
Ketika semuanya keluar untuk mencari udara segar. Hafiz meminta Rara untuk tinggal.
Mereka mengizinkan.
"Kok pindah kamar, mas?" tanya Rara
"Gak tau, mama yang urus."
"Terus penjaga kemarin?"
"Mama suruh jaga kamu"
Rara membelalakkan matanya.
"Aku ceritakan ke mama. Dan mama merasa iba. Lagian di sini lebih aman"
"Mas, sepertinya yang mencelakai mas, laki-laki itu. Lihat" Rara memperlihatkan ponselnya.
"Mas sudah memerintahkan penjaga pribadi papa, untuk menyelidiki. Kamu gak perlu takut. Kamu tinggal dimana sekarang?"
"Di rumahmu, sebelah kamar tamu" jelas Rara.
Hafiz tertawa.
"Kamu merawanin kamarku ya. Gak bilang lagi, gak pamit sama yang punya."
Rara mengeluarkan muka kesalnya.
"mana aku taulah." dia memukul tangan Hafiz.
Hafiz meringis kesakitan.
"Maaf, maaf.." Rara mengelus tangan Hafiz.
"Besok aku mau minta pulang. Biar aku bisa di rawat kami saja."
__ADS_1
"Besok aku kuliah mas."
"Biar kamu diantar jemput, dan ditunggu oleh sopir ya" pintanya.
"Selama Rangga di Malang, kamu akan tinggal di rumahku. Ya kan?" tanyanya.
"Sebenarnya aku gak mau. Nanti aku tidur dimana, enakan di asrama saja"
"Ya, terus... kamu digangguin orang itu lagi. Daripada di ganggu dia, mending kan aku yang ganggu" Hafiz tertawa lepas.
Ehem..
Dehaman itu membuat mereka sadar kalau mereka menjadi tontonan.
"Sepertinya Opiz sudah sehat, ya pa" ucap Bu Arya.
"Ayo pulang. Opiz udah sehat kan, ma" ucapnya semangat.
"Kamu kira ini rumah sakit punya kamu, bisa keluar masuk seenaknya. Tunggu besok kata dokter. Kami sendiri ya. Mama mau pulang."
"Malu loh nak, ada Rangga dan Rara. Masih begitu"
"Nanti kalau aku nikah sama Rara kan gak ngerepotin mama lagi" ucapnya
"Emang siapa yang mau nikah?" tanya Rara polos.
"Tadi katanya gak mau kalau dijodohkan, ya kan ma, sekarang bilangnya nikah"
Seketika semua tertawa.
Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menoleh ke Rangga. Rangga merangkul adiknya itu.
"Mas dulu kan, Ra? Kamu daftar tunggu piz."
mereka tertawa lagi.
__ADS_1
"Sebentar lagi mbok Asih kesini, Mama mau istirahat dulu ya nak." ucap mama.
Mereka akhirnya pulang setelah mbok Asih datang.
Setelah sholat Subuh, Rara membantu si mbak yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Wah, calon mantu mama sudah bangun. Sudah sana, siap-siap. Kamu kan ada mata kuliah pagi ini."
Rara mengangguk, dan meninggalkan dapur setelah menyiapkan beberapa sarapan pagi itu.
Hari Senin itu, Rangga sudah siap untuk menemui client. Rara juga sudah siap untuk kembali ke kampusnya.
"Hati-hati ya dek. Kalau ada apa-apa, langsung kabari mas. Kalau sudah selesai, langsung saja pulang." pesan Rangga.
Rara menganggukkan kepala dan segera masuk ke dalam kampusnya.
Sementara, Hafiz selalu memantau dari orang kepercayaannya untuk mengawasi Rara.
"Selamat siang. Aku mau kita ngobrol. Walau hanya sebentar" pesan itu datang.
"Kamu jangan macam-macam. Kamu sudah menyakiti orang-orang disekitarku. Apa salahku."
"Aku hanya menginginkan berbicara denganmu. Tapi kamu selalu menghindar. Aku mengagumimu. Dan aku terus menanti untuk kita berbincang. Atau aku harus memakai kekerasan?"
Rara menghentikan pembicaraan itu.
Ia langsung menemukan mobil jemputan ya.
"Cepat jalan, pak" perintahnya.
Rara sudah mulai trauma dengan pesan demi pesan itu.
"Mas.." ia mengirimkan pesan.
Tapi, Hafiz tidak membalas.
__ADS_1