
"Menarik omongan, maksud kamu apa?" tanya Rara
"Silahkan pikirkan kembali. Aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain selain aku. Dan aku akan terus memperhatikan langkah kamu"
Suara itu tiba-tiba hilang.
Rara hanya terdiam.
Rasa kantuknya kembali datang. Dan akhirnya ia memejamkan matanya.
Sementara Rara tidur, Hafiz memerintahkan kepada orang suruhannya, agar tetap mengawasi Rara. Hafiz merasa, penguntit itu tidak bisa dibiarkan. Karena akan selalu menakuti Rara.
Rara membuka matanya, ketika ponselnya berbunyi.
"Hai gadisku"
suara itu.
Suara yang tidak asing baginya. Suara yang mempunyai beda usia 5 tahun darinya.
Yang sangat mengerti kemauannya.
Ya, mas Rangga.
"Kok tidur, kamu gak enak badan ya?" tanyanya.
"Gak kok.. Rara pengen menikmati hari libur aja. Kenapa mas?"
"Mas sedang menemui client, tebak, mas dimana?"
"Mana aku tau lah."
__ADS_1
"His.. tebak lah"
Rara bangun dari kasurnya, dan segera menuju kamar mandi dan membasuh mukanya.
"Gak lucu mas, tinggal bilang, dimana mas sekarang? Mas ganggu aku tidur" suaranya seperti orang yang sedang malas berbicara.
"Coba lihat baik-baik. Mas dimana?"
Rangga memperlihatkan suasana yang tidak asing. Rara membelalakkan matanya.
"Itu sih asramaku, mas. Apa? Mas di asrama?"
Rara turun ke lantai bawah dan mencari keberadaan kakaknya.
Ketika matanya mendapati sosok kakaknya, ia berlari dan memeluk kakaknya.
"Kapan sampai?"
"Apa-apaan sih mas. Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Aku gak suka dijodohkan. Aku punya pilihan sendiri." ucap Rara.
"Mas saja yang pergi ke sana. Aku gak mau" lanjutnya.
"Gak bisa. Ayah berpesan, begitu aku sampai, aku harus menjemputmu dulu. Ayolah dek. Jangan buat ayah malu" ucap Rangga.
Rara memang tidak pernah membuat hati ayahnya terluka. Tapi, biasanya ayah selalu mengkompromikan segala sesuatu. Tapi tidak kali ini.
Ponsel Rangga berbunyi.
"Tuh kan ayah." ia menunjukkan nama yang tertera di ponselnya.
"Ya ayah. Rangga baru saja sampai di asrama Rara. Ini Rara" Rangga memberikan ponselnya ke Rara.
__ADS_1
"Sayang, ikuti mas mu ya. Ayah tau anak ayah tidak akan mengecewakan ayah." ucap ayah pelan.
"Ya yah, baiklah"
Berat langkah Rara mengikuti perintah ayah.
"Tunggu sebentar. Rara mau ambil baju. Sampai Selasa ya mas?" tanyanya.
"Ya adikku sayang" Rangga mencubit pipinya lembut.
Rara membawa beberapa perlengkapannya. Ia tidak tau dengan perasaannya. Ia berpikir sementara akan jauh dari Hafiz.
Diambilnya ponsel itu, dan mencoba menghubungi Hafiz.
"Hallo mas"
"Ya Ra. Kamu dimana?"
"Aku di asrama. Tapi aku dijemput mas Rangga. Untuk sementara, aku akan tinggal di rumah kerabat ayah. Aku tidak bisa menemui kamu ya. Maaf ya mas" ucapnya sedih.
"Ya sudah. Aku berusaha lekas sembuh, dan bisa menemui mas Rangga." nada bicara Hafiz seolah kecewa.
Hafiz akan melalui harinya di rumah sakit sendirian.
Di perjalanan, ia hanya menatap ke luar jendela.
"Ayah sudah menjodohkan kalian dari kecil loh dek. Dan menurut mereka, sekarang saatnya kalian bertemu. Teman ayah tidak mau, anaknya jatuh cinta dengan perempuan lain." cerita Rangga.
Rara mengangguk menatap kakaknya. Ia berfikir, mungkin kalau dia dijodohkan dengan seseorang, ia akan terbebas dari penguntit itu.Ia merasa tidak akan bisa berteman dengan laki-laki, siapapun itu.
Ia akan membahayakan orang-orang disekitarnya.
__ADS_1