Status Palsu

Status Palsu
SP 2. Penolakan!


__ADS_3

Bersamaan dengan Nimas yang pergi, tiba-tiba ponselnya bergetar dengan suara notifikasi di atas meja.


Itu pemberitahuan email!


Dia terkejut ketika melihatnya. Itu sudah tiga bulan yang lalu sejak dia mengirim naskah novel kepada penerbit top. Akhirnya hari ini tiba!


Semoga, hasilnya tidak lagi membuatnya kecewa.


Jarinya bergetar ketika dia mulai membuka, matanya memindai dengan cermat sehingga dia bisa memastikan tidak ada satu katapun yang tertinggal.


Pada akhirnya, matanya hanya tertuju pada dua kata besar yang dicetak dengan huruf tebal.


[NASKAH DITOLAK]


...


Rara bisa merasakan jiwanya menariknya dari tubuhnya saat dia berhasil tidak melemparkan ponselnya ke lantai.


Apa lagi yang harus dilakukan?


Ini sudah ke 37 kalinya naskahnya ditolak!


Dengan berbagai cerita, berbagai genre, berbagai ide ...


Haruskah dia menyerah begitu saja? Tapi jika dia menyerah, bagaimana dengan masa depannya?


Kepalanya mulai gila dan dia merasa darahnya bisa terkena hipertensi.


Dalam sekejap, dia merasa menjadi semakin malas dan memilih masuk ke kamar. Membenamkan dirinya ke bantal dan mulai menangis.

__ADS_1


Dia menangis bukan karena penolakan itu tapi lebih kepada ... apa yang harus dilakukan setelah ini!


Di luar, langit semakin gelap dan matahari terbenam keemasan perlahan-lahan hilang oleh kegelapan malam.


Sesuai janji, Nimas pulang lebih awal. Tepatnya pukul 10.


Dia berpikir kalau Rara ada di dalam kamarnya karena dia tidak terlihat dimanapun. Sehingga dia mencoba masuk tanpa mengetuk pintu dan mendapati Rara sedang menatap langit malam melalu jendelanya.


“Ayo kita pergi sekarang sebelum larut malam!” dia berkata tanpa tahu apa yang telah terjadi.


“Aku tidak ingin.” Rara menjawab nyaris tanpa minat.


Nimas terkejut, “Eh? Kenapa tiba-tiba? Ada apa?” dia tidak bisa tidak penasaran.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak ingin.” Rara mengalihkan topik dan berkata, “Kamu sudah makan? Aku akan pergi membeli sate, kamu ingin makan apa?”


Sekarang ini, Rara sudah beranjak dari posisinya, mengambil dompet dan langsung pergi seperti embusan angin. Sebelum dia berhasil menghilang, Nimas berteriak, “Sate! Aku juga mau makan sate!”


Pintu tertutup tapi Rara tidak akan menyangka kalau sebentar lagi dia akan menjadi saksi dari sebuah kecelakaan besar.


Pada pukul 10 malam lebih sedikit, Rara, yang perutnya gemuruh karena kelaparan, telah meninggalkan rumahnya untuk pergi mencari makan malam.


Kedai yang dia tuju ada di jalan utama dan itu berjarak ratusan meter dari kompleks apartemennya.


Jika bukan karena rasa lapar, dia tidak akan pergi keluar hanya demi makanan. Sebenarnya, dia bisa saja memasak makanan tapi ... ayolah! Saat kamu berada dalam suasana hati yang buruk, apakah kamu akan punya tenaga untuk melakukan sesuatu?


Semua ini gara-gara email itu!


Saat ini, langit gelap tampak tenang dan bayang-bayang di bawah lampu jalan bergoyang ringan. Tidak ada pejalan kaki lain dan tidak ada mobil lain yang lewat.

__ADS_1


Rara tiba-tiba berhenti melangkah di persimpangan. Dia tidak bisa percaya bahwa dia baru saja menyaksikan kecelakaan besar.


Sedan hitam tergeletak miring di sisi jalan. Kaca yang pecah berceceran di jalan beraspal, setengah badan mobil menjadi rusak akibat benturan keras. Tidak pasti apakah para penumpang berhasil selamat. Hanya beberapa meter jauhnya, ada sebuah truk yang juga melaju keluar dari jalan menuju pepohonan, dengan bagian depan truk yang hancur dan hampir rata oleh benturan keras.


Ketika Rara mencoba untuk menyadari apa yang telah terjadi, truk besar itu mulai pergi dan mulai menjauh. Rara langsung berteriak: “Tunggu!” tetapi truk itu terus melaju.


Rara mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan mengambil beberapa foto.


Truk itu melaju lebih jauh lagi.


Meski gugup, insting pertamanya adalah memanggil ambulans, lalu memanggil polisi. “Halo, pak polisi? Di jalan Melati tepat di persimpangan ada kecelakan besar ... tidak ada orang ataupun kendaraan yang lewat ... iya ... baik!”


Selesai menelpon, dia berlari ke sedan hitam dan berhenti di dekatnya. Tidak ada seorang pun yang duduk di belakang. Namun, di kursi pengemudi ada seorang pria muda. Ada banyak darah di wajahnya, tetapi matanya terbuka mengawasinya.


Kulitnya cukup cerah, matanya sangat tenang seolah-olah seperti kolam yang tenang dan dalam, memperhatikannya dengan penuh perhatian.


Rara dengan ringan bertanya, “Bisakah kamu bergerak? Apakah kamu ingin aku membantumu keluar?"


Perilakunya terlalu tenang, jauh dari tekanan seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan. Rara tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya lagi.


Tampaknya pria itu tidak ingin menjawabnya jadi, Rara langsung membuka pintu dan dia menawarkan tangan padanya. Dia meraihnya dan dengan hati-hati membantunya keluar dari mobil.


Rara membantunya berbaring di pinggir jalan. Sedikit terengah-engah, dia juga ikut duduk. Meskipun pria itu terlihat kurus, dia sangat tinggi dengan tubuhnya yang besar. Berat badan pria itu bersandar padanya untuk sementara waktu, sangatlah berat.


Setelah mereka duduk diam selama beberapa detik, dia berkata, "Panggil ambulans."


Rara menjawab, "Sudah menelepon."


Dia berbicara lagi. "Apakah kamu ... ingat plat nomornya?" nada bicaranya sedikit sulit.

__ADS_1


Rara menatapnya. Rambut dan jasnya berlumuran darah. Jasnya tampak dibuat dengan bagus dan dia mengenakan jam tangan Alexandre Christie di pergelangan tangannya. Cahaya bersinar di wajahnya sehingga memperlihatkan ketampanannya, tetapi kulitnya pucat. Jelas, ini adalah seseorang yang terbiasa bersikap sombong, sampai sekarang, pria itu belum mengucapkan terima kasih.


__ADS_2