Status Palsu

Status Palsu
34


__ADS_3

"Selamat pagi semua. Ra. Udah bangun?" tanya Bu Arya.


" Udah ma. Mama mau sarapan apa?"


"Kamu bawakan sarapan buat Opiz ya. Buat sup jagung ya? Sekalian roti dan susu hangatnya ya" ucap Bu Arya meminta Rara untuk menyiapkan sarapan putranya itu.


Rara menyiapkan semua dibantu Bu Arya.


"Bawakan dia sarapan. Ini obatnya ya"


Rara mengangguk.


tok.tok.tok


Rara segera membuk pintu yang memang tidak terkunci itu.


Ia meletakkan nampan berisi sarapan itu di atas meja kerja Hafiz.


Ia melihat Hafiz yang masih memejamkan mata, kemudian ia membuka gorden jendela itu pelan-pelan.


"Ra.." suara berat itu mengagetkannya.


"Selamat pagi, mas." ucapnya menyapa.


"Sarapannya sudah Rara buatkan. Dimakan ya. Rara sekalian pamit, setelah mengantarkan mas Rangga, Rara pulang ke asrama." kemudian ia membawakan baki yang berisi sarapan untuk Hafiz.

__ADS_1


"Tolong antar saya ke kamar mandi ya."


Rara memapah tubuh Hafiz dengan pelan. Dan membawanya lagi ke tempat tidur semula.


"Apa kamu gak bisa tinggal di sini aja?"


tanya hafiz sambil menyantap sarapan yang sudah disiapkan.


Rara tersenyum. "Gak bisa mas. Rara kan bukan siapa-siapa, mas. Kita cuma pasangan palsu" ucapnya sambil tersenyum.


"Lagian, nanti pacar beneran mas tau, kan kacau. Rara juga sudah memikirkan bagaimana masalah Rara. Rara gak mau seperti ini terus. Rara harus menyelesaikannya. Rara sadar, gak semua masalah Rara harus mengabari mas Hafiz"


Hafiz hanya bisa diam.


"Nah.. sudah selesai kan. Rara keluar ya. Mau siap-siap. Cepet sembuh ya." Rara menyemangati Hafiz.


Lagi-lagi Hafiz terdiam. Ia mau marah tapi tidak ada alasan. Ia mau bahagia karena selama sakit, telah dirawat dengan baik oleh Rara, tapi ia tidak tau bagaimana mengungkapkan tanda terima kasih. Rara berlalu dari kamar itu.


"Ra.. buru.. nanti mas telat." Rangga membuyarkan pikiran Rara.


"Mas Rangga turun duluan ya. Rara mau bereskan peralatan Rara." sambil memasukkan alat-alat keperluan nya ke dalam tasnya.


Di bawah sudah menunggu pak Arya dan Bu Arya di meja makan.


"Kita sarapan dulu ya" ucap mereka.

__ADS_1


"Ini masakan Rara, mas tau nih." Rangga menyendoki sup itu ke dalam mulutnya.


"Oh, masa? Ok kira masakan si mbak" ucap pak Arya tidak percaya.


"Ya pa, tadi mama yang lihat Rara yang memasak"


"Wah.. tambah poin nih. Mantu ideal nih. Gak salah om meminta kamu ke orang tua kamu untuk jadi mantu om" pak Arya tertawa.


Setelah selesai, mereka berpamitan.


"Sampaikan salam om dan Tante kepada ayah dan ibumu ya Rangga." ucap pak Arya sambil memeluk Rangga.


Hafiz melihat mereka yang berada di bawah dari jendela kamarnya. Ia tertunduk. Tak bisa berkata. Seandainya ia bisa mengatakan apa isi hatinya ke Rara dengan baik. Seandainya Rara mengerti isi hatinya. Ahh.. Ia tersiksa. Sakitnya lebih dari pukulan yang ia terima yang membuat ia harus beristirahat di rumah sakit itu.


Rara melihat ke arah kamar Hafiz.


"Mungkin ia sedang istirahat" isi hatinya berbicara.


"Nanti main ke sini lagi ya Ra. Atau nanti kita pergi sama-sama" ucap Bu Arya.


Mereka berlalu dari rumah itu.


Ponsel Rara bergetar.


"Terima kasih, Ra"

__ADS_1


__ADS_2