
Rara mengangguk. Dan walau kakinya berat melangkah. Ia harus mengikuti jejak kaki kakaknya itu.
Tok.tok.tok
Pintu diketuk, dan mereka masuk.
Rara menundukkan kepalanya dan masih memegang tangan Rangga.
"Ini Rangga? Ya ampun, terakhir lihat kamu, waktu umur kamu 8 tahun. Dan saat itu kita menjodohkan adik kamu sama Opiz. Gimana? Betah gak di Malang? Maaf ya kita baru ketemu."
Suara itu,..
"Ini Fakhira?" lanjutnya lagi.
"Ra.. gak sopan. Hayo salaman" ucap Rangga sambil menarik tangan adiknya itu.
Rara mengangkat wajahnya, dan..
"Ma.." ucap Rara.
"Ra.." Seolah tidak percaya, tapi itu adanya.
Rangga bingung. Tak kalah lelaki yang merupakan sahabat ayahnya.
"Ma.. Kok.. " Rara masih tidak percaya.
"Hafiz pasti tidak percaya kalau begini" ucap Bu Arya.
Bu Arya membuka penutup tempat tidur Hafiz.
"Kamu yakin, gak mau dijodohkan. Perempuan ini cantik."
__ADS_1
Hafiz tetap menutup matanya.
Bu Arya menarik tangan Rara, dan mendekati Hafiz yang menutup matanya.
Rara masih tidak percaya, Hafiz adalah lelaki yang dijodohkan orang tuanya.
Rara menyentuh pipi Hafiz.
"Mas" ucapnya pelan.
Hafiz membuka matanya.
Betapa terkejutnya ia.
Ia mencoba bangun dari tidurnya.
Rara mencoba membantunya.
"Pa, Opiz gak mau perjodohan itu. Opiz mencintai perempuan ini. Opiz mau menjaga perempuan yang ada di samping Opiz. Namanya Rara"
Mulailah sifat usilnya untuk memainkan putra semata wayangnya itu.
"Tidak, kamu hanya akan kami jodohkan dengan anak sahabat Papa. Papa tidak akan merestui kalian"
pak Arya memainkan mata kepada Rangga yang masih bingung.
Rara seolah tidak percaya, Hafiz mengucapkan hal itu
"Mas, status kita kan tidak serius. Kenapa begini"
Tapi Hafiz tidak melepaskan tangan Rara.
__ADS_1
"Kamu dari kecil papa dan mama urus. Papa besarkan, sekarang kamu mau dijodohkan dengan perempuan bernama Rara, kamu menolak jodoh kamu yang bernama Fakhira" Sebenarnya, pak Arya ingin tertawa, tapi demi sandiwaranya, ia harus bermain peran.
"Fakhira? Bukannya itu nama kamu, Ra?" tanya Hafiz. Hafiz mencium aroma sandiwara dari papanya. Walau mereka jarang bertemu, tetapi, pak Arya selalu menggoda Hafiz.
Pak Arya tidak tahan dan akhirnya tertawa.
Ia mendekati putranya itu.
"Papa tidak perlu repot mengenalkan kau dengan jodohmu. Ya.. Ini Fakhira, anak sahabat Papa, "
Hafiz menoleh ke arah Rara.
Dia tersenyum.
Akhirnya ia tidak repot untuk mengenalkan perempuan pertama yang masuk ke dalam kehidupannya. Perempuan pertama dan terakhir.
Rara masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Rangga tersenyum lebar. Ternyata lelaki yang diceritakan Rara adalah Opiz, anak om Arya.
"Piz.. sudah jangan pegang tangan anak orang." canda pak Arya.
Rara melepaskan tangan Hafiz.
Muka Rara langsung memerah.
"Kamu masih ingat, Rangga. Teman kecilmu. waktu di Jakarta." pak Arya mencoba mengingatkan kembali masa kecil Hafiz.
Hafiz tersenyum ketika Rangga mendekatinya. Mereka berjabat tangan, dan masih sama-sama saling mengingat cerita kecil mereka.
Suasana siang itu menjadi hangat. Mereka banyak cerita. Bahkan mereka mengadakan video call ke ayah dan ibunya Rara dan Rangga di Jakarta.
__ADS_1
Sesekali, Rara mencuri perhatian ke Hafiz. Ia masih tidak percaya. Tapi, bagaimana kalau laki-laki penguntit itu menyakitinya. Ia harus bagaimana. Ia bingung. Apa ia harus menyerah, dan bicara kalau ia menolak perjodohan ini, demi keselamatan Hafiz?
*Terima kasih semua, jangan lupa di like, komen, dan vote ya..😍😍