Status Palsu

Status Palsu
37


__ADS_3

"Ra.." Hafiz menangkap tubuh Rara yang hampir terjatuh. Rara memeluk Hafiz.


"Kamu gapapa?" tanya laki-laki yang tidak dikenalnya itu.


"Hafiz?" tanyanya


"Nino?" sekarang, Hafiz yang bertanya kembali.


"Enak sekali kamu ketimpaan cewek cantik. Kalau saya jadi kamu, gak bakal menyia-nyiakan moment. Hahaha" ucap Nino


"Maksud kamu? Maaf, kali ini kamu tidak bisa mengganggunya. Dia tunanganku. Calon istriku" Hafiz meninggikan suaranya memegang tangan Rara.


"Mas" Rara merasa kesakitan. Tangan Hafiz memegangnya dengan keras.


"Nah.. dia aja merasa keberatan kamu pegang. Sudah lepaskan dia. Dia akan pulang bersamaku" Ucap Nino memegang sebelah tangan Rara.


Terjadi ketegangan di sudut ruang itu.


"Sudah.. lepaskan." Rara menghempaskan kedua tangannya dan segera berlalu dari mereka.


Rara keluar dari ruang itu. Menuju loby hotel, dan duduk seorang diri disana.


"Ra.. maaf" ucap Hafiz.


Muka Rara sangat tidak enak dilihat.


Hafiz jadi serba salah.


"Ayo, bangun. Kita pulang saja"

__ADS_1


"Mas lanjutkan saja acaranya, biar Rara pulang."


"Gak, dari pada mas di sana, mending mas dekat kamu. Kalau kamu jauh dari mas, separuh nafas mas, hilang" Hafiz sebenarnya tidak sepenuhnya untuk menggombali Rara, sebenarnya ia mengungkapkan hal yang sebenarnya, tapi Rara malah tertawa. Ia merasa lucu kalau orang seperti Hafiz berbicara seperti itu.


"Pulang aja yok" ajaknya.


"Tapi.."


Belum selesai Rara berkata,Hafiz sudah menarik tangan Rara. Sesekali Hafiz merasa kesakitan. Dan saat itulah Rara membantunya.


Hafiz mengajak Rara ke tempat makan pinggir jalan, roti bakar, jagung bakar, wedang jahe. Hanya pinggiran, tapi Rara merasa lebih tenang dan nyaman di tempat itu, dibanding dengan hotel mewah dengan makanan yang jauh bergengsi dari pada pinggiran itu.


Rara dan Hafiz meninggalkan mobil di parkiran dan masih memilih makanan yang akan mereka santap. Walau malam itu terlihat aneh dengan pakaian mereka, tapi mereka sangat menikmati malam yang indah itu.


Setelah mereka puas menikmati jajanan pinggir jalan itu, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka.


"Lihat bintang itu, cantik ya Ra"


Tapi Rara tidak memperhatikan jalan, akhirnya Rara terselandung yang mengakibatkan hal sepatunya patah.


Bukannya Rara menangis, ia malah tertawa.


"Sepatu ini bikin Rara jatuh 2 kali. Dan akhirnya dia nyerah, dan patah"


Ia melepas sebelahnya lagi, dan menjinjing sepatu itu.


Hafiz tertawa, dan mengambil sepatu yang Rara pegang.


"Kalau tidak sedang sakit, kamu pasti aku gendong. Atau gapapa aku gendong sekarang"

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Hafiz akhirnya menggendong Rara. Rara merasa kikuk.


"Turunkan mas, gak enak dilihat orang"


Tapi Hafiz tidak memperdulikan.


Mau tidak mau akhirnya, Rara melingkarkan tangannya di leher Hafiz.


Hafiz menggelengkan kepalanya.


"Turunkan mas," ucapnya lagi.


Di depan pintu mobilHafiz menurunkan Rara.


"Tunggu sebentar"


Hafiz membuka bagasi belakang, dan mengambil sepasang sandal jepit yang sengaja ia letakkan disana.


Hafiz mengangkat sebelah kaki Rara, membersihkannya, dan memakaikan sandal. Begitu juga kaki sebelahnya.


Rara merasa seperti tuan putri, ia merasakan perasaan yang aneh di hatinya. Seandainya matahari masih terlihat, alangkah malunya ia, pasti mukanya memerah.


"Selesai" ucap Hafiz, yang mencoba bangun dari tempatnya jongkok. Tapi raut mukanya menahan sesuatu.


"Kenapa mas?" tanya Rara.


"Gapapa," tapi ia merasa sakit di punggungnya, dan duduk di aspal.


"Kan Rara udah bilang, gak usah digendong"

__ADS_1


Rara duduk jongkok di sebelah Rara.


__ADS_2