Sistem Mata Dewa

Sistem Mata Dewa
Bab 38 Bertemu Dengan Pembunuh Berlian


__ADS_3

Setelah beberapa waktu Tiara merasakan perubahan dalam dirinya, tubuhnya merasa hangat dan bagian bawahnya terasa gatal. Dia mulai tidak bisa berkonsentrasi apalagi Santoso yang duduk dekat dengan dirinya mulai mengelus elus tangan dan pahanya.


Semula Tiara terkejut dan menolak tetapi Santoso yang memang ahli dalam menilai wanita, sudah tahu bahwa Tiara sudah terpengaruh cukup kuat, tidak lagi mengelus dia meremas paha Tiara dan mencium bibir Tiara.


Penolakan hanya terjadi sesaat setelah itu Tiara malah membalas setiap apa yang dilakukan Santoso dia mulai mengerang dan merintih.


"ahhn...isss ..." dia menjambak rambut Santoso ketika jari Santoso bermain di permukaan lubang kenikmatann miliknya yang sudah mulai basah.


Sebenarnya Santoso tidak mau melakukan di room tapi dia sudah ikut terangsang dengan rintihan dan aroma rubuh Tiara, supaya nafsu Tiara belangsung lama dia kembali menambahkan cairan perangsang dalan minuman dan memaksa Tiara yang sudah tak berdaya karena nafsu menelan minuman tersebut.


Santoso sudah gelap mata, dia membuka semua pakaian Tiara, dia memainkan kedua gunung kembar dan mengigit dengan pelan yang membuat Tiara merasa melenguh kenikmatan, disaat akan melakukan penetrasi tiba tiba pintu terbuka, Santoso yang sedang on fire merasa terkejut dan kaget, dia segera menghidupkan lampu room dan melihat sosok wajah yang sangat dia benci..ya itu Steve


Sebenarnya Steve sudah lama berdiri di pintu dengan keahliannya dia bisa membuka pintu romm tanpa mendorak, dan tidak mau membikin keributan, memberikan jeda waktu untuk Santoso dan Tiara, dan ketika waktu nya tepat dia masuk ke dalam.


Steve menutup pintu masuk dan segera duduk di sofa memperhatikan keadaan Santoso dan Tiara yang sama sekali sudah tidak berpakaian.


Tiara masih mendesis dan mengerang memainkan tubuh Santoso, sementara Santoso sudah mulai ketakutan dan panik.


Steve mendekat dan menarik Tiara serta memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri, mendekati Santoso dan menampar wajahnya dengan sangat kuat.


plakkk..


Tamparan yang begitu kuat membuat kepala Santoso berputar hampir kebelakang, dia mejerit kesakitan.


" Ampun..ampun jangan pukul lagi " teriak Santoso, dia bermaksud berteriak dengan keras agar terdengar dari luar tapi dia lupa bahwa room itu itu adalah VIP room yang tentu saja kedap suara.


Steve kemudian memasukan beberapa jarum perak ke bagian tubuh Santoso, dia ingin menyiksa pelan pelan sehingga rasanya lebih baik mati dari pada hidup akan terpatri dalam pikiran Santoso.

__ADS_1


" Siapa dua orang yang datang mencari saya di hotel Rinaldi " tanya Steve dengan menyeringai.


Santoso tidak mungkin lagi berdusta dia tahu akan mendapatkan hukuman yang kejam dari Steve jika berani berbohong, tapi dia juga bukan orang yang bodoh, berharap bisa tawar menawar dengan Steve


" Saya akan menjawab pertanyaan anda, mohon cabut dulu jarum perak ini " rintih Santoso


Bukannya mencabut jarum, Steve bahkan menekan jarum lebih keras, reaksi mulai hingap di tubuh, rasa sakit yang tidak tertahan seperti luka yang diberi asam mulai tersugesti pada tubub Santoso.


Dia berguling guling kesakitan dan berteriak dengan histeris, air mata bercucuran bahkan bagian bawahnyapun sudah basah.


" iblis..iblis.." dia memandang penuh ketakutan kepada Steve


" Tak ada waktu tawar menawar, jawab atau akan ku tambah rasa sakitnya " gertak Steve sambil menjambak rambut Santoso.


Sebelum membuat pengakuan Steve merekam semuanya dengan ponsel yang dimiliki Tiara dia akan mengirimkan kepada jendral handoko, dia tidak mau nomornya diketahui oleh Handoko.


Steve menyuruh Santos mencoba menghubungi si pembunuh, membuat janji temu seakan akan Santoso punya informasi akan keberadaan Steve dan perlu mengeluarkan instruksi baru yang membutuhkan untuk saling bertemu.


Dibalik telepon Steve mendengar kata oke dari sipembunuh, memang Santoso ini berbakat jika menyakinkan orang lain tak salah dia menjadi pengusaha ulung di Jakarta.


Tanpa ragu dia kemudian meremas leher Santoso dan terdengar bunyi tulang patah, ya Santoso sudah mati dengan tragis.


Steve mengirim pesan dan video kepada jendral Handoko melalui ponsel Tiara, sekejap terdengar bunyi pangilan dari Handoko tapi dia tidak menghiraukannya.


Dia keluar dan menutup pintu dengan pelan, turun dari tanga dan tersenyum manis kepada resepsionis sambil mengucapkan terima kasih.


Steve masuk kedalam taksi yang masih menungu dirinya dan kemudian meluncur ke arah tempat untuk bertemu dengan pembunuh berlian.

__ADS_1


Beberapa kendaraan militer segera berhenti di Bar, dan sejumlah pasukan khusus yang langsung di pimpin oleh jendral handoko masuk ke dalam bar dan menuju ruangan VIP, resepsionis hanya mampu terganga dan melongo begitu melihat semua akses masuk dan keluar di jaga oleh pasukan khusus.


Dia inggin memberitahu managernya tapi dihentikan oleh pasukan khusus, ini menyangkut nama baik jendral mereka, lebih sedikit yang tahu peristiwa yang terjadi lebih baik pikir merek.


Jendral Handoko membuka pintu room dan melihat kenyataan yang cukup memalukan, dia melarang pasukan lain untuk masuk dalam room karena keadaan Tiara yang dalam keadaan tidak berbusana.


Dengan gerakan cepat dia memasang kembali pakaian ke tubuh Tiara, dia sudah menduga Tiara diberi obat perangsang dan entah bagaimana dia sampai dalam keadaan pingsan, di sisi lain dia melihat mayat Santoso.


Dia meludahi mayat santoso dan menendang mayat tersebut, setelah cukup reda amarahnya, Handoko menyuruh team forensik masuk kedalam ruangan.


Memang team ini sangat profesional dengan cepat ruangan kembali bersih seakan akan tidak pernah terjadi apa apa, sedangkan team di bawah mencoba menghapus CCTV keberadaan Tiara dan Santoso yang masuk ke dalam bar dan room karoeke.


Setelah selesai mereka meningalkan bar tersebut, rombongan jendral Handoko segera menuju rumah sakait militer untuk melakukan pemeriksaan terhada Tiara dan melakukan visum pada mayat Santoso.


Taksi itu berhenti di sebuah tempat yang sepi, jauh dari pusat kota, Steve turun dari mobil dan menyuruh taksi menungu dirinya dengan jarak dua ratus meter dari lokasi yang dijanjikan.


Dia tidak mau ketahuan dengan pembunuh berlian jika taksi berada terlalu dekaf dari lokasi.


Steve menyisir jalan dan bertemu dengan seorang pria kekar memiliki aura membunuh yang kental, dari aura yang dimiliki pria ini Steve tahu dia berhadapan dengan musuh yang tanguh.


Pembunuh berlian terkejut bukan Santoso yang datang tapi malah orang yang dia cari, dia merasa masuk perangkap, dengan cepat dia berubah menjadi bayangan dan menyerang Steve.


Dua bayangan dengan kecepatan tinggi saling beradu satu sama lain, pembunuh berlian terpental beberapa meter sedangkan Steve hanya mundur satu meter,


" Tangguh..." gumam Steve dalam hatinya


Pembunuh berlian kembali menyerang, kali ini dia melakukan tendangan putar yang kuat ke kepala Steve, dengan reflek yang tinggi Steve menghindar dan tak lupa melemparkan beberapa jarum perak ke tubuh pembunuh berlian.

__ADS_1


__ADS_2