menawarkan makanan, padahal perjalanan ini jauh dan cukup memakan waktu, dia bersimpati kepada Steve.


Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Beijing, Steve menungu taksi dan segera melaju ke kediaman keluarga Zhen.


Dia harus pulih dan bangkit, dia tidak boleh terlihat dalam keadaan berantakan, kasihan kedua adik perempuannya...masa depan masib terbentang dengan panjang...Tiara maafkan aku...

__ADS_1


__ADS_2