
Ponsel Hafiz berdering.
"Tolong lihat, Ra" pinta Hafiz.
"Mama, mas." ucap Rara
"Angkat, dan loud speaker, ya" pintanya lagi
"Ya ma.."
"Kamu dimana?" tanya Bu Arya.
"Udah jalan pulang, ini sama Rara. Raranya mau Opiz bawa pulang ke rumah kita aja ya ma" jawab Hafiz.
"Gak gak gak." ucap Rara.
"Udah Ra, pulang ke rumah aja, Gak usah pulang ke asrama. Jalan ke asrama, kan gelap." ucap mama meyakinkan.
"Nanti mama minta mbok Asih menyiapkan kamar buat Rara. Piz, hati-hati bawa mobilnya. Sampai ketemu di rumah."
Rara bingung.
"Besok, Rara ada mata kuliah pagi." ucapnya.
"Besok jam 6 pagi, mas antar pulang. Telepon ibu asrama, ya"
Entah apa yang terjadi pada Rara,seolah dia tersihir oleh perkatan Hafiz,dan segera mengabari ibu asrama.
__ADS_1
Diperjalanan, Hafiz menggenggam tangan Rara.
"Kalau mas tau bakal dijodohkan dengan Rara, mas gak akan pernah kabur."
"Maksud, mas?" tanya Rara.
"Rara tau, kalau kita sudah lama dijodohkan?" Hafiz balik bertanya.
Rara menggelengkan kepalanya.
"2 tahun lalu, papa mengatakan bahwa ia telah menemukan jodoh untukku. Dan mas menolak mentah-mentah. Mas bahkan sengaja kabur ke Malaysia selama 2 bulan kemarin. Pertemuan kita di toko buku itu, adalah saat dimana mas baru kembali ke Indonesia. Itupun karena mama bilang kalau mama sakit. Mas menyesal pernah kabur. Mas merasa bersalah kepada mama. Dan ternyata, orang yang dijodohkan dengan mas, itu ternyata Rara." jelasnya.
Rara hanya diam dan tersenyum.
"Terima kasih ya Allah, mas dipertemukan denganmu. Mas janji akan menjaga dan membahagiakan Rara." Genggaman itu makin kuat.
Hafiz membunyikan klakson mobilnya, dan seorang membukakan pintu gerbang rumahnya. Hafiz memarkirkan mobilnya di garasi. Mereka turun dari mobil, sambil bergandengan tangan.
Mereka terkejut, Bu Arya mendekati mereka.
"Wah.. ada yang bahagia ini. Masuk yok. Udah malam. Besok Rara kuliah kan?" tanyanya.
"Ya ma" Rara menundukkan kepalanya. Ia malu.
"Naiklah, istirahatlah." perintah Bu Arya sambil tersenyum bahagia melihat Rara dan Hafiz.
Hafiz membukakan pintu kamar tamu rumah hafiz, yang letaknya bersebelahan dengan kamar pribadi Hafiz.
__ADS_1
"Masuklah. Besok mas antar pulang pagi ya" ucapnya dengan lesung pipinya.
Rara tersenyum, "Lepasin dulu tangannya, gimana Rara mau masuk."
Hafiz tertawa, tapi bukan alih-alih melepaskan, ia menarik tubuh Rara kedalam pelukannya.
"Terima kasih," ucapnya sambil memeluk Rara, dan akhirnya melepaskan pelukan itu.
Dada Rara seketika ingin pecah karena sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dan rasakan terjadi bertubi-tubi malam itu.
"Selamat malam, sayang" ucap Hafiz, dan akhirnya menutup pintu kamar itu
Rara bersandar di balik pintu, dengan memegang dadanya. Ia tidak bisa berkata-kata. Kadang ia tersenyum. Ia ke kamar mandi hendak mencuci mukanya. ponselnya bergetar.
"Sayang, kamu mau tidur dengan gaun itu?" tanya hafiz.
"Rara kan gak bawa baju." jawab Rara.
"Aku antarkan bajuku ya. Walau pasti kebesaran, tapi lebih nyaman dari pada kamu harus tidur dengan gaun itu. Buka pintunya."
ucap Hafiz.
Rara yang sudah mengikat rambutnya ke atas, karena hendak mencuci muka, terpaksa harus membuka pintunya lagi.
"Pakailah" ucap hafiz di depan pintu.
Rara tersenyum kembali. Dan ia segera menutup pintunya lagi, karena ia takut akan kejadian tadi terulang lagi.
__ADS_1