
Setelah hujan sepanjang malam mereda, kini tetesan air hujan yang menyelimuti dedaunan jatuh ke tanah.
Rara memulai harinya dengan santai.
Matanya yang indah, seperti sinar matahari yang menembus awan jatuh ke danau yang jernih. Dia tersenyum dengan manis sehingga membuat orang tidak mampu berpaling.
Duduk di sofa, menonton acara TV kesayangannya dan dipangkuannya ada semangkok cemilan makanan ringan. Kesenangan yang luar biasa!
Selama hampir 5 hari 8 jam, dia selalu bekerja tanpa henti. Tugasnya memang berat tapi tidak terlalu berat.
Sementara Rara sedang asyik menikmati kenyamanannya, Nimas yang pergi untuk membeli sarapan dan bahan makanan, telah kembali.
Nimas adalah sahabatnya sejak kecil. Sempat terpisah beberapa tahun, tapi kini mereka bersama kembali dengan tinggal satu atap.
"Apa kamu sudah bangun? Kemari dan sarapanlah." Nimas berkata sambil meletakkan tas plastik di atas meja. "Kamu bisa makan dulu; aku mau mandi."
Setelah Nimas pergi, Rara bisa mencium aroma sayur sup yang masih hangat. Seolah aroma itu menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan dan memaksanya untuk segera
melahapnya.
Ketika Nimas selesai mandi dan kembali, Rara sudah makan sayur sup, sisa makanan di atas meja yang berantakan membuatnya meradang.
Ilmu kebersihan Nimas memberinya desakan untuk memaksa dan dengan cemberut berkata, "Mengapa kamu tidak membersihkannya setelah memakannya?"
"Aku tidak pandai membersihkannya.” Rara berkata acuh tak acuh. Dia mengambil gelas dan minum air dari dispenser yang ada di sebelah kiri ruangan.
“Kamu bukan anak kecil lagi. Umurmu sudah tua! Kamu harus belajar untuk ini. Jika kamu tinggal serumah dengan ibu mertuamu dan kamu tidak pandai melakukan pekerjaan rumah, aku yakin kamu akan didepak keluar olehnya!”
Rara menyemburkan airnya dan tersedak. “Pfftt ... uhuk uhuk! Kamu sudah mengatakan itu sebanyak 127 kali dalam bulan ini. Aku bosan mendengarnya.” Rara bergumam, "Lagipula umurku belum setua itu."
__ADS_1
Nimas berkecak pinggang dan menatapnya tajam, seolah itu adalah sinar laser yang bisa menembus tubuhnya, “Jika kamu bosan mendengarnya, maka kamu harus belajar mulai sekarang!”
“Ya, ya, ya ... bawahan ini mengerti.” komentar Rara sambil kembali ke posisi duduknya. Rara sengaja merendahkan dirinya didepannya.
Menurutnya tidak ada gunanya untuk terus berdebat tentang hal ini setiap hari. Dia hanya ingin bermalas-malasan saja. Lagipula Rara juga tidak punya cara untuk membalas komentarnya.
Selang beberapa menit kemudian, Nimas mulai berkata lagi. “Oh, sepertinya ada surat untukmu. Tidak, undangan, sebuah undangan untukmu.”
Nimas saat ini telah selesai membersihkan meja dan menemukan beberapa surat, termasuk undangan itu. Undangan itu berwarna gelap tapi tidak menurunkan rasa mewah dan ... klasik.
Mengambil surat di kotak pos di lantai bawah apartemen merupakan rutinitas mereka. Yah, walaupun ada surat yang tidak penting seperti undian bola atau layanan peminjaman dana.
“Undangan apa?” Rara bertanya sambil makan cemilan yang ada dipangkuannya bahkan tanpa perlu berpaling. Dia seperti tidak tertarik pada apapun saat ini selain TV.
“Err ... disini tertulis undangan reuni universitas. Masquerade Ball.” Nimas berpikir sebentar dan mendadak dia diberi pencerahan, “Itu pesta topeng! Wow, Rara, coba lihat ini! Ini keren sekali!”
Karena di TV saat ini sedang ditayangkan iklan sabun, Rara mulai beranjak dari duduknya selain dia memang jenuh melihat iklan-iklan itu, juga untuk menyenangkan hati Nimas.
Nimas menyerahkan undangan mewah itu padanya dan Rara langsung membacanya dan ... tercengang.
Di undangan itu tertulis nama lokasi, waktu acara lengkap beserta denah tempatnya. Rara belum pernah ikut serta dalam acara reuni atau pesta apapun. Jadi, setelah melihat ini, dia tidak tahu harus bagaimana.
Dia dengan bodoh menatap Nimas, “Pesta topeng?”
“Aku sudah bilang tadi.” Nimas memutar bola matanya, “Bukankah itu keren? Kamu akan memakai gaun dan mengenakan topeng lalu kamu akan berdansa dengan pangeran tampan. Plus, kamu bisa melakukan apapun saat orang-orang tidak mengetahui identitasmu yang sebenarnya. Keren, ‘kan?”
Rara mendengar dan memperhatikan perkataan Nimas yang tengah berimajinasi semu. Seolah-olah dia adalah Cinderella yang pergi ke pesta untuk menemui pangeran tampan dan harus pulang sebelum jam 12 malam.
Jika dia adalah Cinderella, maka Nimas adalah ibu tirinya yang jahat.
__ADS_1
Haha ... itu sangat cocok dengan penderitaannya. Rara tertawa keras.
“Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Nimas, bingung.
“Haha ... aduh perutku sakit.” Rara tertawa tanpa henti ketika memikirkan tentang itu. Terus tertawa sampai berlinangan air mata.
Setelah cukup tenang, dia mulai berbicara, “Sigh ... tidak ada yang lucu. Jadi, apa rencanamu? Kamu akan ikut bersamaku?”
“Tentu saja tidak. Aku bukan bagian dari universitasmu. Lagipula, aku juga tidak kenal dengan teman-temanmu.”
“Hei, bukankah kamu mengatakan kalau identitas kita tidak akan terungkap karena memakai topeng?”
“Err ... memang. Tapi itu akan canggung bila aku ada disa―”
Belum selesai dia berkomentar, kalimatnya sudah dipotong oleh Rara, “Ayolah! Tidak ada salahnya kamu menemaniku.” Rara mencoba merayunya dengan menaik-turunkan alisnya bersama.
“Hentikan tatapan itu. Kamu membuatku merinding!” kata Nimas sambil melangkah pergi. Dia masuk ke dalam kamar. Selang beberapa menit kemudian dia kembali keluar. Kali ini dia terlihat lebih rapi.
“Kamu akan pergi keluar?” Rara bertanya.
“Yap! Aku mau mencari lebih banyak uang hari ini.”
“Hati-hati. Semoga berhasil!” Rara memberi semangat pada kawannya.
Menjadi seorang sales tidaklah mudah. Kamu harus bisa bekerja dengan target. Apalagi kalau itu adalah sales asuransi. Nimas bekerja sebagai sales sejak dua tahun yang lalu dan dia masih mempunyai semangat yang sama.
Mempertahankan rasa semangat yang stabil pada dalam diri sendiri itu susah, sangat.
“Kapan kamu pergi untuk membeli topeng?”
__ADS_1
Rara mengangkat bahu, “Aku tidak yakin. Mungkin nanti sore atau malam ini.”
“Baiklah aku akan pulang lebih awal supaya kita bisa pergi berbelanja.” setelah selesai bicara, Nimas pergi, benar-benar pergi.