
Dimana dia pernah melihatnya?
Rara tidak sempat berpikir dalam tentang itu karena Nimas keburu memanggillnya.
“Rara, kemarilah!” Nimas melambaikan tangannya seolah-olah menyuruh Rara untuk datang cepat.
Saat Rara telah mendekat, Nimas dengan bersemangat menunjukkan sebuah gaun berwarna putih dan berkata, “Coba lihat! Model gaun ini terlihat cocok.”
“Kamu sungguh ingin membeli gaun?”
Nimas berkacak pinggang dan setengah kesal. “Bukan aku, tapi kamu.” Nimas menghela napas, “Bukankah kamu membutuhkan gaun ini untuk menghadiri reuni universitas? Bagaimana kamu bisa lupa?”
“Oh, benar.” jawab Rara. Sebenarnya dia sama sekali tidak berpikir untuk membeli gaun baru hanya untuk pesta itu. Pikirannya terlalu lelah karena kejadian semalam.
“Tapi, kupikir gaun lamaku masih cukup bagus untuk digunakan kembali.”
“Gaun milikmu sudah tua dan itu bukan tren saat ini. Kalau kamu memakainya, kamu akan menarik perhatian orang dan kamu akan terlihat konyol.”
Mendengarnya berbicara, Rara mencibir. Ini adalah tanggal tua, uang tabungannya sudah keriput jadi, bagaimana bisa dia membeli gaun yang baru.
Kenapa pula mengadakan pesta di tanggal tua?
Rara tidak bisa tidak mengumpat!
Pada saat ini suara-suara yang ada dibelakang terdengar mengejeknya.
“Kalau tidak mampu membeli, jangan datang. Enyah!”
“Hati-hati saat memegangnya. Jika gaun itu rusak, aku takut kalian tidak akan mampu membelinya.”
Rara memutar kepalanya untuk melihat siapa pengganggunya.
Well, seperti yang diduga sebelumnya. Itu adalah kelompok Susan. Gaya mereka mirip dengan barikade anak SMA yang berjalan di tengah lapangan. Dengan angin yang bertiup menciptakan suasana mengagumkan.
Tapi sayangnya, tidak ada angin di ruangan yang tertutup ini. Jadi, barikade mereka sia-sia.
“Lebih baik jangan permalukan dirimu sendiri. Kamu harus tahu batas kemampuanmu. Itu benar. Lebih baik kamu pergi dari sini.” pemimpin dari kelompok itu berbicara; Susan.
Sebenarnya apa tujuan mereka untuk mengejeknya?
__ADS_1
Apa mereka hanya ingin mencari keributan dengannya?
Rara tidak tahu sejak kapan dan mengapa hubungan antara Susan dan dirinya berubah menjadi permusuhan.
Melihat mereka membawa banyak kantong belanja, sepertinya mereka berada disini dengan tujuan yang sama seperti Rara dan Nimas.
Jadi, mereka ada disini untuk membeli gaun juga? Rara berpikir dalam hati.
Rara baru akan membalasnya saat tiba-tiba Nimas berbisik, “Siapa mereka?”
“Mereka adalah pengganggu yang selalu menggangguku. Aku tidak tahu apa ini bisa disebut permusuhan atau tidak karena setiap kali aku mendapat hal yang bagus, mereka akan menentangku. For your information, yang berdiri ditengah adalah Susan, pemimpin mereka. Sementara disisi kanan dan kiri adalah pengikutnya masing-masing bernama Na dan Ru. Aku biasa menyebut mereka dengan Kelompok Su.”
“Hei, kenapa kalian berbisik-bisik? Apa kalian merencanakan hal yang buruk?”
“Ha, aku yakin mereka berniat untuk mencuri gaun itu.”
“Pasti!”
Rara membalas, “Aku tidak tahu kalian memiliki pemikiran seperti itu. Sejujurnya,
aku tidak punya ide untuk melakukan itu. Tapi melihat kalian berbicara seperti
ini, entah mengapa aku merasa kalau kalian sudah sangat terbiasa melakukan
“Hmph!” dua pengikut itu tidak bisa berkata apa-apa.
Sepertinya, balasan Rara tepat sasaran.
Suasana hati Susan menjadi bergejolak. Dia tidak menyangka kalau Rara akan membalasnya dengan cepat.
Terlepas dari semua itu, Susan ikut berbicara, “Apa yang kamu bicarakan, Rara? Bagaimana bisa kami, orang borjuis, melakukan itu? Itu adalah penghinaan bagi kami.”
“Ya, itu benar!”
Setelah itu, semua orang yang ada di dalam butik, melihat keributan mereka.
Haa ... kenapa dia harus terjebak dengan situasi seperti ini?
“Ra, balas mereka. Jangan diam saja!” Nimas memberi saran. Rara masih mempertimbangkan untuk membalas mereka atau tidak.
__ADS_1
Jika dia membalasnya, maka itu akan menarik perhatian banyak orang; menjadi pusat perhatian bukanlah gayanya. Tetapi jika tidak, dia akan dipandang rendah oleh lalat-lalat ini.
Apa yang harus dilakukan?
Ketika Rara masih belum membalas mereka, Susan tersenyum jahat, dan berkata, “Well, kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk orang seperti mereka. Lebih baik bagi kita untuk pergi dari sini.”
Mereka pergi dan baru beberapa langkah, Susan berbalik dan menatap Rara, “Ada pesta reuni universitas besok lusa. Aku harap kamu akan datang sehingga kita bisa bertemu lagi dan melanjutkan perdebatan ini.”
Diikuti dengan dua pengikutnya, mereka benar-benar pergi tanpa menoleh ke belakang.
Nimas yang tidak terima, memarahi Rara. “Bodoh! Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu membiarkan mereka menginjakmu? Lihat sekarang, mereka pergi dengan penuh kesombongan!”
Rara memilih untuk tidak berkomentar melainkan pergi menuju ke pegawai toko yang sedari tadi menatap mereka. Rara berkata, “Mbak, tolong perlihatkan gaun yang paling cantik di toko ini.”
Pegawai itu terkejut lalu menjawab, “Baik, silahkan ikut saya.”
Rara mengikutinya dari belakang, membiarkan pegawai toko itu memimpin jalan. Nimas juga mengekor dibelakangnya, dia masih kesal karena Rara diinjak-injak oleh lalat-lalat itu.
“Ini adalah gaun terbaik yang ada di toko kami. Desainnya sangat sederhana dan bahan yang digunakan berkualitas tinggi. Meskipun terlihat sederhana, orang yang akan memakainya akan mendapatkan keanggunan dari gaun ini.”
“Berapa harganya?”
“Rp1.600.000,-.”
Apa?
Satu juta lebih?
Nimas merasa harga itu cukup untuk membayar sewa bulanan mereka! Apa yang sebenarnya Rara pikirkan?
Apa dia akan membeli gaun itu?
Itu tidak mungkin!
“Aku akan membelinya.” Rara berucap.
Boom!
Nimas tidak bisa tidak terkejut dan tercengang. Gaun itu sangat mahal untuk pemakaian satu malam!
__ADS_1
Nimas merasa sebuah petir telah menyambarnya sehingga nyawanya melayang saat
mendengar ini.