Status Palsu

Status Palsu
21


__ADS_3

*flashback


Hafiz membuka matanya. Ia merasa sangat lelah setelah perjalanan dinas. Hatinya merasakan beban berat.


Ia kangen Rara.


"Sudah lama aku tidak tau keadaannya. Sedang apa dia"


Setelah sholat subuh, ia langsung siap-siap pergi.


"Sarapan dulu toh cah bagus" sapa mbok Asih lembut.


"Bawakan saja aku roti ini ya mbok. Aku mau sarapan di mobil saja"


Sambil menikmati segelas susu hangat, ia merasakan enaknya roti bakar butan mbok Asih.


"Aku mau nasi goreng juga deh. Bawain aku ya"


"Tumben, buat siapa sih nak?" tiba-tiba suara ibu datang dari belakangnya.


"Untuk calon mantu ibu" guyonnya sambil berlalu.


"Tolong bawain ke mobil ya mbok sayang"


Dan mbok Asih pun membawa perlengkapan yang akan dibawa Dimas pagi itu.


Ia melajukan mobilnya, tapi bukan ke arah kantor, tapi ke arah asrama kampus UB.


Masih sepi.


Jam di tangannya masih menunjukkan pukul 06.15


Ia membuka laptopnya, dan memeriksa pesan singkat WhatsApp milik Rara yang sudah Rara baca.


Apa? hari ini ulang tahun Rara?


Kenapa ia tidak memeriksanya.


Untung ia membawa oleh-oleh, sebuah kalung cantik, yang ia beli di UK.

__ADS_1


Sederhana, Rara pasti suka. Hanya itu yang ia pikirkan saat melihat kalung itu.


Ia mencoba menghubungi Rara, tapi seperti sedang menerima panggilan.


Dimas menghela nafas panjang, Ia mengendurkan dasi yang sudah ia pakai.


Harus dirayakan berdua.


Pikiran itu yang terbesit di fikirannya.


SRC, ia memilih tempat romantis itu.


Ia mencoba menghubungi kembali.


"Ya mas"


suara itu, membuat hati Hafiz bergetar. Ia turun dari mobil. Meski dingin ia merasa hangatnya perasaannya.


"Turun ya. Aku di depan."


"Depan mana?"


"Kamu buka jendela kamu"


Rara buru-buru turun dari kamarnya.


Ia juga tidak bisa memungkiri, kalau perasaannya sudah mulai tumbuh.


Ia berlari dengan semangatnya, dan langsung memeluk Hafiz.


Hafiz memeluknya kembali.


Rara menitikkan air matanya.


Ia rindu sosok lelaki yang sekarang dalam pelukannya.


Hafiz pun tidak ingin melepaskan pelukan itu.


Saat tersadar. Rara melepaskan pelukan itu pelan-pelan.

__ADS_1


Tapi, saat ia melihat wajah Hafiz, ia memeluk kembali.


"Mas jahat"


Sakit hati Hafiz saat itu. Ia membuat perempuan itu menangis.


"Maafkan mas" Hafiz membersihkan air mata yang ada di pipi Rara.


"Masuk ke mobil ya" Hafiz membukakan pintu mobil. Kemudian Hafiz membawa Rara keluar dari tempat itu, dan berjalan menuju ujung kampus, dengan pemandangan yang indah. Kabut dingin masih terasa di sana.


"Selamat ulang tahun, Ra"


Rara melirik ke Hafiz,


"Kok tau?" ucapnya.


Hafiz tersenyum


"Belum sarapan kan?"


Rara menggeleng.


Hafiz mengambil kotak makan yang dibawakan oleh mbok Asih.


"Makanlah. Ini kadonya." sambil tertawa, Hafiz membukakan kotak makan itu.


Pandangan sinis Rara mengarah ke Hafiz yang sedang tertawa.


Hafiz sengaja membawa 2 sendok.


Mereka menyantap nasi goreng itu.


"Mas.. burung itu, lucu"


"Ya, mereka sepasang. Bahagia sekali mereka. Bisa terbang bersama, hidup bersama. Suatu saat, kita akan seperti sepasang burung itu."


"Aku bukan burung" ucap Rara.


Ia tersenyum dalam hati.

__ADS_1


"Habiskan kadonya. Masih ada 2 potong roti. Kamu harus banyak makan, 1 bulan lebih tidak ketemu sama aku, kamu males makan ya? Sampai kurus begitu. Kalau rindu mbok bilang loh, Ra" Hafiz tertawa.


"Hisss. Ge er banget. Mas kan senang gak diganggu Rara" ucapnya sinis sambil menyantap potongan roti itu.


__ADS_2