Status Palsu

Status Palsu
41


__ADS_3

*flashback


Mata kuliah Statistik 2, sore itu berakhir.


"Win, anterin aku yok. Ke ruang dekan, bentar aja" ajak Rara


"Emangnya masih ada?" tanya Winda


"Siapa tau, jadi besok aku gak perlu ke kampus lagi."


"Berapa lama kamu di Jakarta?"


"Minggu depannya lagi aku pulang, acara mas ku, Minggu ini, aku kan pingin bantu ibu dan ayah. Aku ke kamar mandi bentar ya"


Winda menyetujui untuk menunggu Rara.


"Titip ponsel ya" ucap Rara sambil memberikan ponselnya.


Setelah selesai, Rara menuju ruangan dekan.


Kebetulan ketua tata usaha sedang berada di ruang dekan, dan atas petunjuk salah satu bagian tata usaha, Rara harus menemui ketua tata usaha di ruang dekan.


"Ra.." panggil Winda, tapi Rara terlihat buru-buru.


Kali ini, Winda yang pingin ke kamar mandi. Ia meninggalkan depan ruangan itu, dan menuju kamar mandi.


Di kamar mandi, ponsel Rara terus berbunyi.


Rara merasa lega, karena surat izinnya di ACC kepala TU dan dekan.

__ADS_1


"Huft.. Alhamdulillah" ucapnya lega.


Ia mencari Winda, tapi ia tidak menemukan sosok sahabatnya itu.


Ia menuruni tangga sambil melihat-lihat. Suasana itu sudah sepi. Karena waktu juga sudah teramat sore.


Ketika berjalan menuruni tangga, Ia dikagetkan oleh sosok yang tidak dikenalnya.


"Rara. Maafin gue. Please, balik sama gue"


Rara bingung, selama ini ia tidak pernah pacaran dengan siapapun, kecuali Hafiz yang dijodohkan kepadanya.


"Maaf, mungkin anda salah orang" Rara mulai ketakutan, karena gelagat laki-laki itu sudah membuat dia seperti terkurung.


"Gue yang nyelakain Dimas, gue juga yang nyelakain pacar palsu lo."


"apa? Maksudnya apa? Lu siapa?" Rara sangat penasaran, dengan laki-laki bertubuh kurus tinggi.


Laki-laki itu memegang tangan Rara dengan paksa.


"Raaa, ponsel kamu bunyi terus" teriak Winda.


Laki-laki itu menutup mulut Rara. Ia menyenderkan badan Rara sampai ke dinding. Rara memberontak, dan topi laki-laki itu terbuka.


Ada bekas jahitan kecil di pelipis matanya.


"Puas Lo buka topi gue. Ini alesan gue gak bisa deketin lu. Puas Lo!" teriak laki-laki itu.


Winda mendapati Rara yang ketakutan, dan ia melihat Rara memerintahkan agar ia menjauh. Sebenarnya Winda tidak tega melihat Rara, tapi ia harus mencari bantuan.

__ADS_1


Tapi suasana kampus itu sangat sepi. Semua sudah mulai kembali ke tempat tinggal masing-masing.


Ponsel Rara terus berdering.


"Hallo, siapa ini." tanya Winda.


"Hallo, ini ponsel milik Rara kan? Maaf mbak, Rara mana ya? Saya Hafiz mbak. Tolong bilang sama Rara, saya sudah menunggu di parkiran" ucap Hafiz.


Winda teringat, Rara pernah menceritakan siapa Hafiz. Pikiran Winda pasti ini adalah orang yang sama.


"Mas, tolong Rara." ucap Winda dengan nada takut.


"Maksudnya?" Hafiz dengan nada khawatir.


"Mas sekarang masuk ke kampus, dan cari kamar mandi cewek" ucap Winda.


"Maksudnya apa mbak?" Hafiz makin bingung.


"Cepat mas, tolongin Rara" ucap Winda lagi.


Hafiz langsung turun dari mobilnya dan berlari menuju tempat yang dimaksud Winda.


Di depan kamar mandi, Winda menunggu dengan muka cemas. Hafiz melihat hanya ada seorang perempuan dengan muka cemas.


"Mbak yang tadi mengangkat telpon saya?"


tanya Hafiz.


Winda seakan memberi aba-aba untuk diam.

__ADS_1


"stt"


__ADS_2