
Ternyata, mereka sudah sampai di pintu masuk rumah kerabat ayah.
"Selamat malam, mas Rangga. Mari silahkan masuk" ucap laki-laki tegap itu.
"Bapak sudah menunggu" ucapnya lagi.
Sampai di dalam rumah, mereka disambut ramah dengan pemilik rumah.
"Ini Rangga ya? Wah.. gagah sekali kamu"
Laki-laki separuh baya itu menepuk bahu Rangga.
"Ya om." kemudian Rangga mencium punggung tangan lelaki itu.
"Dan ini? Ayu sekali kamu nduk. Ndak salah om meminangmu dari kecil" ucapannya membuat Rara sakit hati. Tapi Rara mencoba tersenyum.
Ia juga mencium punggung tangan lelaki itu.
"Mbak.. tunjukkan kamar untuk Rangga di kamar tamu, dan cah ayu ini, sementar tinggal di kamar cah bagus yo" perintahnya.
"Istirahat dulu, sebentar lagi, setelah Maghrib, kita pergi makan malam."
__ADS_1
Rara melihat sekeliling isi kamar itu, ada yang aneh di sana. Ia merasa seperti masuk di kamarnya sendiri. Setelah merapikan peralatannya. Ia menuju kamar Rangga.
"Mas.. Rara mau cerita."
memang saat seperti inilah, inginnya Rara menceritakan kejadian apa yang menimpanya. Karena, di Jakarta, ia tidak mempunyai waktu untuk banyak bercerita.
"tentang foto cincin itu?" Rangga duduk di samping Rara.
Rara menceritakan awal ia masuk kuliah, teror, dan lelaki yang setia membantunya selama ia di Malang.
"Gapapa sih dek. Walau hanya karyawan biasa, tapi dia punya jabatan. Dan bisa membahagiakan kamu. Tapi, gimana ayah? Sebaiknya kamu menjauh darinya. Kita di rumah calon keluarga baru kamu"
Rara tertunduk. Kemudian ia menceritakan keadaan yang menimpa lelaki itu.
"Apa-apaan sih mas, gak usah. Rara bisa menghadapinya sendiri." Rara langsung berdiri.
"Sudah azan. Rara mau kembali ke kamar dulu." ucapnya kesal.
Rangga duduk melihat adik kesayangannya itu. Ia tidak menyangka, jauh dari keluarga membuat Rara kecilnya sangat mandiri menghadapi masalah. Tapi, ia juga tidak bisa diam. Ia harus melindungi adiknya itu.
Sesuai janji pemilik rumah, mereka bersiap untuk makan malam. Rara merapihkan rambutnya. Ia mencoba mengepang rambutnya. Ia lupa membawa sisi, kemudian ia mencoba mencari sisir di kamar itu.
__ADS_1
Tidak sengaja, ia menemukan kotak kecil, dan membukanya.
"Ternyata calonku juga punya kekasih. Baguslah, aku tidak bisa dijodohkan dengannya."
#Di rumah sakit.
Hafiz gelisah, ia tidak mendapatkan kabar dari Rara. Berulang kali ia mencoba mengintip ponselnya, tapi notif pesan dari Rara tidak kunjung tiba.
"Mama pulang sebentar ya. Kamu mau mama bawakan apa?" tanya Bu Arya.
"Bawakan Hafiz buku ya ma. Hanya buku yang menemani Hafiz di sini" ia berucap dengan nada sedih.
Bu Arya tersenyum dan pergi meninggalkan Hafiz sendiri.
Hafiz tidak sekuat itu untuk menahan rindunya.
"Ra, aku sendirian di kamar. Bete ya. Kalau aku di rumah, pasti aku bisa melakukan banyak pekerjaan." pesan itu dibacanya dan ia mengirimkan ke nomor Rara.
Rara membuka notif itu dan membacanya dengan sedih.
"Sabar ya mas. Semoga lekas sembuh"
__ADS_1
Sebenarnya ia tidak tega. Tapi ia harus melakukannya, daripada Hafiz terluka dengan keputusan orang tuanya. Ia harus mencoba menghindari Hafiz. Dan demi keselamatan Hafiz. Ia harus benar-benar menjauhi Hafiz.