
"Ini sepertinya, sepertinya.." Rara mulai merasakan ketakutan.
"Berarti memang ia pernah 1 sekolah sama Rara. Rara yakin gak kenal?"
"Gak mas, waktu SMA, Rara memang tertutup mas, jarang bergaul."
"Tapi Rara pasti banyak yang naksir kan. Fans nya bertaburan" Hafiz tertawa.
"Tapi, Rara gak pernah dekat dengan laki-laki, mas"
Hafiz tersenyum, dan melirik perempuan yang dijodohkan untuknya.
"Ya udah, beres semua. Mandi gih. Rara keluar ya" tanpa jawaban balasan, Rara keluar dari kamar itu.
"Bu, nanti Rara mau ketemu Salsa sebentar ya." Rara membuka pembicaraan ketika mereka berada di meja makan.
"Sama siapa?"
"Sendiri aja Bu, bentaran doang kok. Rara bawa motor aja." jelas Rara
"Biar Opiz yang anter ya Bu.. Nanti ada apa-apa di jalan" Hafiz mengajukan diri.
"Nah.. iya dek. Dianter sama Opiz aja. Mas juga gak kasih kamu sendirian" bela Rangga.
Hafiz tersenyum.
"Nak Opiz, ibu titip Rara ya."
"Ya Bu." jawab Hafiz
"Ayo, mas. Rara janjian jam 7" Rara menarik tangan Opiz.
__ADS_1
Mereka menikmati malam Minggu berdua di kota Jakarta.
"Mas gak dingin?" tanya Rara.
Hafiz menggeleng.
"Simpang di depan, belok kiri ya mas"
"Iya nyonya Hafiz"
Rara menepuk punggung Hafiz.
"Gak mau?" tanya Hafiz.
"Apa sih mas."
"Mau gak?"
"Mau gak?"
"Ya", jawab Rara pelan berbisik
"Apa?" teriak Hafiz
"Iya mas, iya.. aku mau" teriak Rara lagi, muka Rara menjadi hangat.
Rara dan Hafiz menuju rumah makan siap saji. Tak lama mereka menunggu, Salsa datang menghampiri Rara.
Mereka bercerita panjang, sampai akhirnya,
"Sa, lu tau gak siapa ini?" tanya Rara, menunjukkan Poto yang sengaja diambil oleh Rara tadi.
__ADS_1
"Ih, ini si Ali. Dia anak IPS 11." jawab Salsa ketika melihat Poto itu.
"Kenapa?" lanjutnya
"Gw gak tau sama dia. Jadi gini.." Rara menceritakan kejadian yang menimpanya.
"What... Segitunya. Tapi emang gue pernah denger, doi naksir berat sama lu. Tapi gue gak tau kalo dia senekat itu. Tapi, gue pernah liat bokapnya ngobrol sama bokap lu, Ra, waktu jemput lu. Coba tanya bokap lu, deh Ra. Saran gue, lu ceritain semua ke bokap lu. Serem loh, soalnya doi udah main fisik. Lu juga sendiri di sana, kalo lu diapa-apain gimana? Orang nekat seperti itu, harus dihindari Ra. Bagaimanapun lu harus ngomong. Gue gak bisa bantu lu lebih." Salsa berucap panjang lebar.
"Gue gak berani, Sa. Nanti gue disuruh balik sekolah ke Jakarta. Percuma dong gue kuliah di Malang." ucap Rara sedih.
"Apa yang buat lu gak berani?" tanya Salsa
"Tapi harus, Ra. Gue tau alesan lu gak bilang sama bokap lu. Karena ini kan" Salsa menunjuk ke Hafiz.
"Oh iya, kenalin ini." ucap Rara
"Pacar Rara ya?" tanya Salsa.
Hafiz tersenyum.
"Tunggu kabar baiknya aja ya, doain ya" Rara tersenyum.
Setelah mendapat info itu, mereka berpisah.
"Ra, berarti, kita cari info ke ayah." Hafiz memulai pembicaraan.
"Tapi, Rara takut mas." Rara hanya bersuara pelan
"Kita bicarakan nanti setelah selesai acara Rangga. Sudah. Gak usah dipikirin. Kita cari solusi sama-sama. Bismillah, pasti ada jalan" ucap Hafiz menenangkan Rara sambil berjalan ke arah parkiran motor.
"Ra.. buruan pulang, ayah nungguin" Rangga menelpon Rara meminta untuk mereka lekas pulang.
__ADS_1