Status Palsu

Status Palsu
17


__ADS_3

Jalannya kenangan


Sekilas melesatkan angan


Sungguh benar adanya


Cinta lama jangan dilawan


Tak mungkin 'ku menepis bayangan


Bila memang semua datangnya begini


Kangen kamu


Sungguh hati bicara


Aku kangen kamu meski jauh


Kangen kamu


Pikiranku ke kamu


Rasa ini tak pernah selesai


Sungguh benar adanya


Cinta lama jangan dilawan


Tak mungkin 'ku menepis bayangan


Bila memang semua datangnya begini


Kangen kamu


Sungguh hati bicara


Aku kangen kamu meski jauh


Kangen kamu


Pikiranku ke kamu


Rasa ini tak pernah selesai

__ADS_1


Dalam sepi ingat kamu


Di tengah ramai ingat kamu


Kamu di langkahku


Waktu berulang di kisah berbeda


Namun cintaku berhenti di kamu


Kangen kamu


Sungguh hati bicara


Aku kangen kamu meski jauh


Kangen kamu


Pikiranku ke kamu


Rasa ini tak pernah (Takkan pernah)


Rasa ini tak pernah


Entah Hafiz tiba-tiba suka dengan lirik lagu itu. Rara mendengarkan dengan seksama liriknya sambil menyantap makanan di depannya.


Hafiz mengeluarkan selembar uang 20 ribuan. Dan mendengarkan lagu itu sampai habis.


Setelah habis, Hafiz bertanya kepada Rara.


Apa yang terjadi di bandara tadi.


Rara mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan isi percakapannya itu.


Muka Hafiz menunjukkan dia marah.


"Besok, ponsel milikmu aku pinjam sebentar. Besok hanya nyusun SKS aja kan? Jam makan siang, aku akan menemuimu" ucapnya dengan nada menahan marah.


"Aku yang traktir ya mas. Kemudian ia bangun untuk membayar." ucap Rara.


"Biar aku, kan aku laki-laki, lagian kan aku tunanganmu, walau cuma status palsu. Tapi siapa tau, jadi beneran" Hafiz tertawa memencet hidung Rara dan berlalu menuju kasir.


Rara merasakan sesuatu yang bergetar. Tapi ia tidak mau menyimpulkannya. Terlalu cepat. Hanya itu fikirannya. Mereka baru kenal belum 1 bulan.

__ADS_1


Mereka keluar dari tempat itu.


"Selamat malam, pak" seseorang menyapa Hafiz dan menghentikan langkah mereka yang masih menyusuri taman itu.


Hafiz terkejut. Ia pura-pura tidak melihat.


Rara mendongak melihat hafiz. Tapi Hafiz seolah menutupinya.


"Ayo, aku antar pulang, sudah malam"


"Itu benar si bos kan?"


"Sama cewek, masih muda. Pantas saja, dia tidak tertarik dengan kita di kantor"


"Tapi kenapa pura-pura tidak lihat"


3 perempuan yang sedang di taman itu adalah karyawan di kantor hafiz. Mereka mengenali bos mereka.


"Bakal gosip di kantor" hati hafiz berkata. Ia masih memegang ponsel milik Rara.


"Mas, aku mau mampir ke mini market sebentar ya, persediaan di kamar kan kemarin sudah habis." pinta Rara, karena melewati mini market ketika mereka akan pulang menuju parkiran motor.


"Aku tunggu di luar ya." ucap hafiz masih memikirkan omongan apa yang akan dia dapatkan esok di kantor. Ponsel itu berdering. Beberapa kali, dan tertera dari mas Rangga. Hafiz melihat ke arah Rara, ingin mengabarinya. Tak lama kemudian, Rara keluar dengan 2 kantong belanjaan. Hafiz langsung dengan sigap mengambil belanjaan itu.


"Mas.. apa judul lagu tadi?" tanya Rara ketika mereka sampai di depan pintu asrama.


"Selesai." ucap Hafiz sambil memarkirkan motornya.


"Yang mana" tanya Rara lagi, dengan muka bingung sambil menyender di motor.


"Sini, biar aku carikan, ini" dan ia menyerahkan ponsel Rara lagi.


"Ra, tadi mas Rangga telepon, tapi kamu lama keluar"


"Oh ya,nanti saja aku telepon balik"


Belum lagi habis dia ngomong, ponselnya kembali bergetar.


"Assalamualaikum, mas. Iya, Rara baru sampe asrama. Nanti Rara telepon lagi ya." ucapnya.


"Biar aku pegang belanjaannya" ucap Hafiz.


"Siapa itu dek?" tanya Rangga.

__ADS_1


__ADS_2