Status Palsu

Status Palsu
40


__ADS_3

Azan subuh sudah berkumandang dari aplikasi ponselnya. Ia segera bangun, melaksanakan tugasnya sebagai seorang muslimah, dan ketika selesai, ia keluar dari kamarnya.


"Selamat pagi" ucap hafiz


Rara terperanjat, terkejut.


Ia bermaksud untuk keluar diam-diam.


"Kaget ya? Maaf" ucap hafiz yang melihat raut muka Rara yang sangat kaget.


"Kok sudah bangun?" tanyanya sambil berlalu.


Hafiz memberhentikan langkah Rara yang melangkah di tangga.


"Ini apa sih, mas. Sana, Rara mau bikin sarapan sama si mbok. Mbook.. Liat mas Hafiz nih" Rara memanggil mbok Asih meminta pertolongan. Tapi alih-alih ditolong, si mbok malah tertawa melihat tingkah laku 2 manusia yang sedang dimabuk cinta itu.


"Ma.."


ketika Hafiz menoleh, Rara langsung berlari ke dapur.


"Kita bikin sarapan apa ya mbok?" tanya Rara.


"Mama pesan apa semalem?" tanyanya lagi.


"Nyonya, berpesan, sarapan pagi ini cuma minta ayam saos tiram aja, mbak."


"Ok mbok.." ucap Rara membantu mbok Asih.


Wanita tua itu sangat senang melihat keuletan Rara yang menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.

__ADS_1


Hafiz memeluk si mbok.


"Gimana mbok? Cocok kan sama Opiz." tanyanya


Si mbok mengangguk,


"Calon den Opiz memang yang terbaik." jawabnya.


Mereka melihat Rara yang kesana kemari menyiapkan request mamanya Hafiz, dengan memakai baju piyama hafiz yang kebesaran.


Setelah selesai, ia mencuci tangannya, dan membersihkan semuanya.


"Mas.. " sapa Rara.


"Kan.. Kok tidur di sini"


"Udah selesai?" tanyanya.


"Anter Rara ke asrama yok." ajak Rara, sambil mengelus punggung Hafiz.


"Mas mau ke kantor hari ini, udah lama mas istirahat" Hafiz bangun dari tempat duduknya, dan merentangkan tangannya.


Hari-hari berlalu, pernikahan Rangga pun sudah di depan mata.


Rara bersiap untuk pulang ke Jakarta. Ia memberanikan diri mengahadap dekan untuk meminta izin tidak mengikuti mata kuliah untuk 1 Minggu ke depan. Dan pengajuannya di ACC.


Ketika berjalan menuruni tangga, Ia dikagetkan oleh sosok yang tidak dikenalnya.


"Rara. Maafin gue. Please, balik sama gue"

__ADS_1


Rara bingung, selama ini ia tidak pernah pacaran dengan siapapun, kecuali Hafiz yang dijodohkan kepadanya.


"Maaf, mungkin anda salah orang" Rara mulai ketakutan, karena gelagat laki-laki itu sudah membuat dia seperti terkurung.


"Gue yang nyelakain Dimas, gue juga yang nyelakain pacar palsu lo."


"apa? Maksudnya apa? Lu siapa?" Rara sangat penasaran, dengan laki-laki bertubuh kurus tinggi.


"Lu ngelupain gue, Ra. Gue ikut kuliah di Malang, demi lu. Kalo gak, gue udah di Australia. Lu harus jadi pacar gue."


Laki-laki itu memegang tangan Rara dengan paksa.


"Raaa, ponsel kamu bunyi terus" teriak Winda.


Laki-laki itu menutup mulut Rara. Ia menyenderkan badan Rara sampai ke dinding. Rara memberontak, dan topi laki-laki itu terbuka.


Ada bekas jahitan kecil di pelipis matanya.


"Puas Lo buka topi gue. Ini alesan gue gak bisa deketin lu. Puas Lo!" teriak laki-laki itu.


Winda mendapati Rara yang ketakutan, dan ia melihat Rara memerintahkan agar ia menjauh. Sebenarnya Winda tidak tega melihat Rara, tapi ia harus mencari bantuan.


Tapi suasana kampus itu sangat sepi. Semua sudah mulai kembali ke tempat tinggal masing-masing.


Ponsel Rara terus berdering.


"Hallo, siapa ini." tanya Winda.


"Hallo, ini ponsel milik Rara kan?"

__ADS_1


__ADS_2