
Rara menjawab lagi.
“Plat nomor sudah difoto dan gambarnya sangat jelas. Aku sudah menghubungi polisi, jadi jangan khawatir. Daripada itu, apakah kamu berpikir kalau semakin banyak kamu berbicara, semakin cepat rasa sakit itu pergi?"
Pria itu meliriknya, dan setelah beberapa saat, dia berkata dengan lembut, "Terima kasih."
Rara tersenyum.
...
Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba dia tergerak untuk membersihkan darah dari wajah pria itu, tetapi dia ingat kalau dirinya tidak membawa apa-apa saat keluar dari apartemen. Dia mencoba merogoh kantong jaketnya dan menemukan sebungkus tisu kering.
Meski itu sudah berkurang sedikit, namun setidaknya itu masih cukup untuk membersihkan darah yang ada pada pria itu.
Tisu yang lembut dan masih memiliki aroma ringan. Pria itu merasakan tangannya bergerak lembut di wajahnya, menyeka darah dari sekitar matanya, membuatnya jauh lebih nyaman baginya. Tubuhnya masih sakit dan dia merasakan gelombang kelelahan ketika Rara membasuhnya sehingga dia perlahan-lahan menutup matanya.
Ketika pria itu merasakan Rara sudah selesai, dia membuka matanya dan tatapan mereka bertemu.
“Baiklah, tidak ada lagi yang bisa aku bantu. Ambulans seharusnya ada di sini segera jadi, tunggu saja di sini.” setelah mengatakan ini, sebelum Rara bangun, tangan pria itu dengan cepat meraih tangannya.
Rara membeku.
Pria itu menatapnya dan berkata, "Jangan pergi, temani aku di sini."
Secara refleks, Rara mencoba menarik tangannya kembali.
Meskipun dia terluka parah, dia masih seorang pria!
Rara tidak melakukan perlawanan. Rara hanya bisa mengatakan, "Aku tidak akan pergi! Lepaskan!"
Pria itu benar-benar tidak menurut, terus menggenggam tangannya dengan kuat. Matanya tajam terbuka, setengah tertutup, setengah sadar.
__ADS_1
Rara hanya ingin pulang dan mengenyangkan perutnya tapi kenapa dia terjebak dengan keadaan ini?!
"Sebelum ambulans tiba di sini ..." tiba-tiba dia bergumam dengan suara rendah, "Jika kamu pergi, aku akan menyalahkan ini padamu."
Rara: "Ha?"
Dia adalah orang yang menyelamatkannya!
“Bagaimana… bagaimana bisa kamu akan menyalahkan ini padaku? Aku adalah orang yang menyelamatkanmu! Kamu tidak akan mungkin memberi tahu polisi bahwa aku telah menyihir mobilmu untuk terbang, ‘kan?”
Dengan mata tertutup, sudut mulutnya membentuk busur.
Rara terperangah tetapi dengan cepat, dia tahu bahwa pada saat ini, kesadarannya tidak sepenuhnya jelas. Bahkan jika dirimu sedang terluka apa perlu untuk menggoda seseorang?
Setiap menit setiap detik berlalu. Di tengah malam, angin malam mulai berembus.
Rara bisa membayangkan kalau kedai sate yang dia tuju, sudah tutup; dengan tega membiarkan perutnya keroncongan.
Pria itu memiliki dahi yang lebar, dan hidung yang mancung. Ciri-cirinya memberikan nuansa yang kuat dan lembut.
"Jika tangki bensin meledak, kamu harus melarikan diri." pria itu tiba-tiba berkata, matanya masih tertutup.
Rara menjawab, “Jangan khawatir, aku sudah memperhatikan tangki itu sebelumnya. Untuk saat ini, tidak ada kebocoran. Juga jika itu benar-benar meledak, aku akan membantumu sampai akhir. Aku cukup kuat untuk menahan berat badanmu.”
Pria itu terdiam sebentar dan tiba-tiba mulutnya berkata, “Cukup kuat katamu? Tubuhmu sangat rapuh.”
Rara menjawab setengah kesal. “Maka kamu telah membuat pendapat yang salah. Setiap hari, saat berangkat ke kantor, aku selalu berjalan kaki. Jarak dari rumah ke kantor sekitar 1 km. Bisa dikatakan kalau tubuhku ini cukup kuat.”
Ada jeda sedikit diantara itu.
Pria itu kemudian berbicara dengan lembut, "Pembohong." membuka matanya, dia menatapnya, "Tidak ada pegawai yang secantik ini yang mau bercucuran keringat saat tiba di kantor."
__ADS_1
Rara tersenyum. "Terimakasih tapi, hei, aku pikir kesadaranmu masih cukup bagus untuk memujiku seperti itu."
Pria itu tidak mengatakan apa pun.
Matanya tertutup, dan alisnya menjadi satu, wajahnya menunjukkan kesakitan. Cengkeramannya di tangannya menjadi lebih kencang. Rara menyadari bahwa dia sedang mengalami banyak hal.
Rara mulai panik, “Hei, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja? Jangan membuatku panik!”
Rara semakin panik ketika pria itu tidak mengatakan apa-apa, pria itu juga tidak bergerak. Deru napasnya bahkan membuatnya tampak seperti tertidur.
Dia hampir saja akan menelpon untuk meminta bantuan ketika pria itu bersuara, “Jangan khawatir. Aku baik-baik saja.”
...
Rara tahu kalau perkataannya hanya untuk membuatnya tidak merasa khawatir. Tapi ... tetap saja. Beberapa detik kemudian, rasa paniknya sedikit mereda ketika melihat pria itu tertidur dan napasnya masih stabil.
Benar-benar tenang.
Rara menghela napas kuat-kuat ... Hari yang buruk!
Bagaimana bisa dia mengalami banyak kejadian hanya dalam tempo satu hari?!
Apa dia telah mendapat kutukan?
Perbuatan baik apa lagi yang harus dilakukan untuk menebus dosa-dosanya?!
Saat ini, bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang sedang benar-benar dipikirkannya.
Setelah beberapa saat, suara ambulans dan polisi akhirnya terdengar. Rara dengan ringan menarik tangannya dari tangan pria itu. Mengambil teleponnya, dia bersiap untuk memberikan foto truk yang melarikan diri itu kepada polisi, tetapi tiba-tiba dia kembali melihat pria itu.
Cahaya menerobos dedaunan, membelai wajahnya dalam siluet yang tenang. Meskipun pakaiannya berantakan dan ada darah di mana-mana yang meninggalkan jejak padanya dalam keadaan suram, tampilan raut wajahnya lebih sedap dipandang daripada raut wajah pria lain mana pun yang pernah dilihatnya.
__ADS_1