Status Palsu

Status Palsu
29


__ADS_3

"Sudah, Ra?"


tanya Rangga.


"Sudah mas. Mas, aku mau beli jus itu dulu" Rara menunjuk sebuah counter minuman.


"Kamu grogi kan, bertemu calon kamu" goda Rangga.


Rara mencubit tangan kakaknya itu.


Ya, harus diakuinya. Ia takut. Ia merasa membohongi hatinya dengan menerima perjodohan itu. Tapi, ayah.


"Mau rasa apa, mbak?" tanya pelayan itu.


Rangga menyenggol Rara.


"Ra"


"Oh. eh. ya mbak. Aku mau jus mangga aja deh. Mas mau pesan gak?"


tanya Rara.


"Gak ah.. aku tidak mau jus, aku mau air mineral saja. Pasti kamu mau air putih kan kalau habis minum jus"

__ADS_1


ucap Rangga.


Di dalam ruang perawatan dengan nomor kamar 212 itu terdengar percakapan.


"Tidak pa, aku tidak mau dijodohkan. Aku punya pilihan sendiri."


"Jangan begitu piz. Papa sudah menjodohkan kamu sejak kecil. Apa kata sahabat Papa kalau kamu menolak.


"Opiz punya pilihan sendiri, pa"


"Ikuti kata papamu, nak. Kamu tidak akan menyesal."


"Tapi, Opiz tidak cinta pa, Nanti kalau saatnya tiba, Opiz akan mengenalkan perempuan yang Opiz cinta"


"Sampai kapan piz, sampai papa dan mama tua. Kamu tidak pernah mengenalkan temanmu kepada papa dan mama" ucap laki-laki itu tegas.


Rara dan Rangga bingung, antara masuk ke ruang itu atau malah menghindari percekcokan dalam keluarga itu.


Rara sedikit lega. Laki-laki yang akan dijodohkan kepadanya tidak menyetujui rencana perjodohan itu.


Rangga melihat senyum tipis di bibir Rara.


Tetapi Rangga bingung. Rara seorang diri. Dan ia harus menerima ancaman dari laki-laki yang tidak dikenal. Paling tidak, dengan keluarga di Malang, ia dapat menitipkan adik tersayangnya itu. Atau, ia harus mengambil langkah, membawa adiknya pulang ke Jakarta? Ia hanya melirik ke adiknya itu.

__ADS_1


"Mas, gak usah kesana dulu." ucap Rara menahan Rangga.


"baiklah, ayo kita duduk di sana, sambil ada yang mas mau bahas" ajak Rangga.


Mereka duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari ruang VVIP itu.


"Ra. Mas mau bicara. Siapa teman yang sedang dekat dengan Rara? Haris?" tanya Rangga sambil mengingat nama itu.


"Hafiz, mas."


"Ya, Hafiz. Apa dia bisa selalu menjaga Rara?"


"Lah, emangnya kenapa sih mas. Udah seperti apa aja. Rara hanya berteman baik. Ya paling tidak sampai saat ini. Rara takut saja mas, kalau laki-laki misterius itu mengganggunya."


"Nah.. itu yang mas takutkan. Atau bagaimana kalau kamu pindah kuliah dan kembali ke Jakarta. Mas akan urus semua. Kamu tinggal beres saja"


Memikirkan itu, tidak mungkin. Rara takut untuk mendekati Hafiz, tapi, Rara juga tidak mau jauh dari Hafiz. Walau menjauh, pasti akan sering bertemu, Kota Malang bukan Jakarta. Paling tidak, akan bertemu. Itulah yang ada di benak Rara.


"Gak mas. Untuk saat ini, biarkan Rara bertahan. Nanti kalau Rara sudah tidak sanggup, Rara akan bilang ke mas Rangga. Tapi tolong rahasiakan semua dari ayah dan ibu. Rara tidak mau membebani pikiran mereka. Janji ya mas" Rara menatap kakaknya itu dengan memelas.


"Tapi janji, kalau ada apa-apa, kamu segera bilang ya dek. Mas gak mau kamu kenapa-napa"


"Janji. Minta air mineralnya ya mas"

__ADS_1


Rangga mengusap kepala adiknya itu.


"Ayo, Ra.. Kita masuk. Gak enak, kita pasti ditunggu mereka"


__ADS_2