Status Palsu

Status Palsu
38


__ADS_3

Hafiz merangkul Rara, sambil tertawa.


"Terima kasih ya Ra" sambil memegang tangan Rara.


"Ra, bolehkah mas meminta sesuatu?" tanya Hafiz, belum lagi Rara menjawab, jantungnya berdegup sangat kencang. Rara hanya mengangguk.


"Ra, mas mau, hubungan kita bukan sebagai status palsu. Selama ini mas tersiksa dengan status itu. Mas susah untuk jatuh cinta. Semua orang mungkin tau, sifat mas yang susah untuk menentukan pilihan pendamping hidup. Tapi.." Hafiz menatap Rara


"Sejak mas ketemu Rara, mas gak bisa memungkiri, kalau hati mas, sudah Rara ambil." lanjutnya.


"Haaa" Rara membelongo.


"Ya, mas sudah jatuh cinta sama Rara. Mas gak pernah tau kalau kita sudah ditakdirkan bersama, bahkan sudah dijodohkan dari kecil. Tapi, mas gak mau kalau cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan. Izinkan mas untuk menjaga Rara. Dan nantinya mas ingin membangun rumah tangga dengan Rara. Bersediakah Rara untuk membangun hubungan yang indah bersamaku?"


Hafiz sekarang sudah berpindah di depan Rara, dengan muka serius.


Rara makin bingung. Dan memandang muka Hafiz yang terang di malam itu, dengan poni yang sesekali menutupi mukanya, lesung pipi yang dalam ketika dia tersenyum.


Tangan Rara masih ada di genggaman Hafiz.


Rara tersenyum dan mengangguk kecil. Ia malu untuk mengungkapkan, sebenarnya ia juga sudah terpikat dengan pesona Hafiz.


"Yeaaaayyyy" teriak Hafiz, sehingga orang-orang yang lewat memandangi mereka.


Rara menepuk tangan Hafiz.


"Maaaass" ucapnya sambil memberi isyarat supaya Hafiz menghentikan teriakannya. Rara melirik ke kiri dan ke kanan, dan ia menutup mukanya yang tersenyum.

__ADS_1


"Mas mau bilang ke mama dan papa, agar segera melamar Rara" ucapnya.


"Apa-apaan mas.. Rara masih kuliah. Lagian mas Rangga akan menikah." ucap Rara.


"Ya gapapa, kan masih bisa meneruskan kuliah. Kita juga butuh persiapan. Tahun depan kita bisa menikah. Mau ya?"


Hafiz seperti anak kecil yang minta belikan mainan. Dan harus segera. Rara tertawa. Ia kembali mengangguk.


"Sudah, kita pulang yuk. Anterin Rara pulang"


ucap Rara.


Bukannya Hafiz bangun dari duduknya, ia merebahkan badannya dipangkuan Rara.


Rara terkejut. Hafiz meletakkan tangan Rara di matanya.


"Bangun mas, sakit badannya" ucap Rara


"Mas masih mau di sini. Sebentar lagi ya."


Mereka menikmati bintang yang terang malam itu. Suasana Malang di malam hari. Dingin. Tapi mereka merasakan kehangatan pasangan yang baru menyatakan perasaan masing-masing.


Sesekali, Rara minum air mineralnya.


"Mas, pulang yok. Dingin"


Hafiz bangun dari tempat itu.

__ADS_1


"Oh, iya.. Yuk.. Maaf ya Ra"


Hafiz membukakan pintu mobil Rara, dan setelah Rara duduk, ia kembali ke tempat duduknya. Mereka meninggalkan tempat bersejarah bagi mereka.


Ponsel Rara berdering. Mas Rangga tertera di ponselnya.


"Mas Rangga." ucapnya.


"Angkat" Hafiz memintanya.


"Ibuuuuu.."


"Kamu dimana, sayang?"


"Mau pulang, Bu"


"Sama siapa, nak?"


Rara memperlihatkan Hafiz yang sedang menyetir.


Ibu tampak bingung, dan melihat Rangga.


"Hai, piz.. Kenapa keluar malam-malam. Bukannya masih belum fit. Bu, ini Opiz, anaknya om Arya" ucapnya pada ibu.


"Assalamualaikum, Bu." sapa Hafiz.


"Wa'alaikumusalam, wah kamu sudah besar ya. Sudah sana nyetir dulu, nanti ada apa-apa. Ra.. Kamu jangan merepotkan. Kasian nak Opiz, belom sehat"

__ADS_1


"Tuh kan, Rara yang disalahin. Mas Hafiz yang ada acara, dan minta Rara temani, Bu. Nanti sampai asrama, Rara telepon lagi ya Bu."


"Oke.. Hati-hati ya nak Opiz"


__ADS_2