
Rara menjadi perawat pribadi dadakan untuk Hafiz. Tapi dia ikhlas melakukan semua.
"Selamat pagi, mbak. Ini sarapan pasiennya"
ucap bagian gizi mengantarkan sarapan.
Rara mengahampiri dan mengambil makanan itu.
"Saatnya makan. Aku suap ya."
"Mas bisa kok"
"Ya udah kalau mas bisa, Rara pulang."
Rara beranjak dari kursinya.
Hafiz menarik tangan Rara.
"Aaaa" Hafiz membuka mulutnya.
Rara tertawa sinis.
"Terima kasih, Ra." ucap Hafiz di sela makannya.
"Untuk.." Rara menyuapi Hafiz lagi, sesekali ia membersihkan sisa makanan yang menempel di bibir hafiz dengan tidur basah.
"Untuk merawatku" Hafiz tersedak. Rara buru-buru mengambil air minum untuk Hafiz.
"Makanya jangan ngobrol dulu kalau lagi makan."
Mereka tidak menyadari, kehadiran mbok Asih dan Bu Arya yang melihat kelakuan mereka.
Ketika Rara membalikkan badan,
"Ma.." Rara menuju Bu Arya, dan mencium punggung tangan beliau.
__ADS_1
"Terima kasih ya Ra. Kamu sudah merawat putra mama"
"Tidak ma, ini semua salah Rara"
Rara mengajak Bu Arya mendekati putra semata wayangnya itu.
"Bagaimana kondisimu, nak?" tanya Bu Arya.
"Seperti yang mama lihat, aku sudah lebih baik, berkat perawat bawel yang ada di samping mama"
Rara memasang muka sungutnya.
Hafiz tertawa.
"Ma, Rara pamit pulang dulu ya."
"Diantar pulang ma. Jangan sampai dia pulang sendiri." ucap Hafiz dengan cemas.
"Biar Rara pulang naik ojek saja, ma" Rara melihat ke arah mama, sambil menyandang tasnya.
"Maas" Rara buru-buru ke arah Hafiz
"Jangan bandel deh. Kan semalem dokter udah bilang, gak boleh banyak gerak." muka Rara berubah sangat panik.
Bu Arya mendekati Hafiz.
"Ma, bilang supir antarkan Rara sampai asrama. Bilang juga, tunggu sampai Rara masuk ke dalam asrama." Hafiz memohon kepada mamanya.
Bu Arya menepuk pelan tangan Hafiz, seolah menenangkan anaknya itu.
"Rara pulang ya mas. Telepon Rara kalau ada apa-apa, oke" Rara mencium punggung tangan lelaki muda itu.
Setelah Rara pulang, Bu Arya mendekati anaknya.
"Apa yang kamu cemaskan?" tanyanya.
__ADS_1
"hm. gak ma. Cuma takut saja, Rara tidak punya keluarga di sini. Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padanya" Hafiz masih menutupi perihal perasaannya untuk Rara. Tapi, perempuan yang melahirkannya itu tidaklah mudah percaya dengan omongan anaknya. Ia menangkap mata lain ketika Hafiz menceritakan tentang Rara.
Sopir pribadi Bu Arya mengantar Rara sampai ke depan pintu asramanya.
"Terima kasih, pak" Rara menundukkan tubuhnya.
Ia menaiki tangga menuju kamarnya.
Matanya sangat mengantuk.
Tubuhnya lelah, dan ingin sekali ia tidur di kasur kesayangannya itu.
Ketika ia hendak mengunci pintu kamarnya, sebuah pesan singkat WhatsApp datang.
"Kamu, udah di kamar?"
Itu Hafiz, ia selalu begitu. Rara hendak membersihkan tubuhnya sebelum ia memejamkan matanya.
Ponselnya kembali berdering.
"Hish.. kenapa gak sabaran sih jadi orang."
Ia keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dipakainya.
Ponsel terus berbunyi.
Ia tidak melihat nomornya dan langsung menjawab panggilan itu.
"Ya mas, aku di kamar, dan habis mandi. Maaf telat bales pesannya." ucap Rara kesal.
"Bagus. Akhirnya kamu pulang juga. Sudah aku bilang, aku gak suka kamu dekat-dekat dengan pacar palsumu."
Rara kaget, dan melihat ponselnya. Bodohnya ia, tidak memeriksa ponselnya, malah bicara yang membuat dia takut.
"Kamu. Apa maumu." teriak Rara.
__ADS_1
"Aku mau kamu menarik omongan kamu"