Status Palsu

Status Palsu
28


__ADS_3

Selama makan malam itu, Rara tidak banyak bicara. Mas Rangga dan sahabat ayahnya berbicara tentang bisnis masing-masing.


"Rara diem aja. Seandainya ada Tante, pasti bisa langsung akrab nih. Maaf ya Ra, Tante sedang merawat opiz yang sakit."


"Oh. ehm. gapapa om."


"Pasti bosan ya dengar pembicaraan seperti ini"


"Gak kok om, kalau di Jakarta, ayah dan mas Rangga biasa membicarakan hal seperti ini saat makan bersama"


"Terus gimana kuliah kamu di sini. Kamu betah? Ternyata sudah hampir 2 tahun, kita baru ketemu ya. Kalau tau gitu, om suruh opiz mengunjungi kamu"


Rara hanya tersenyum.


"Tapi Opiz pendiam. Di rumah saja jarang berbicara."


lanjutnya.


Rara tersenyum lagi.


"Rara permisi ke kamar kecil dulu ya om"


Rara meninggalkan pembicaraan itu.


"Oh ya om, Rangga titip Rara ya om. Ada yang usilin Rara. Jadi dia takut untuk kemana-mana."


"Ada apa Rangga?"

__ADS_1


"Rara di sini sendiri om, dan ada yang mengganggunya. Rangga sebenarnya takut meninggalkannya sendiri. Tapi Rara kuat untuk kuliah di sini"


"Baiklah, om akan menjaga Rara. Nanti kalau Opiz sudah sehat, om akan meminta Opiz untuk menjaganya. Biar mereka akrab juga"


Rara kembali ke meja makan mereka.


"Terima kasih sebelumnya om. Oh ya om, akhir tahun ini, rencananya Rangga akan menikah om. Rangga harap om dan keluarga bisa ke Jakarta, memberi restu."


"Ra, besok ke rumah sakit kan?" tanyanya dalam pesan singkatnya.


Rara tidak membalas, hanya mencoba menghindari Hafiz. Ia tidak mau orang yang mulai mencuri hatinya tersakiti. Rasa sesak di dadanya. Sakit.


Malam itu ia hendak memejamkan mata.


Tapi bayangan lelaki memakai kaos oblong, celana pendek dan sandal jepit, melintas di pikirannya. Ia rindu. Tanpa terasa, mulutnya mengucapkan nama itu.


"Ra, bangun. Sudah subuh."


Rangga menepuk pelan pipi adiknya itu.


"Tidur jam berapa semalem? Ayo bangun. Setelah sholat, kita keluar. Mas sudah bilang sama om untuk ke lapangan golf. Kamu kan sudah lama tidak main golf sama mas"


"Malas mas. Rara mau istirahat saja"


Rangga menarik selimut adiknya yang masih di atas kasur.


Rara sungut dan segera sholat.

__ADS_1


Rangga menggelengkan kepalanya melihat adiknya itu.


Di lapangan hijau itu, mereka asik dan fokus dengan bola kecil itu.


"Wah.. keren sekali, Ra. Opiz juga pandai bermain golf. Nanti kalau Opiz sehat, kita bisa main bareng ya."


"Nah, Ra.. hobby kamu bisa dilanjutkan tuh. Ya kan om"


"Pastinya. Nanti sepulang ini, kita mampir liat Opiz dulu ya." ucap calon mertua Rara.


Mereka mengangguk.


Hari sudah semakin siang.


Mereka bergegas pulang dari area lapangan hijau itu. Tapi mereka tidak langsung ke Rumah sakit. Mereka mencari makan untuk mengisi perut, dan membelikan pesanan untuk calon mertua Rara.


"Ma, mau dibawakan apalagi. Habis ini kami langsung ke rumah sakit" ucapnya.


"Oh ya sudah. Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu di sana ya. Ya, papa juga rindu mama"


Mesra sekali mereka. Rangga dan Rara hanya senyum mendengar percakapan itu.


Sampai di Rumah sakit, Rara merasa kandung kemihnya penuh.


"Om, maaf, Rara mau ke toilet bentar ya."


ucap Rara buru-buru.

__ADS_1


"Om duluan gapapa. Nanti kami menyusul." ucap Rangga yang tidak mau meninggalkan adiknya seorang diri. Apalagi Rara sudah menceritakan keadaannya.


__ADS_2