Status Palsu

Status Palsu
33


__ADS_3

"Istirahatlah" ucap Rara, sambil bangun dari sudut kasur Hafiz.


Hafiz tersenyum.


"Ra, tolong buka laci meja lemari mas. Ada kotak di sana"


Rara mencari kotak yang dimaksud.


"Ini?" tanyanya.


Hafiz menganggung.


Rara sebenarnya penasaran. Tapi itu bukan miliknya. Ia segera memberikan kotak itu kepada Hafiz.


"Duduk sebentar" ajaknya, sambil mencoba menyanggah tubuhnya dengan bantal, tentu dibantu Rara.


Hafiz mengambil cincin imitasi yang ada di jari Rara.


Dan ia memasangkan isi dari kotak itu kerangan Rara.


Sebuah cincin kecil bermata.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Kado yang mas siapkan malam itu. Tapi sayang, ia harus berada di pemiliknya hari ini. Cukup lama ia bertahan di dalam kotak itu. Suka?" Tanyanya sambil melihat jari Rara yang terlihat kurus.


"Bukannya ini,cincin yang kita lihat malam itu?"


Hafiz mengangguk.


"Jadi.." Rara tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Ini mungkin terlalu cepat. Tapi mas ingin status kita bukan hanya status palsu untuk mengelabui peneror itu. Mas merasakan sesuatu sejak pertama kali kita bertemu."


"Tapi.." Rara tidak melanjutkan pembicaraan itu.


"Mas tidak akan memaksa Rara. Mas sadar, umur Rara masih terbilang muda. Mas hanya ingin melindungi dan menjaga Rara."


Rara bangun dari tempat itu.


"Rara permisi keluar mas. Terima kasih kado indahnya"


Ia menuju pintu keluar kamar Hafiz tanpa berkata apa-apa. Jantungnya serasa sedang dipompa keras. Sehingga ia tidak tau apa yang akan dikatakan kepada seluruh keluarga Hafiz. Ia hanya menghampiri Rangga yang masih asik berbincang tentang bisnis dengan pak Arya.


"Udah Ra.. Sini" ajak Rangga memberikan tempat untuk Rara.


Rara duduk dan kemudian Rangga merangkul adik tersayangnya itu.

__ADS_1


"2 bulan lagi, kamu mesti pulang ya. Gapapa bareng om dan Tante. Jadi, mas ngerasa aman juga kalau kamu bareng om dan Tante" ucapnya sambil mengelus rambut Rara yang lurus sepundak.


"Rangga pamit ya om, Tante. Besok Rangga berangkat pagi soalnya."


"Baiklah.. sudah malam juga. Ayok ma.." ajak pak Arya.


"Jadi, malam ini Rangga tidur sekamar sama Rara?" tanya Bu Arya.


"Ya Tante. Gapapa. Sekalian banyak wejangan yang bakal disampein ke Rara juga" ucap Rangga.


Rara melewati kamar Hafiz. Dan ia memainkan cincin yang ada di jari manisnya.


Malam itu, Rangga banyak memiliki pesan untuk adik kecilnya itu.


"Ingat ya Ra, kalau tidak penting keluar, kamu jangan keluar. Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan dengan keluarga ini. Ya walau si peneror kamu taunya, kalau kalian pacar pura-pura. Tapi, mas berharap, Hafiz bisa menjaga kamu. Mas lihat, Hafiz anak baik. Mas tau. Karena mas laki-laki. Asal kamu bisa jaga diri dan martabat keluarga kita." ucapnya sambil merapikan baju-bajunya untuk dibawa pulang ke Jakarta.


"Istirahatlah. Mas masih menyusun baju"


Rara mengangguk dan mengambil posisi tidur sambil memandang cincin itu lagi.


Subuh itu, Rara sudah bangun dan mengambil posisi di dapur membantu para asisten rumah tangga.


"Wah.. Kalau begini, Bu Arya gak akan ketakutan kalau den Opiz tidak diurus istri ya. Wong mbak Rara baik banget. Mau bangun subuh dan membantu di dapur."

__ADS_1


Rara mendekat, sambil merangkul salah satu dari mereka. "saya sudah terbiasa, mbak. Di rumah saya, ibu selalu mengajarkan saya menjadi perempuan",


__ADS_2