Status Palsu

Status Palsu
20


__ADS_3

"Hallo, Dimas?" sapa Rara dari ponselnya.


"Maaf, mbak. Mas Dimasnya masih tidur."


"Oh ya, sampaikan saja salam ya"


"Ya mbak. Ini Dini, adiknya mas Dimas. Mas Dimas dikeroyok orang mbak, makanya dijemput pulang"


Rara kaget.


"Hah.. ya Allah.. Sampaikan ke mas Dimas, tadi mbak Rara telepon ya dik"


"Ya mbak. Terima kasih"


Seusai pembicaraan itu, Rara menjadi iba. Siapa yang tega berbuat seperti itu.


Hari menjelang semester baru sudah di depan mata. Dan kabar dari Dimas pun belum ada.


Pengirim pesan misterius pun masih terus mengirimi pesan itu.


"Win.. Kamu tau dimana rumah Dimas?"


Rara berharap Winda mengetahui rumah Dimas. Mereka melangkahkan kaki menuju kampus, setelah memarkirkan sepeda.


"Ndak.. Kenapa Ra?"

__ADS_1


"Oh, ndak papa. Sampai saat ini, Dimas gak keliatan. Padahal kan, dia yang selalu memberi kabar tentang perkembangan kampus"


"Nah.. itu.. Panjang umur itu orang. Dimas" teriak Winda.


Dimas menoleh ke arah mereka. Tapi bukan mendekat, Dimas malah berlalu. Ada apa sebenarnya? Sejuta pertanyaan ada di kepala Rara.


"Aneh" ucap Winda.


Mereka melangkahkan kaki ke ruang kelas. Biasanya Dimas mengambil bangku yang tidak jauh dari mereka. Tapi kali ini, ia duduk di paling belakang. Ada yang aneh dengan cara Dimas.


*Flashback


Seusai acara ulang tahun kampus, semua mahasiswa yang menjadi panitia pun sibuk membereskan lapangan. Tak terkecuali Dimas.


"Kalau kamu mau selamat, jangan dekati Rara lagi. Ingat itu." ucap salah 1 dari mereka. Kemudian mereka berlalu dengan sepeda motornya.


Arya menemukan Dimas yang lemas di pinggir jalan. Mereka menopang Dimas masuk ke asrama. Arya menelpon keluarga Dimas. Meminta mereka menjemput Dimas pulang.


Sejak itu, Dimas diminta kelurga untuk menjauhi Rara. Dan sejak itu, Rara dibuat kebingungan.


"Kamu nunggu siapa? Aku, Dimas, atau pacar palsu kamu?" sebuah pesan itu. Ia tidak mengacuhkan, walau rasa kesal terus menghampiri.


"Dimas, kamu kenapa? Maaf kalau aku ada salah. Tapi kamu salah satu sahabat aku. Aku gak punya siapa-siapa, selain kamu dan Winda" pesan itu dikirimkan ke Dimas.


Dimas hanya membacanya, tapi tidak ada balasan.

__ADS_1


"Oke, kalau kamu menjauh, Maaf atas semua perlakuanku ke kamu. Dan terima kasih atas semua info yang sudah kamu bagi ke aku."


Rara menitikkan air matanya.


Rara lupa bahwa setiap ketikan di ponselnya tersambung ke laptop Hafiz.


Hafiz memang sedang sangat sibuk, hingga hampir 1 bulan tidak menghampiri Rara. Ia menghadiri pertemuan di luar kota, dan sesekali harus ke luar negeri. Setiap rindu, ia selalu melihat cincin yang di simpannya.


"Happy birthday Ra"


Entah berapa banyak pesan WhatsApp itu.


Hari ini, 13 Desember, umur Rara 19 tahun.


Ia sedih, harus jauh dari orang tersayang.


"Dek. Mas Rangga transfer aja ya kadonya."


Pagi itu Rara mendapat telepon dari keluarganya. Kehebohan dan kehangatan itu menghapus air mata Rara.


"Gak.. Rara pengen ibu, ayah, dan mas ada di sini saja. Rara rindu"


"Gak bisa dek. Mas lagi sibuk. Nanti kami kesana ya kalau udah gak sibuk. Katanya mau mandiri. Atau mau pindah kuliah aja di Jakarta"


Rara menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2