Sistem Mata Dewa

Sistem Mata Dewa
Bab 42 Biarkan Aku Pergi


__ADS_3

Bagaimana tidak ketakutan dia hanya punya seorang anak, tidak ada lagi pewarisnya dan yang akan merawatnya ketika tua nanti jika terjadi hal yang tidak diinginkan dengan anaknya.


Tanpa peduli dengan rapat dan para petingi dia segera berlari kedalam mobil, mengendarai dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit yang diinfokan oleh si penelepon, bahkan dia memakai lampu stobo untuk meghindari macet di jalan, sesuatu yang jarang dia lakukan.


Jendral Handoko tidak peduli terhadap para petingi yang melongo melihat dirinya pergi dengan tergesa gesa, saat ini dia akhirnya mengerti dan sadar bahwa keluarga di atas segalanya.


Sesampainya di rumah sakit jendral Handoko langsung menelpon orang yang menghubunginya, mereka bertemun dan Handoko meminta maaf atas makiannya tadi, pemuda itu juga maklum dia sendiri sebenarnya kaget begitu ketemu orang tua si korban ternyata adalah seorang jendral angkatan darat.


Dia menunjukan keberadaan Tiara yang sedang berada di dalam ruangan gawat darurat, tanpa mengindahkan larangan dokter dia masuk dan melihat anaknya yang penuh luka dan dalam keadaan kritis.


Dia mengengam erat tangan anaknya, sesaat Tiara sempat sadar dan dengan mengumpulkan sekuat tenaga dia mengatakan bahwa Steve ada di Jakarta dan dia merindukan bertemu dengan Steve.


Jendral Handoko merasa hancur hatinya melihat Tiara masih sempat mengumpulkan tenaga dan membuat permohonan kepada ayahnya.


Tidak ingin mengecewakan putrinya jendral Handoko segera menghubungi markas pasukan khusus mencari keberadaan Steve di seluruh hotel yang ada di Jakarta.


Tidak susah menemukan Steve dia tidak punya rumah di Jakarta, dan dia seorang yang kaya dan tentu saja tidak mungkin menginap di hotel yang murah.


Sesudah mengantarkan Angel ke rumahnya Steve kembali ke hotel, begiti kakinya melangkah ke dalam hotel resepsionis segera memangilnya dan mengatakan untuk menghubungi nomor yang diberikan, dia menjelaskan bahwa ada keadaan darurat yang terjadi.


Steve bengong dengan apa yang dikatakan oleh resepsionis dan tanpa banyak tanya dia mengambil nomor tersebut dan masuk ke dalam kamarnya, dia sedikit merasa gerah dan ingin mandi mendinginkan suhu tubuhnya.


Setelah mandi dan berpakaian Steve ingat dengan nomor yang diberikan oleh resepsionis, dia menghubungi nomor itu, dan setelah dua nada pangilan telpon itu segera terhubung.

__ADS_1


" Hallo saya Steve, maaf dengan siapa saya bicara ya dan ada keperluan apa" tanya Steve dengan penuh rasa curiga, orang lain tidak tahu keberadaanya di Jakarta kecuali Rinaldi dan Angel, kalau untuk Angel barusan dia mengantarkannya pulang apakah mungkin Rinaldi?


" Hallo tuan Steve saya pengawal dari Jendral Handoko, mau memberitahu bahwa Tiara ada di rumah sakit dalam keadaan kritis karena kecelakaan " jawab pengawal tersebut dengan tegas.


Dia segera menceritakan kronologis kenapa Tiara sampai mengalami kecelakaan, sumpah mati Steve merasa terkejut dan kaget mendengar cerita pengawal itu.


" Apakah mungkin mobil yang tadi " gumannya dalam hati, dengan segera Steve menuju rumah sakit dia tahu letak rumah sakit yang diinfokan oleh pengawal tersebut.


Rumah sakit Harapan Kita terlihat sangat rame dengan keberadaan militer, Steve tahu ini orang jendral Handoko, mungkin mereka mengawal ruangan Tiara karena ada jendral dalam ruangan itu, begitu mungkin protapnya.


Dia di arahkan oleh militer ke ruangan Tiara, Steve membuka pintu kamar dia melihat jendral Handoko dalam keadaan hancur hatinya dan melihat keadaan Tiara yang nafasnya sudah tersengal sengal diambang sakaratul maut.


Steve memegang tangan Tiara, dari cerita tersebut dia tahu kecelakaan ini secara tidak langsung terjadi karena dirinya, harinya ikut bersedih melihat kondisi Tiara.


Dengan airmata yang tergenang di pelupuk matanya Steve segera mengeluarkan jarum perak mengobati Tiara, jendral Handoko hanya melihat tanpa menghentikan apa yang dilakukan oleh Steve, dia tahu keahlian Steve dibidang pengobatan tiada tanding, bahkan dia mengharap Steve bisa membuat keajaiban untuk memulihkan Tiara.


Tapi keadaan tidak berubah banyak, walau bisa membuat Tiara terbangun dan sadar itu tidak bisa memulihkan lukanya terlalu parah, Steve mulai panik dan ketakutan.


" Steve....sudahlah jangan terlalu berusaha keras" cegah Tiara sambil mengambil tangan Steve dan menciumnya, betapa dia merindukan kejadian saat ini walaupun tidak seperti yang dia bayangkan tapi ini sudah sepadan.


" Maafkan aku Steve, " Tiara mulai terisak dan nafasnya terengah engah.


Airmata Steve sudah tak bisa lagi dia tahan, sekarang wajahnya banjir dengan air mata, semua kenangan kembali hadir di dalam pikirannya seakan bercerita tentang indahnya masa lalu.

__ADS_1


" Tiada ada yang berasalah Tiara, bertahanlah sayang, aku mencintaimu " jawab Steve sambil membelai lembut rambut Tiara yang berlumuran darah.


Walaupun menderita tapi wajah merah dan tersipu malu Tiara masih terlihat dengan jelas, dia sangat bahagia mendengar Steve mengatakan cinta dan pangilan sayang kepada dirinya.


Mata Tiara mulai terpejam, sementara dilayar terlihat garis yang semula bergelombang menjadi lurus, badan Tiara tersentak seakan malaikat maut sedang mengambil dan mencabut rohnya, dia mengengam erat tangan Steve sambil berbisik dengan tidak jelas.


" Steve...steve..steve..aku mencintaimu.." mendengar itu kondisi Steve semakin drop, dia mencoba memangil sistem dalam pikirannya, dia mau sistem membantu dirinya.


" Hallo penguna, sistem tidak bisa menolong kamu, sistem memiliki kerterbatasan, dan tidak memiliki kuasa seperti Tuhan, sistem sudah memindai keadaan Tiara dan tidak mampu menolong dirinya "ujar sistem yang dengan segera menghancur leburkan harapan Steve.


Dia sampai terduduk di lantai sambil mengengam dengan kuat tangan Tiara, hatinya sakit, hatinya hancur, hatinya rusak parah, tapi dia mesti bertahan menemani Tiara yang sedang berjuang menghadapi sakratul maut.


Steve segera memeluk Tiara dia merasakan badan Tiara mulai dingin ,dia menjerit memangil dokter matanya merah bagaikan singa yang terluka.


Sebenarnya jendral Handoko sudah mendapat penjelasan dari dokter bahwa keadaan Tiara tidak mungkin diselamatkan, tabrakan yang terjadi mengakibatkan jantungnya mengalami pendarahan, hatinya rusak, belum lagi kerusakan otot yang dialami tubuhnya


Dokter sendiri takjub Tiara masih bisa bertahan, apakah dia mungkin memohon kepada Tuhan menunda ajal demi menungu seseorang, jikapun itu benar sangat luar biasa sekali, menungu seseorang dengan rasa sakit yang luar biasa, cinta memang susah ditebak...


" Sudahlah Steve kita sudah berusaha semaksimal mungkin " ujar Handoko yang terlihat lelah dan wajahnya kelihatan mendadak lebih tua, dia merelakan putrinya daripada menangung rasa sakit yang berlebihan, toh keinginan putrinya sudah tercapai.


Steve melihat jendral Handoko dengan mata jijik dan marah, dia tidak percaya seorang ayah mampu berkata demikian, jika bukan ayah Tiara dia sudah memukul pria yang sedang berdiri di depannya ini, sebenarnya tidak bisa disalahkan juga karena Steve belum mendapat penjelasan dokter.


Walau dia ahli dalam pengobatan dia sudah panik duluan, dan tujuannya berusaha mengobati Tiara tanpa peduli keadaan tubuh Tiara yang sudah tidak memungkinkan untuk di tolong.

__ADS_1


__ADS_2