Status Palsu

Status Palsu
24


__ADS_3

"Baiklah, kalau ada apa-apa, ada penjaga di depan kamar ya nak. Tadinya mbok Asih yang jaga Hafiz."


Bu Arya memegang tangan Rara.


"Yakin Rara sendiri?"


Rara mengangguk.


"Ya ma.. Besok Rara pulang sebentar ambil baju, terus kesini lagi. Sampai mas Hafiz sadar, Rara mau di sini Saja. Boleh ya ma"


Bu Arya menganggukkan kepalanya.


"Mama pulang" kemudian Bu Arya memeluk Rara erat.


Di perjalanan menyusuri gang rumah sakit, mbok Asih yang memegang tas Bu Arya berbicara.


"Apa tidak apa-apa mas Hafiz ditinggal, Bu?"


"Entah saya suka sama anak itu, mbok. Ndak apa-apa."


Hafiz masih tidak bergerak. Rara selalu duduk di sampingnya. Kepalanya tertunduk di tangan Hafiz, sambil memegang tangan Hafiz.


Rara terjaga dari lamunannya.


Ada hentakan sentuhan.


Rara terbangun dari tempat duduknya.


"Mas.." Rara mengusap rambut Hafiz.


"Ra. Ra. Ra."


"Ya mas, ini Rara"


Rara berlari memanggil penjaga yang ada di depan pintu.

__ADS_1


"Mas Hafiz sadar, pak."


Kemudian ia berlari lagi ke arah Hafiz.


"Raaa.."


Rara memegang tangan laki-laki yang selalu membantunya.


"Rara di sini mas," Rara menangis melihat keadaan hafiz.


Dokter dan beberapa perawat datang, memeriksa.


"Bagus. Kita akan datang lagi 2 jam lagi ya mbak. Mas Hafiz gak boleh banyak gerak dulu ya. Hasil Rontgen akan saya lihat nanti"


Rara menoleh ke arah Hafiz lagi.


"Ada apa, dok?"


"Ada sedikit keretakan di punggungnya. Untuk sementara jangan biarkan mas Hafiz banyak gerak ya mbak. Kami kasih obat, supaya mas Hafiz istirahat dulu., Demamnya itu karena pungungnya"


Setelah dokter dan perawat itu keluar, Rara kembali menghampiri Hafiz.


Matanya mengantuk, dan ia tertidur di samping Hafiz yang masih terbaring.


2 jam kemudian, perawat masuk lagi ke dalam ruangan itu. Rara terjaga dari tidurnya. Mereka memeriksa Hafiz lagi.


"terima kasih, sus" ucap Rara.


Subuh itu, Rara merasa ada yang meraba pipinya. Ia terbangun. Ia melihat Hafiz yang membuka matanya.


"Mas.. bangun?" suara Rara berat.


Hafiz tersenyum.


Rara mengambil sebotol air mineral dan sedotannya, memberikannya ke Hafiz.

__ADS_1


"Alhamdulillah, mas sudah bangun,


istirahatlah, Rara sholat dulu ya, jangan banyak gerak." ucapnya sambil mengelus kepala Hafiz.


Hafiz bersyukur, di saat membuka mata, ia melihat Rara, ia khawatir, Rara akan dicelakai oleh orang yang mencelakakan dirinya kemarin.


"Mas, kemarin kenapa?"


"Gapapa, cuma perkelahian antar lelaki saja"


"Gak lucu. Memangnya ada apa?"


"Gapapa. Rara libur kan? Jangan kemana-mana ya. Tetap di sini."


"Ya mas, Rara juga sudah bilang sama mamanya mas Hafiz, kalau Rara bakal di sini. Hanya nanti Rara pulang mau ganti baju dan bawa sedikit peralatan saja."


Hafiz tersenyum.


"Maaf ya Ra, semalem gak jadi ngerayain ulang tahunnya."


"Udahlah, yang penting mas sehat dulu"


"Padahal mas udah susun acara surprise, ternyata..'


"Rara yang dapet.. haha.. Gak lucu surprise nya.. bikin orang nangis aja"


"Maaf, Ra."


Rara tersenyum. Ia menyeka keringat yang ada di kening Hafiz.


"Alhamdulillah, mas udah gak demam lagi"


"Terima kasih, Ra" ucap Hafiz.


Rara merapikan ruangan itu kembali. Ia membuka gorden kamar perawatan hafiz. Suasana pagi yang berkabut. Ia mengingat kejadian kemarin, dan ia memegang liontin kalung pemberian Hafiz. Namun akhirnya ia menangis.

__ADS_1


Seandainya kemarin Hafiz tidak datang menemuinya.


__ADS_2